Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Rabu, 25 September 2013

Sesuatu Tak Berwujud itu Bernama. .


Bab ini sebenarnya sangat tabu untuk dibicarakan di buku penting kayak gini. Tapi, saya nggak punya pilihan lain. Masalahnya, pelaku-pelaku yang suka sembarangan membuang 'sesuatu yang tak berwujud' itu emang harus diangkat ke media! Jadi, di bab ini saya blak-blakan aja deh ya. Ini salah satu kelakuan Trio Kwek-Kwek KKN kami. Buat yang mau meneruskan membaca (disarankan yang 17 taun ke atas), silakan. Bagi yang nggak kuat, silakan lambaikan tangan ke kamera. Check it out, mau cerita tentang apa sih saya sebenarnya?
Ini dia. .
Apa saya bilang! Prediksi saya tentang kentut, bener kan. Kalo masalah yang satu ini, cowok pasti bakal pasang muka tebel. Bagi mereka, kentut adalah hal yang wajar. Nggak kentut maka nggak sehat. Iya juga sih, tapi kan sebagai manusia perguruan tinggi (biar agak intelek), mbok ya jangan  kentut sembarangan. Di negara ini, cukup sampah yang dibuang sembarangan. Nggak usah kentut pake dibawa-bawa segala! Tapi emang dasar cowok, kalo ditegur tentang ini bukannya malah ngerti, malah menjadi-jadi. Kalo nggak pada percaya, saya mau ngutip perkataan kormasit (Kormasit adalah semacam makhluk yang bertugas sebagai koordinator para mahasiswa KKN di tingkat sub unit. Dan di sub unit saonek, makhluk itu adalah Taufiq),” Di koramil, kalo udah malem dikiiiit aja, bakalan terdengar suara-suara aneh dari dalam koramil (karena tata bahasa nya yang baik, jadi biar saya aja yang memperjelas apa yang ia maksud dengan suara-suara aneh itu;: ngorok, KENTUT, ngigo dan temen-temennya). Itu hampir selalu terdengar kalo saya lagi pulang malem sehabis dari silaturahmi ke Pak Sek Des ato karena tuntutan pekerjaan sebagai kormasit”.
Pelakunya tentu aja Trio Kwek-kwek. Kalo nggak Imron, Mamer, ya Hardi. Kalo ditegur, malah makin menjadi. Malah mereka jadi punya gaya baru kalo mau kentut. Yaitu, kalo mau kentut, siul dulu. Pernah nih, saya lagi asik-asik baca buku di halaman belakang rumah. Trus ada Mamer keluar dari kamar mandi. Sebelum masuk rumah, di ambang pintu sempet-sempetnya manggil saya.
“Aiy!”
“Apa?”, refleks, saya noleh.
Dia tersenyum ke saya (ini termasuk gelagat mencurigakan).
“Aku mau siul. Fyuwwww...”
BROTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!
“Aaaaakkk! Mameeeeerrrrr jorooooookkkk!!!!!!!!!!!”, saya langsung pergi tanpa perlu mengidentifikasi tingkat kebauannya. Jorok banget sih tu anak!
 Suatu hari, kita lagi bikin lomba membuat poster. Pesertanya, anak-anak SD kelas 4, 5 dan 6. Lomba ini diadakan di ruang KKG (semacam ruang kesenian dan olah raga). Di dalamnya ada enam meja-meja panjang yang bisa digunakan untuk kerja kelompok. Jadi,sistem lombanya adalah membagi satu kelas menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok bekerja di satu meja. Setelah kertas manila ukuran A3 dan spidol serta alap-alat warna dibagikan, masing-masing kelompok diberi waktu 60 menit untuk membuat sebuah poster yang bertema lingkungan. Ada yang tentang melestarikan terumbu karang, ajakan menanam mangrove, menjaga kebersihan sekolah, dan sebagainya. Sementara anak-anak sibuk membuat poster, kami juga jadi ingin ikutan. Maklum, waktu SD nggak pernah kedatangan kakak-kakak KKN yang kreatif kayak gini dan ngajakin nggambar poster sih. Hehe.
“Ndah, kertasnya masih sisa nggak?”, tanya Saya ke Indah yang lagi duduk di atas meja guru (mentang-mentang nggak ada guru nya).
“Masih kok,masih sisa satu nih”,jawabnya.
“Kita bikin poster juga yuk! Aku punya ide!”,ajakku sambil tersenyum lebar penuh arti.
“Ayok! Ayok!”, Indah antusias banget sama ajakan saya. Agaknya dia juga setuju tentang masa SD yang kurang bahagia karena nggak pernah kedatangan kakak-kakak KKN yang ngadain acara bikin poster.
“Kita nggambar apa ya....”, indah berpikir keras.
“Kita harus bakal bikin sebuah poster yang keren! Ini tentang lingkungan juga, Ndah! “, kataku serius, sambil mulai membuat garis tepi dengan spidol.
“Emang kita mau bikin poster apa e?”, tanya Indah.
“Oke! Jadi, kita akan membuat poster DILARANG KENTUT SEMBARANGAN. Dan poster ini akan kita pajang di RUANG TAMU di koramil!”, sementara ini Indah melongo, saya lanjut menjabarkan konsep desain gambar yang akan direalisasikan.
“Jadi, aku mau bikin plankton di sini, trus dia lagi kentut. Harus ada tulisannya ‘BROTTTTTTT’, lalu di belakangnya ada spongebob sama patrick. Spongbob lagi lari tunggang langgang, patrick kesembur, kedorong kentutnya plankton. Trus kita tulisin untuk kalimat posternya ‘DILARANG KENTUT SEMBARANGAN!’ ”, jelasku.
Indah tertawa terpingkal-pingkal sambil manggut-manggut, “Setuju mbak! Setuju! Trus gambar stik PES juga mbak. Mereka kan suka mai PES!”, kata Indah. Giliran saya yang melongo, tapi beberapa detik kemudian saya ikut tertawa devil.
“Baiklah! Let’s do it!!”, saya dan indah langsung mengambil spidol. Indah menggambar plankton sedangkan saya menggambar spongebob dan patrick. Anak-anak asik sendiri, kita juga dong! Haha. Saya dan Indah semakin menggebu berkreasi. Mendadak jadi muncul sungut invisible di atas kepala kami, nggambarnya jadi kayak orang kesetanan. Sesekali berhenti menggambar karena tidak sanggup menahan tawa.
Beberapa anak mendekat, mungkin tertarik dengan aktivitas ‘kesetanan’ kami. “Wah! Gambar Kak Aini bagusss!!”, teriak Fitri, salah satu murid kelas enam.
“Taradaa! Gambar kak indah lebih bagus! “, sanggah Usman.
“Kakak! Kakak! Yang gambar spongebob siapa kah? Bagus ne?”
“hahahahaha gambar kentut! Dambar dilarang kentut! Hahaha”
Mendadak kelas jadi riuh. Ini yang ngadain lomba siapa, yang bikin kacau juga siapa. Hahaha. Sementara Saya meneruskan gambar, Indah kembali mengkondisikan perlombaan. Anak-anak yang tadinya menghampiri kami, satu persatu mulai tertib kembali ke kelompok masing-masing.
“Wah...nggak bilang-bilang nih pada nggambar! Ikutan dong!”, tiba-tiba sebuah suara testosteron memecah suasana. Imron!
“Apaan nih? D-i-l-a-r-a-n-g k-e-n-t-u-t. Hah? Dilarang kentut? Hahahahahahah!”
“Iya! Buat dipasang di koramil nih! Biar semua yang pada dateng ke koramil pada tau kalo kalian suka kentut sembarangan!”, kata saya berapi-api.
“Wah! Pelanggaran nih, pelanggaran! Ahahaha. Sini gue bantuin! “, dia langsung ambil krayon, malah mbantuin kita ngewarnain dengan sigap. Saya malah bingung. Indah udah ada di samping saya dan dia juga ikutan bengong.
“Eh Ndah, bukannya kita lagi nggambar tentang dia yak? Kenapa dia malah semangat banget mbantuin kita nggambar?”,bisik saya ke Indah.
“Ho oh Mbak, nggak tau tuh. Hahahahaha yowes Mbak, lanjut aja!! hahahahaha!”, jawab Indah. Akhirnya kita bertiga menyelesaikan poster itu, kali ini dengan pelaku yang malah juga ikut mbantuin. Malah dia nambahin ‘semburan’ kentut nya dengan jilatan api-api yang membara. Hyaksss! Setelah lomba berakhir mungkin wajar kalo  kita foto bareng dengan anak-anak beserta poster karya mereka. Yang konyol kalo kita malah juga foto bareng dengan poster DILARANG KENTUT SEMBARANGAN yang kami bikin. Dan itulah yang terjadi! Hahaha!
Esoknya, beneran itu poster ditempel di ruangan koramil. Sama Mas Taufiq malah dibingkai pakai kayu trus dipajang di atas ruang makan, di atas meja makan! Ugh.. +____+

2 komentar: