Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Selasa, 17 September 2013

Dia Tetap Bilang, Aku Bidadari


Mampukah aku menjelma menjadi bidadari seperti yang diimpikannya? Yang cukup dengan kehadiranku, tak perlu merasa ingin mendapatkan istana sebab ia telah bersama seorang ratu yaitu aku. Yang tidak merasa perlu ada fasilitas mewah dan segala hotel berbintang sebab aku selalu menyertakan cintaku di atas apapun yang kulakukan untuknya, walaupun seandainya yang bisa kuberikan hanyalah cinta di atas sebuah tempe goreng. Yang tanpa perlu menghadirkan kereta kencana, ia merasa cukup sebab aku adalah bidadarinya.
Aku tau ia mencintaiku.

Teramat. Bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padanya. Dan bila terluka hatiku, luka di hatinya bisa jauh lebih menganga. Tapi tetap saja. Walaupun aku tahu jelas hal itu, kenapa masih saja aku sering membiarkannya tahu setiap kali ia tidak sengaja membuatku terluka. Dan aku juga tau ia selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku seperti apapun keadaannya. Tapi kenapa masih saja aku selalu membuatnya merasa menjadi buruk di segala hal terhadapku.

Ya. Dia bilang, aku bidadari.

Tetap bilang bahwa aku bidadari, bahkan setelah semua yang kukatakan padanya tentang semua kekecewaanku. Kata-kata singkat hasil dari emosi sesaat dan keegoisan yang menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuannya di saat dia jauh dari pandanganku.

Tetap bilang bahwa aku bidadari, bahkan selagi aku ngambek karena sesuatu hal kecil yang seharusnya bisa jadi bukanlah persoalan yang rumit.

Entah masih pantaskah aku disebut bidadari. Kurasa,belum. Belum, sebab sikap yang kutunjukkan selama ini bukanlah tentang ngambek saja lalu menjadi diam. Bukan tentang setelah membuatnya merasa buruk lalu aku menjauh dan hanya bisa menyimpan rasa bersalah. Sungguh bukan tentang itu. Sebenarnya dalam benakku, setelah ngambek dan jadi diam, ada kalanya aku ingin meluapkan rasa bersalahku dengan memeluknya. Tanpa bicara, kuingin mampu tunjukkan bahwa sesungguhnya aku menyayanginya. Menyampaikan kegundahan dan kekecewaanku tanpa aksara, sebab dengan bicara ternyata aku hanya bisa memperburuk keadaan.

Sekarang ini aku hanya mampu menyakiti, tanpa bisa membenahi. Aku hanya selalu menerima maafnya, tetapi tidak pernah meminta maaf. Aku hanya mampu menulis di atas kertas betapa bahagianya aku ketika dia berkata bahwa ia mencintaiku tanpa bisa membalas pernyataannya itu. Seandainya bisa pun, setelah aku berkata bahwa aku juga mencintainya maka ada sisi hatiku yang teriris dan seolah berbisik,’kau telah menodai dirimu sendiri’. Beribu maaf ingin kulayangkan padanya, ketika aku membiarkannya terkurung dalam kesedihan karenaku. Tapi maaf, sekarang aku belumlah bidadarimu. Aku hanyalah gadis kecil, yang tukang ngambek, pembuat masalah sepele menjadi persoalan rumit, mudah kecewa, sensitif, egois, tanpa bisa membenahi hatinya setelah menumpahkan semua kepadanya.

Sekarang biarkan aku memberi pertanyaan.

Bisakah sejenak ia melupakanku? Bisakah sejenak ia meninggalkanku? Membiarkanku menjadi kupu-kupu di saat yang tepat. Sungguh tak bisa aku menjadi bidadari sebelum saatnya. Sama seperti ulat yang tak kan bisa menjadi kupu-kupu cantik walaupun kau robek paksa ia keluar dari kepompongnya.
Tapi, disisi lain, baliklah pertanyaannya. Menjadi retorika untuk diriku sendiri.
Bisakah sejenak aku melupakannya? Bisakah sejenak aku meninggalkannya? Membiarkan aku sendiri. Menafikan bahwa sesungguhnya dia memang sudah terlanjur ada di hatiku. Berpura-pura tidak merindukannya.

Mau tau jawabannya?
Yang jujur atau yang bohong?
Yang jujur?
Jangan deh. Itu hanya akan memperjelas semuanya
Yang bohong saja?
Oke. Sebab kurasa itu akan membuatku semua yang kurasa tidaklah nyata.
Jadi, jawaban bohongnya adalah, .
Aku bisa melupakannya. Aku bisa tanpanya. Aku bisa sendiri dan merasa baik-baik saja. Haha, dan yang benar saja! Dia memang sudah ada dalam hatiku tapi sepertinya aku bisa memendamnya dulu dan tidak menunggu juga mencarinya jika dia tidak ada. Aku bisa meredam rinduku padanya hingga tiba saatnya nanti aku menjadi seorang bidadari yang sesungguhnya.

Jadi bagaimana? Sudah lihat kah perasaan seorang gadis kecil yang merana karena mencintai sebelum waktunya? Seperti ulat yang sudah dianggap menjadi kupu-kupu. Ini salah,bukan? Memang sepertinya sudah salah dari awal.

Tapi selalu, dalam kisah cinta tidak ada yang salah. Hanya di saat yang belum tepatlah semua jadi serba salah. Pada saat itu, mencintainya menjadi sebuah kesalahan. Tidak mencintainya pun, suatu kesalahan sebab aku tidak bisa menafikan hatiku sendiri bahwa aku mencintainya. Kau tau? Akan terasa sakit bila mengingkarinya. Itu masalah hati.

Dongeng klasik memang selalu memberikan ‘happily ever after’. Dan memang benar, kebahagiaan itu adalah mencintai seseorang di waktu yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar