Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Selasa, 04 Desember 2012

Hakikat Manusia


Saya membaca tentang hakikat manusia yang diulas dalam sebuah buku yang berjudul Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah yang ditulis oleh  Jasiman,Lc.

Dari beberapa hakikat manusia yang disebutkannya, saya tertarik dengan salah satunya yaitu hakikat manusia sebagai Mukhayyar. Mukhayyar diambil dari kata Khiyar yang artinya memilih. Jadi, Mukhayyar artinya hakikat manusia adalah sebagai pemlih, memiliki kemampuan sekaligus kebebasan untuk memilih. Allah memang memberikan keistimewaan pada manusia berupa akal dan hati. Manusis menjadi makhluk pilihan hingga ia bebas memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Akal dan kebebasan ini sebenarnya adalah ujian. 

Bila ia menggunakan akal dan hatinya dengan baik maka ia akan beriman kepada Allah.
Hakikat manusia sebagai mukhayyar. Pun ketika ia sedang jatuh cinta. Cinta kepada yang lain harus dalam kerangka cintaNya. Untuk setiap hamba yang beriman, ini adalah harga mutlak. Tak bisa ditawar. Tak apa. Saya tau itu sulit, namun menjadikannya mudah atau sulit adalah pilihan. Jika mengingat bahwa memang hidup di dunia adalah tempatnya kita diuji, seharusnya setiap hal yang terjadi akan menjadi mudah, lawanlah dan hadapilah dengan sebuah ketaatan. Balasan dari setiap ketaatan adalah syurga.


Hidup di dunia, syurgalah yang sebenarnya kita cari.
Bukan harta, bukan pasangan hidup ataupu jodoh (eh,sama aja ya? -___-)
Jadi, tau kan apa yang harus kau lakukan ketika seseorang mencintaimu dan kau pun mencintainya?

Itu sebuah ujian hidup jika memang belum saatnya kita mencintai.
Jangan sampai terjerumus. Ah, andaikan saya sekarang sedang bisa untuk shalat, saya akan shalat dan membaca Al-Quran agar selalu bisa mengingatNya ketika saya mengingat makhluknya yang lain. Saya rindu masjid, saya ingin shalat berjamaah di sana. . . Tapi sedang tidak bisa. Jadi, saya memilih untuk membaca-baca buku yang bisa mengisi hati saya dengan lebih baik daripada saya mengisinya dengan hal-hal lain.


Ya Allah, jadikan Al- Quran sebagai pelipur gundah gulana kami, menjadi musim semi di hati kami.

jiwa manusia

Yang paling unik pada manusia adalah jiwanya. Sebab, baik dan buruknya jasad sangat bergantung padanya. Celakanya, jiwa berada di luar kendali manusia hingga seringkali tidak disadari sedang dalam keadaan seperti apakah jiwanya itu. Sekiranya ia dalam kendalinya tentu ia selalu dalam kondisi yang diinginkan. 
Allah telah mengilhamkan kepada jiwa manusia itu fujuurohaa wa taqwaaha (keburukan/dosa dan kebaikan/taqwa). Hal itu seperti disebutkan dalam surat Al-Lail. Oleh karena itu, keberuntungan manusia sangat tergantung pada kepandaiannya dalam mengelola jiwanya supaya potensi takwa lebih dominan daripada potensi fujur (dosa). Konflik di antara keduanya tidak akan pernah berhenti. Dilihat dari dominan ruh dan nafsu, jiwa manusia dapat dikategorikan menjadi tiga karakter yang sekaligus juga menunjukkan tingkatannya:
1.      Apabila nafsu lebih dominan daripada ruh. Yang menguasai jiwanya adalah keinginan untuk memenuhi selera kesenangan dunia (syahwat). Kondisi jiwa yang demikian akan selalu menyuruh untuk melakukan hal-hal buruk. Jiwa demikian berada pada tingkat paling rendah. Apabila tidak segera diobati, kecenderungannyya akan semakin menjadi dan akibatnya akan menjerumusan pemiliknya ke lembah hina.

2.      Apabila pengaruh kekuatan antara ruh dan nafsu seimbang. Maka logika akan banyak bicara. Akan terjadi konflik dan pergolakan yang keras antara keinginan amal shalih dan kecenderungan maksiat. Apabila ada keinginan amal shalih ia pikir-pikir dulu. Pun bila terbesit kecenderungan maksiat ia juga pikir-pikir dulu. Pun bila terbesit kecenderungan maksiat, ia pikir-pikir dulu.

Tarik ulur antara dorongan negatif dan positif tiada habis-habisnya. Jiwanya selalu menginginkan yang lebih baik. Bila melakukan keburukan, ia akan mencacinya. Bila melakukan kebaikan ia juga mencacinya karena tidak melakukan yang lebih baik. Jiwa dengan kondisi yang demikian lebih baik dibanding yang pertama dan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan kaum muslimin.


3.      Apabila yang dominan adalah dorongan ruh dibanding dorongan nafsunya, maka manusia akan berdzikir pada setiap keadaan. Jiwa yang demikian ini disebut nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang). Dirinya senantiasa merasa tentram dan enjoy dengan amal-amal ketaatan. Ibadahnya akan terasa amat ringan. Dirinya akan gelisah bila kesempatan dzikirnya terusik. Jiwa dengan kondisi demikian dimiliki para Auliya’urrahman (para wali Allah) yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita jiwa yang tenang ini di dunia, hingga kelak Allah memanggil kita dengan panggilan yang lembut.



“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Masuklah ke dalam barisan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam syurgaKu” (QS. Al-Fajr : 27-30)

Allah tak pernah menghendaki bila manusia menjadi malaikat. Demikian itu karena Allah telah mengilhamkan kepada jiwanya dosa dan ketaqwaan, sehingga manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berdosa. Manusia adalah tempat salah dan lupa, namun sebaik-baik orang yang salah dan lupa adalah yang segera bertaubat.

Apapun kondisi jiwa kita, yang jelas kita diperintahkan untuk selalu membersihkan dan mensucikannya. Tazkiyatunnafs (Mensucikan diri) dilakukan dengan membersihkan dan membebaskan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menyandanginya dengan sifat-sifat terpuji.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan tilawah dan tadabur Al-Quran, tafakur alam, menuntut ilmu, shalat wajib berjamaah di masjid, shaum (puasa), dakwah, bergaul dengan orang shalih dan sebagainya.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Dan, sesungguhnya merugilah orang yan mengotorinya” (QS. Asy-Syam : 9-10)

Dikutip dati Buku SYARAH RASMUL BAYAN TARBIYAH Halaman 172-173

Senin, 03 Desember 2012

Ketika Olie Ngambek

Hidup itu indah.
Indah karena selalu bahagia.
Mmm, bisa diperjelas? Bisaaa.
Contohnya, hari ini.
Hari ini kurasakan indah ketika berangkat kuliah pukul 6.45 bersama Olie. Hembusan angin pagi yang menerpa wajah, itulah bahagia.

Melintasi jalanan depan rektorat yang lenggang sebagai jalan alternatif agar cepat sampai kampus, menyadari tidak ada deru motor di kanan kiri dan asap motor dari arah depan.. itu lah bahagia.


Dan sampai ke ruang kuliah lantai tiga lebih awal dari dosen, tak lupa disambut dengan tiupan AC  ketika membuka pintu kelas.. itu juga bahagia.
Mengayuh Olie lagi seusai kuliah, mengantar teman ke halte sepeda kampus, juga hal yang bahagia.
Bahagia itu mudah.
Bahkan saat akan menyeberang jalan, lalu tiba-tiba Olie macet tak mau ‘menoleh’ saat saya ingin membelokkannya itu juga bisa jadi hal indah.
Di pinggir jalan, saya mencermati apa yang terjadi padanya. Heiii lehermu kenapa, Olie? Salah posisi tidur kah semalam? Kok nggak mau noleh?? ^____^
Tengok kanan, tengok kiri...bingung harus apa.
Mau paksa menyeberang, tidak bisa. Olie sedang nggak bisa noleh. Walaupun dituntun,tetap saja jalannya akan terseok seok.
Mau diam di pinggir jalan juga tidak menyelesailkan masalah. Tengok pergelangan tangan, ga ada jam tangan..jadi cukup mengingat pukul berapa tadi ketika saya meninggalkan ruangan kelas di fakultas filsafat. Pukul 8.45.
Pukul 9.00 saya ada kelas Sistematika Mikrobia di Biologi. Hanya tinggal menyeberang sudah sampai, harusnya. Tapi Olie nanti gimana.
Hmmm... baiklah. Olie adalah sahabatku. Jadi saya tidak akan memaksanya untuk tetap pergi jika dia sedang tidak mampu. Tidak jauh dari situ, ada abang becak. Saya minta dia untuk membawa kami ke tempat servis sepeda yang tidak jauh dari situ.  Mengantar Olie ‘berobat’, walau harus memanggil jasa abang becak, itu suatu hal yang indah. Hanya bisa melirik Olie sambil tertawa,”Olie...kamu ada ada saja dehhh” ^___^
Harga becak 20ribu. Tak apalah.. ini ulahnya Olie. Sekali-kali untuk Olie, tidak apa apa. Mungkin Olie lagi pingin ngambek. Yaaa gak papa deh.yang punya juga sering ngambek kok soalnya. XD
Sampai di tempat servis sepeda, saya disambut Pak Tukang Servis
“ Kenapa mbak..sepedanya?”
“Gabisa noleh, Pak ..dia. Tiba-tiba gabisa diajak mbelok”
“Ohhh emangnya berapa lama gak dipakai mbak?”
Saya Cuma nyengir.
Saya lalu melihat jam di handphone. Pukul 9.15. Otak saya berpikir cepat. Kalau tidak salah, ada toleransi waktu keterlambatan deh. Sepertinya kalau belum setengah jam terlambat, masih boleh masuk. Masih ada sekitar 10 menit lagi sebelum genap 30 menit terlambat. Entah kenapa tiba-tiba saya tertantang untuk bisa sampai kelas sebelum 15 menit kemudian. Hummmmpp! Okai! Saya lalu tersenyum senyum sendiri, hmm nampaknya hari ini bakalan seru ^___^
Saya memfokuskan penglihatan ke seberang jalan di ujung sana. Melihat apakah ada angkutan umum yang terlihat. Dan..yak! I think this a perfect  time to me to prove my self that i can do it. Saya bisa duduk di bangku kelas dengan selamat! :D Kau tau? Saya bahagia lhooooo. .  .
“Pak! Saya tinggal dulu ya sepeda saya. Nitip. Pokoknya servis apapun yang perlu diganti,diganti aja”
“Wokeh,, mbak..”,jawabnya. Saya pun langsung menyeberang jalan, sebelum bis yang tadi saya lihat dari kejauhan tadi belum berlalu.
“Stoppppp Pak, stoppp”, kata saya, lalu segera naik ketika angkot tepat berhenti di depan saya.
Dan yu now wat...i’m happy to sit here. Bersama orang-orang lain. Tidak terlalu penuh sih, jadi saya nyaman-nyaman saja. Sudah lama juga nggak duduk bersama-sama begini di dalam angkutan umum.
Sampai di perempatan, judulnya adalah: lampu merah. Angkutan yang sya naiki berhenti. Fuhh..ini akan semakin mempersingkat waktu yang kumiliki. Saya estimasi, lebih baik saya turun di sini saja. Dari pada bengong menggantungkan nasib pada lampu merah, lebh baik saya memperjuangkan nasib saya untuk sampai ke kelas dengan hal yang lebih pasti : pake kaki. Yak! saya memutuskan,dari sini saya akan berlari menuju kampus. Dekat lagi kok. Lagipula, sudah lama saya tidak berlarian menuju kampus. Kayaknya bakal seru. Turun di perempatan, trus lari-lari ke kampus..di tengah lalu lalang kendaraan., menurut saya itu keren. Apalagi kalo ada yang nge shoot trus dijadiin segmen film kayaknya bagus lhooo.  hahaha  ^____^
“Pak, saya turun sini aja”,kata saya sambil menyodorkan tiga keping uang lima ratusan ke arah pak sopir.
Lalu saya segera turun dan menyeberang jalan , berjalan cepat menuju kampus. Yeahhh...^___^
Dan ketika saya sampai di lorong kelas, saya berpapasan dengan teman sekelas yang kebetulan sedang keluar izin dari kelas.
“Eh, bapaknya duduk di depan ato di belakang?”,tanya saya padanya. Hari ini jadual presentasi mahasiswa. Kalau sedang presentasi begitu, biasanya pak dosennya duduk di bangku mahasiswa. Kadang di bangku depan, kadang di bangku belakang. Nah, berhubung saya akan masuk dari pintu belakang, tentunya..akan sangat beruntung bila bapaknya duduk di bangku depan dan bukannya di belakang.
“di depan kok..”,jawabnya
Yoshhhh! i’m glad to hear that ^__^
Dan alhamdulillah, saya bisa masuk ruang kelas dan langsung duduk di bangku terdekat.
Yang pertama saya lakukan adalah, saya mengatur nafas dan fokus ke depan..memperhatikan yang sedang presentasi. Setelah itu, saya melihat ke arah jam dinding. Pukul 9.25. Kemudian, saya menoleh, say hello pada teman yang duduk di samping saya sambil nyengir (sebenernya ga ada siapa-siapa sih, karena saya duduk sendiri di deretan kursi paling belakang.hahaha). Kan saya sedang ingin mengekspresikan rasa bahagia saya, gitu lohhhhh ^___^
Well...saya sempat tidur di kelas, beberapa menit. Karena kelompok pertama yang presentasi lumayan bikin ngantuk. Di tidur singkat saya itu, saya tiba-tiba teringat sms Mbak Dyah tadi pagi, “Aku mau tke tempatmu, ni..kamarmu gak dikunci kan?”, lalu saya balas,”Iya mbak, gak dikunci. Welcome to my mess room, mbaaaak ^___^”. Nah, di mimpi saat itu, tiba-tiba saya melihat kamar saya sudah rapih. Sebenarnya saya berusaha untuk tidak tidur. Namun tidak ada sesuatu yang bisa membuat segar. Lalu beberapa menit kemudian, saya akhirnya bisa seger lagi, terbangun  dan jadi segar karena suara gemuruh tepuk tangan tanda berakhirnya presentasi kelompok pertama. Hahahaha, padahal tepuk tangan itu jelas bukan untuk saya, tapi kenapa saya yang jadi segar yaaa XD
Lanjut ke presentasi kelompok berikutnya dan saya tidak ngantuk lagi lhoo..Cuma pingin ke mushola lalu tidur. -__- Tapi saya paksakan untuk tidak beranjak, membuka mata baik-baik dan pasang telinga mendengarkan kuliah yang masih harus terus berlangsung. Yu now...seringkali yang perlu kita lawan adalah diri sendiri. ^___^
Dan saya berhasil!!! Kuliah 3 jam ini saya berhasil melalui dengan baik. Rasanya pingin manggil Mr. Pop mie buat ngasih award. Hhehe
Lalu saya segera capcus keluar, menghadang angkutan untuk menjenguk Olie.
Dan suatu kebahagiaan tersendiri ketika melihat Olie sehat lagi ^___^
Sesampainya di rumah,..tentunya kali ini sudah bersama Olie lagi..dengan Olie yang sudah diganti ini itu dan habis 70 ribu +____+ Tapi tetap senang kok. Senang akhirnya saya bisa merawatnya kembali. Hilang sudah rasa bersalah saya karena menelantarkannya sekian bulan . hehe ^_____^ Ketika membuka pintu kamar, saya excited sekaliiiiiiiiiii kamar saya rapih bangettttttt. Dan di sana ada mbak dyah sedang menonton tv di hape nya.
“Waaaaa mbak dyaaaaahhhhh terimakasiiiiihhh. Tadi aku di kelas sempet tidur trus mimpi kamar ku rapihhh. Dan ternyata beneran kejadian!”
Simply happiness, kan? Apapun yang terjadi. Bahagia itu, pilihan. Bahkan ,Ketika Olie Ngambek. ^__^

Minggu, 02 Desember 2012

Olie

Keramahan itu ibarat oase di tengah padang pasir. Bertemu orang yang ramah, bagai menemukan kehidupan di dalam kehidupan.


Bukankah begitu? ^^
Di bumi ini, berjubel orang-orang yang berebut 02 di atasnya. Di atas jalan yang setiap hari kita lalui saat pergi kuliah,tentunya saya bukan satu-satunya orang yang menggunakan jalan di saat itu bukan? Di samping saya, ada mahasiswa sebaya yang juga sedang menaiki motor nya sambil sesekali melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangannya. Di perempatan, mungkin juga bertemu Pak Polisi atau Pak satpam UGM yang membantu menyeberanngkan pejalan kaki. Nah, itu dia! Pejalan kaki. Mereka berjalan bergerombol, sama-sama ingin menyeberang. Menyandang tas yang sama berat, mengemban amanah yang sama pada hari itu untuk belajar. Kadangkala saya juga berpapasan dengan seorang bapak yang sedang dalam perjalanan mengantar dua anaknya yang masih SD dengan motor,mereka saya temui biasanya ketika saya berangkat kuliah sebelum jam 7 pagi. Tak jarang, bertemu dengan ibu-ibu kantoran yang dengan riang mengklakson setiap kendaraan yang ada di depannya. Mungkin itu hobi rutinnya di pagi hari. Hmmm...
Ya, memang banyak orang yang saya jumpai dalam sehari. Saat berangkat kuliah, saat di kampus (ada bapak tukang sapu, ada bapak tukang parkir, ada bapak laboran, ada mahasiswa, ibu dan bapak dosen, etc). Saat hari minggu, bertemu ibu penjual jamur, penjual tahu petis, bapak penjual sarapan, mbak erna penjual sarapan keliling, pak satpam kantong parkir fakultas filsafat, bapak penjualir dompet, agan-agan pengamen, nenek peminta-minta, mas penjual batagor,, bapak-bapak prtugas sunmor keliling,..(Ini mau cerita apa sih??? XD)
Hari minggu ini, saya seperti biasa pergi ke sunmor, tapi agak berbeda dari biasanya. Biasanya sayya pergi ke tempat Rosi pakai motor, lalu tinggal tancap gas bersamanya sambil membawa tenda. Nah, hari ini saya ke tempat rosi naik sepeda. Pukul 6 pagi, menggoes sepeda. Rasanya? Wahhhhh jangan tanya!  It was so.......hmmmm.....^____^
Olie. Itu nama untuk Si Manis Ungu Putih yang saya miliki. Makhluk manis dengan keranjang yang dulu selalu menemani saya kemana saja. Hanya dia satu-satunya yang bisa memberikanku angin sejuk ketika bepergian. Kalau naik motor, saya selalu pakai helm..dan tidak merasakan hembusan angin sesegar saya naik sepeda.
Dulu, waktu bersama Olie...saya sering menginginkan punya motor dan selalu naik motor. Tapi ternyata setelah hal itu terjadi, saya kembali merindukan Olie, dan saya benar-benar merasakan bahwa hari-hari saya lebih indah bila bersamanya.
Hari ini, pertama kalinya saya pergi dengan Olie lagi...tapi dia sudah tidak seperti dulu. Sudah banyak mur yang lepas dan kendor. Sedih sekali melihatnya.. Saya sebenarnya agak kasihan dengannya, bukan tidak mau menaikinya karena malu..tapi lebih karena saya kasihan padanya. Ibarat manusia, kondisi nya sedang tidak baik, bagaimana mungkin saya mengendarainya...
Tapi karena hari itu saya butuh sekali untuk pergi ke sunmor, saya tetap menaikinya dengan harapan setelah pulang dari sunmor saya akan mampir ke bengkel sepeda langgangan saya dulu. Ya, dulu. Waktu Olie masih rajin saya rawat dan jadi makhluk paling menawan di garasi rumah.
Pulang dari sunmor,..ternyata bengkel sepeda nya tutup. Mungkin libur di hari minggu. Akhirnya saya menuju pulang ke rumah, dan saat di tikungan...saya melihat ada bengkel motor. Beberapa hari lalu saya sempat mampir di sana memperbaiki lampu motor, dan bapaknya cukup perhatian dan baik. Dan saya harap, Si Bapak mau memperbaiki Olie walaupun sedikit saja >_< semoga bapak itu juga sayang Olie.
“Bapak.... “ , sapa saya pada Si Bapak yang sedang sibuk di dalam mengutak ngutik sesuatu. Bapak itu melihat saya yang nyengir di ambang pintu. Sekilas, bapak itu melihat saya lalu meneruskan kembali pekerjaannnya sebentar.
“Ah, ya mbak..ada apa mbak?”, katanya.
“Ini Pak..sepeda saya....mau di pasang mur, bisa gak Pak..”, emmm spertinya saya sedikit mengiba pada saat itu. Hehe
“Oh..mur saja. Bisa mbak...bisaaa. Saya lihat dulu yaaa”
Gyaaaaaaa! saya berbinar seketika. Alhamdulilaaaaah......:D
Bpak itu langsung berjongkok dekat sepeda saya, memeriksa Dan dengan riang saya duduk di bangku kecil tak jauh di dekatnya. Mengamati tiap detail kerusakan Olie.Si Bapak banyak berkomentar betapa banyak mur yang kendor dan gampang dilepas. Huhuuu iya Pak...dia sudah tidak pernah kurawat lagi sih. T__T sedih rasanya mendengar ‘diagnosa’dari Si Bapak. Lalu saya jadi bercerita pada Bapak itu tentang Olie yang usianya sudah hampir 4 tahun. Olie kubeli dari waktu saya semester satu. Lalu Si Bapak juga bercertita tentang di mana rumahnya, berapa anaknya,, kuliah di mana anaknya, kesukaaan anaknya yang laki-laki adalah di bidang otomotif.. Si Bapak sendiri lebih ke spesialis shockbeaker, bukan mesin. Si Bapak tertawa ketika saya ditanya apa saya tau beda shockbeaker dan mesin2 motor. Dan dengan polos saya bilang tidak tahu. Lalu beliau menjelaskan sedikit tentang hal itu. Beliau juga bertanya asal saya darimana, mengomentari logat saya yang jauh dari logat jawa. Malah saya jadi curhat tentang bagaimana saya berusaha kembali berbahasa jawa namun selalu ditertawai karena dibilang tidak pantas -__- . Si bapak lalu tertawa dan ikut berkomentar tentang itu.
“Sendirian aja pak, ga ada pegawai?”,tanya saya
“Kenapa? Mbaknya mau bantu-bantu di sini?”, guraunya.
“Boleh, Pak, boleh,.tapi yang ada nanti motor pelanggan jadinya saya rusakin karena saya gak tau caranya”, jawab saya sambil tertawa.
Bapak itu juga bercerita tentang anaknya yang seumuran saya, perempuan. Hebat sekali, dia kuliah di kedokteran hewan UGM.
Hm..saya banyak bertukar cerita dengan beliau. Dan si bapak memberi Olie sidkit olie di bagian standarnya,”Nih. Bonus buat mbaknya. Dirawat ya mbak sepedanya, Bagus ini , .”, pesan Si Bapak.
“Siap Pak! :D”
“Sebenarnya saya gak terima perbaiki speda, tapi karena simpel dan pelanggan..gak papa deh “
“hehe, iya. Makasih ya pakk.. ^___^. Pelanggan? Saya kan baru satu kali pak kesini. Cuma perbaiki lampu motor honda”
“hayoo honda ato yamaha?”
“eh. Iya ding Pak, yamaha. Heheh”
“kok sekarang pakai speda? Motornya ke mana mbak? “
“iitu bukan punya saya Pak...^___^, sudah dikembalikan ke yang punya”
“oh....kembali lagi naik sepeda deh mbak.....?”
“iya pak. Tapi lebih enak pakai sepeda kok. Kalo pake motor, ga menikmati karena was wes wos aja,.lewat lewat aja”
“hahaha, iya mbak, betul, kalo pake sepeda itu sempet tengok kanan kiri, sambil lihat-lihat”, timpalnya.
“trus ini mbak habis darimana?”
“dari sunmor Pak..jualan”
“Ooooo...”
Setelah mengobrol banyak hal, Saya cukup tau beliau adalah orang yang ramah. Hmmm..bagai oase di tengah padang pasir. Bertemu dengannya, bagai menemukan kehidupan di dalam kehidupan. Kali ini, kehidupan tentang seorang ayah yang mampu menguliahkan anaknya di UGM. Rumahnya di Brebah. Beberapa orang memanggilnya ‘Babeh’ karena Bapak itu ternyata lama hidup di jakarta.
“Baiklah Pak...sudah selesai, kan? Nama bapak siapa?”, kata saya sebelum pergi.
“Pak Adi, mbak..”, jawabnya sambil tertawa.
“Oke Pak. Salam kenal Pak...saya Aini. Dadah bapak...terimakasih banyak ya Pak...asalamulaikumm! ^____^”
“Ya. Hati2 mbak Aini”,.ujar beliau sambil tersenyum lebar.
Hmmmm..sayang Olie!
Pak Adi adalah salah satu orang yang ramah yang saya temui di kehidupan saya. Masih ada banyak orang ramah yang darinya saya menemukan kehidupan di dalam kehidupan yang saya miliki.  Seperti Pak Anto, penjual makanan di angkringan dekat rumah saya, Bapak petugas parkir suunmor, dan almarhum Pak Herman (lagi-lagi saya teringat padanya) =). Pertemuan singkat dengan orang yang ramah dan memiliki kesan baik, akan selalu memiliki ikatan batin untuk selalu mendoakannya. Di manapun dia berada.

Sabtu, 01 Desember 2012

My December Wish #2


Ya Allah, buatlah hamba Mu ini selalu tersadar bahwa dunia adalah ‘kini’ dan ‘di sini’. Bahwa akan ada ‘kelak’ dan ‘di sana’, tempat sebenar-benar aku kembali.
Orang-orang yang kucintai di dunia ini harus nya kucintai dengan cara yang benar-benar ahsan. Itu jika aku menginginkan aku bertemu dengan  mereka di akhirat kelak. Pertemuan di dunia, harusnya aku tau itu benar – benar pertemuan yang semu. Pertemuan yang sebenarnya adalah kelak, di tempat terindah dan pertemuan yang kekal; syurga.

Ketika kau benar-benar mencintai seseorang, seharusnya kau selalu mengajaknya dalam kebaikan.
Dan bila dia tidak tau, maka seharusnya kau beri tau sesuatu yang benar yang dia belum tau.

Ketika kau benar-benar menyayangi seseorang, sayangilah ia dengan sebenar-benarnya.
Bukan dengan menerima ajakannya untuk berjalan-jalan berdua. Tapi ajaklah ia untuk berjalan bersama meniti ridha dariNya, menjauhi hal-hal yang tidak disukaiNya.
Bukan dengan menerima ajakannya untuk melihat sunset bersama-sama. Tapi ingatkanlah ia untuk selalu malu terhadapNya. Sunset adalah salah satu ciptaanNya, dan pantaskah dua makhluk yang belum Dia ridhai kebersamaannnya menikmatinya?
Bukan pula dengan menerima ajakannya untuk makan bersama, menghabiskan malam dengan senda gurau dan obrolan masa depan yang semu karena bahkan kita tak akan pernah tau apakah Dia mengizinkan hal itu untuk terjadi. Tapi ingatkanlah ia untuk menghabiskan malam dalam sujud dan doa panjang untuk masa depan agar kian dimudahkan jalannya menuju segala hal yang baik.
Bukan juga dengan menerima mawar pemberiannya lalu hati menjadi berbunga-bunga.Tapi ingatkanlah, bahwa mawar juga ciptaanNya yang pasti merasa sedih andaikan dia dapat bersedih karena dipersembahkan untuk seorang hawa yang bukan mahram dari Si Pemberi. Setangkai mawar itu, juga makhluk yang memiliki setitik harapan untuk setidaknya merasa berguna dalam arti yang baik walau pada akhirnya ia harus layu. Mengapa kita lupa, bahwa mawar itu...kelak akan jadi saksi? astaghfirulllah.
Semua yang tertulis di sini adalah murni dari apa yang baru kusadari detik ini. Beberapa sudah kulakukan, namun beberapa di antaranya belum. Untuk itu, mari berbenah. . . berbenah setiap hari, berbenah ketika sudah tersadar, itulah yang penting. =)
Sungguh, tidak menutup kemungkinan saya mencintai seseorang. Saya hanya manusia. Salah, lalu introspeksi, Ragu, maka belajar. Mencari tau. Harapan yang saya tanam ketika saya mencintai seseorang adalah saya tidak menjalani hubungan yang keluar batas. Saya ingin mencintainya dengan cara yang baik. Tujuan utama adalah ridho Nya. Dengan harapan, Dia melihat kesungguhan kami untuk tetap menjaga diri, lsehingga Ia berkenan mempersatukan kami di dunia dengan cara yang baik pula.  Jika saya mencintainya, lalu apa? Lalu kenapa? Memangnya kenapa? Dan bisa apa? Tidak bisa apa- apa,bukan?. Ya, tidak bisa apa apa tanpa ridha Nya, tanpa kehendakNya.  Saya merasa, sebelum dipersatukan, semua yang dilakukan dan dirasa akan selalu cenderung pada keburukan. Jadi, mungkin ada kalanya saya menganggap jarak adalah suatu yang baik saat ini. Mencintai sesuatu yang belum waktunya memang harus banyak dimanage. agar menjadi baik, Dengan cara yang baik, maka saya berharap Allah menilai ini menjadi sebuah kebaikan di dunia. Dan saya sungguh berharap, karena saya menjalani dengan baik pula..saya bisa dipertemukan dengannya kembali ketika di syurga kelak. Itu yang paling penting dari yang saya harapkan, disisi lain keinginan untuk membersamainya di dunia. Semua hal yang ada di dunia adalah cobaan, pun ketika kita mencintai seseorang. Tidak ada yang salah dalam mencintai, namun yang seringkali menjadi sebuah kesalahan adalah bagaimana kita menindaklajuti perasaan itu.
Ketahuilah, rasa sayang di dunia harus juga diiorientasikan untuk akhirat. Kau tau siapa yang akan tertawa terbahak ketika kita jauh dari perilaku para penghuni syurga? Dan kau tau siapa yang akan menyalahkan dirimu sendiri ketika kita menudingnya sebagai akibat dari tumpukan dosa-dosa yang kita perbuat selama di dunia? Lalu apakah kau juga tau siapa yang akan paling menyesal ketika menghadapi hari hisab di padang mahsyar karena mengabaikan semua nasihat langit?
Ya Allah, jadikan kami manusia-manusia yang senantiasa dapat melihat cahaya langitMu, yang tersimpan dalam setap peristiwa yang terjadi. Baik peristiwa menyenangkan atau pun peristiwa yang buruk, pada semua itu sesungguhnya tersimpan pesan-pesan langit yang hanya akan bisa terkuak apabila kita mau membersihkan hati kita dengan terus berikhtiar utnuk membuka hati pada kebaikan.
Ya Rabb, jadikan kami hamba – hamba yang senantiasa bertaubat, selalu teringat untuk selalu mengucap istighfar karena tak terhitung banyaknya dosa yang dilakukan setiap detiknya. Mulai dari prasangka di hati, khayalan di pikiran, selintas perasaan benci pada sesama hambaMu, selintas keluhan atas nikmatMu, selintas keraguan atas kuasaMu dan selintas selintas yang lainnya lagi yang bila dikumpulkan mungkin dapat menjadi tumpukan dosa yang menjulang. 
Ya Rabb, Jadikanlah Al-Quran sebagai pelipur gundah gulana hati kami, musim semi di hati kami. Cukupkan dunia ada di tangan kami, dan bukan pada hati kami