“Jangan Percaya Saya”
Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong
Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “
dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya
Waktu kecil dulu, aku sering sebal sama ayah.Soalnya jadi makhluk paling ga asik di rumah. Ayah tidak selalu mengerti yang aku mau. Ayah juga tidak pandai memeluk sehangat ibu. Kupikir,ayah tidak suka bercanda dengan anak-anak sepertiku. Sehari juga jarang bertemu ayah. Pagi hari, kami sama sama pergi. Ayah ke kantor dan aku ke sekolah. Tapi kami naik di satu motor. Kami? ya, kami berdua. aku dan adik perempuanku hanya beda 2 tahun dan kami sekolah di satu sekolah yang sama. Kalau berangkat, selalu di antar ayah. Setelah mengantar kami ke sekolah, baru kemudian ayah pergi ke kantor. Ayah selalu bisa diandalkan kalau sedang menyetir motor. mau seperapapun kami ribut di motor, tidak akan jatuh. Karena ayah kan kuat. hehe. Beda dengan ibu. Sepulang sekolah, ibu yang akan menjemput. Dan naik motor bersama ibu, rasanya mengerikan. Ya, karena ibu tidak sekuat ayah. Jadi, kalau kemana-mana, lebih merasa aman bersama ayah. ^^
Pukul 4 sore, ayah pulang dari kantor. Mandi, lalu membaca koran. Malamnya, Aini kecil sering diminta untuk menginjak injak kaki dan badannya. Menyenangkan lho. hihi. Ya, hanya itu interaksi ku dengan ayah semasa kecil.
Tapi aku juga ingat ayah paling bisa menjadi hero ku. Apalagi kalau aku menangis. Pernah aku ingat, suatu malam Aini kecil sedang menangis karena dimarahi ibu. Lalu ayah tanpa berkata apapun menggendongku keluar rumah, sambil menepuk-nepuk punggungku..ayahku menawariku ini itu. Dan karena Aini kecil terus menggeleng, akhirnya ayah membelikanku seotol Coca Cola! Wah, ibu tak akan pernah melakukannya! Namun benar, karena ada hal baru yang ada di tanganku (Coca Cola), aku jadi lupa dengan tangisku, meraskan panas di perut dan kerongongan karena gas XD
Satu satunya hal mengasyikan yang kulakukan bersama ayah adalah kalau tentang masalah memelihara binatang. Wah, ayah paling asyik kalau diajak memelihara anak burung yang jatuh dari sarangnya, tentang memelihara kucing kecil yang berteduh di kolong kursi teras rumah kami karena kehujanan, tentang memelihara anak ayam, dan membuat kolam ikan kecil tidak lupa dengan 'terowongan' untuk ikan bermain. Kalau sama ibu pasti gak boleh. Ayah memang penyayang binatang. Ayahku keren lhoo ^__^
Memang sangat sedikit hal2 indah tentang ayah yang kuingat. Tapi sungguh hal yang amat menyenangkan bila diingat kembali.
Sekarang aku sudah dewasa. Cerita tentang aku dan ayah semakin banyak kudengar darinya dan juga dari ibu. Ketika aku kecil dulu (Short Term Memory), masa di mana aku tidak jelas mengingatnya..ternyata aku lebih dekat sama ayah dan lebih banyak hal yang kulakukan bersama ayah. Ternyata ayah yang meninabobokanku ketika aku harus tidur, dengan menggendongku di luar rumah, merebahkan kepalaku di pundaknya sambil menatap langit malam . Ayah juga yang membelikanku pisang saat tengah malam aku kelaparan dan aku ingin pisang, Berjalan kaki dari satu toko ke toko lain hingga tak terasa jauh sekali jaraknya hanya demi aku. Dan hal itu terulang kembali ketika aku ujian UM ITB,di kota bandung malam hari pukul sepuluh malam ayah mencarikanku pensil dan penghapus karena aku lupa menyiapkannya. Ayah berjalan mencari toko yang masih buka, sementara aku disuruhnya tidur karena harus bangun pagi. Tidur dalam keadaan merasa bersalah, T__T.
Seiring aku dewasa, aku semakin tersadar bahwa hubunganku dengan ayah tak hanya 'sekedar itu'. Tenyata hubunganku dengan ayah, lebih dari itu.
Dan ketika aku beranjak dewasa, dia lah yang paling memahamiku. Di saat ibu sudah menganggapku dewasa, ayah tetap menganggapku sebagai anak yang justru harus semakin diperhatikan.
Ayahku sekarang sudah berubah. Berubah menjadi ayah yang lebih baik.
Sekarang aku sudah 21 tahun. Walaupun begitu, aku masih saja merasa seperti gadis kecil ayah. Di saat usia ku kini, aku banyak belajar kehidupan darinya. Motivasi tentang kedewasaan dan menjadi gadis baik-baik, ayah yang memberikannnya.
Waktu
ayah datang kemarin, aku melihatnya setiap hari. Kulihat sosoknya semakin
bersahaja di mataku. Selalu bangun lebih pagi dariku padahal aku tau lelahnya
hari itu tidak seberapa dari lelahku. Tapi ia selalu membangunkanku shalat
subuh. Lalu setelah itu mengingatkanku untuk menonton acara mengaji bersama
Ust. Yusuf Mansur di televisi tiap pukul 5 pagi.
Kulihat
pengorbanannya untuk senantiasa menjaga shalat wajib nya di masjid. Kadang ia
harus ‘menyewa’ seorang tukang becak yang mengantarnya shalat dhuhur di masjid
untuk jangan lupa kembali lagi sebelum ashar agar ayah bisa shalat ashar di masjid.
Kadang ia juga harus jalan kaki.
Ah, ya..dulu ketika aku masih kecil, aku
ingat. Sampai sekarang masih ingat bagaimana cemas diriku dan hebat debar
jantungku saat menunggu kepulangan ayah dari masjid komplek. Saat itu hujan
deras sekali, petir menggelegar dan kilat sungguh mengerikan. Ayah hanya
memakai payung dan dengan berjalan kaki ia menuju masjid. Aini kecil sangat
cemas menunggu kepulangan ayahnya, terbesit pikiran bagaimana kalau ayah tidak
selamat sampai rumah, lalu jadi mengeluh kenapa mesti shalat di masjid padahal
cuaca sedang buruk begini. Lalu ketika bunyi gerbang didorong, aini kecil
langsung berlari menuju jendela ruang tamu, mengintip dari balik teralis besi
dan bahagia bukan main ketika sosok itu adalah ayahnya. Dan ketika ayah membuka
pintu rumah, ayah hanya terkekeh sambil berseru betapa derasnya hujan kali itu.
Aku termangu,ayah sama sekali tidak mengeluh? Sepertinya kecemasanku tidak
terbukti, hujan itu tidak menyusahkan ayah, ternyata.Atau barangkali baru sekarang aku
terpikir,..mungkin saja hujan itu menyusahkan ayah, namun kalah dengan betapa
ia menikmati setiap langkah untuk pergi ke masjid.
Dan ketika aku beranjak
dewasa, aku selalu berpikir..ketangguhan seorang lelaki bukan dari seberapa
kuat ia berjalan mendaki bukit dan jago olahraga tetapi seberapa kuat ia
bertahan menjaga dirinya agar selalu shalat di masjid.
Aku
punya seorang adik laki-laki. Satu-satunya laki-laki selain ayah di keluarga.
Dia kelas 2 SMA dan sangat diharapkan ayah untuk menjadi anak lelaki
kebanggannya. Sejak kecil, adikku itu dibiasakan ayah untuk berani adzan di
masjid. Hingga ia dewasa, ayah menginginkan ia agar bisa tumbuh jadi anak yang
sholeh. Aku tau apa yang ayah inginkan sesungguhnya. Ia hanya ingin ada
‘teman’.
Ketika
aku lupa tentang rumus-rumus fisika, ayah memaklumi. Namun ketika ayah bertanya
tentang terjemahan dari penggalan kata di dalam al-quran, ia mengomeliku
panjang pendek,‘masa lupa? Pelajaran dulu di pesantren udah lupa ya?’.
Pun
ketika aku tidak bisa memberikannya persembahan IP terbaik, ia tidak pernah
marah, dan selalu bilang,”yang ayah mau bukan IP, tapi jadilah gadis ayah yang
baik di sana. Jaga diri, semoga makin sholehah”.
Ayahku,
ayah yang hebat. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan menjadikan
kami anak-anak yang bisa menjadi ‘aset’ nya memasuki pintu syurga dengan mudah.
Ayah selalu bercerita bahwa dulu ia tidak begini. Tidak ada yang mengenalkannya
pada shalat, tidak ada yang mengenalkannya pada muhrim non muhrim, tidak ada
yang menyampaikan pentingnya pergi ke masjid, pun tidak ada yang menyuruhnya
mengaji, memperkenalkan dengan al-quran. Saat kuliah, bayangpun..shalat ayah
masih bolong-bolong dan tidak bisa membaca qur’an.
Kata ayah, itu yang selalu
ayah sesalkan dan itu yang menjadi penyemangat tersendiri untu ayah berubah di
masa tua. Ayah belajar mengaji ketika sudah ada anak-anaknya. Ayah mulai masuk
kelompok halaqoh,mendapatkan teman-teman yang seperti teman ‘rohis’,
teman-teman yang selalu ia temui untuk mengaji rutin. Ayah mulai belajar
membaca qur’an dari nol dan akupun menyaksikan fase di mana ia membaca huruf
demi huruf al-quran dengan terbata.
Lalu ayah mulai menghafal surat pendek,
ketika itu aku sudah masuk ke pesantren. Jadi, aku belajar bersama ayah. Saat
itu aku menghafal dan begitu juga ayah. Waktu itu, bacaan quran ayah belum
begitu baik....namun ayah sudah mulai mengajari ibuku membaca quran juga.
Kalau
ingat ayahku waktu itu, sungguh semangatnya tak terpatahkan. Setiap sehabis
shalat mahrib, sempat dulu ayah membuat aktivitas baru untuk kami. Yaitu shalat
mahrib berjamaah di rumah, lalu setelah shalat mahrib..setelah cium tangan ayah
ibu, kami duduk melingkar masih dengan sajadah dan mukena, ayah dengan
sarungnya. Masing masing memegang quran dan bergiliran membaca quran. Ayah
memintaku untuk mengoreksi bacaanya jika ada yang salah. Dan ketika ibu yang
bergiliran membaca, ayahku yyang akan mencoba membenarkan. Kadang-kadang kami
tertawa saat ibu membaca, ibu teramat kesusahan dan kita harus ekstra bersabar
menunggunya menuntaskan bacaan satu ayat. Kami tertawa karena ibu tertawa
duluan, mungkin gemas dengan dirinya sendiri. Aku lebih suka melihatnya
saat menjadi figur ayah yang seperti ini dibandingkan ketika ia mengajak kami
rekreasi ke suatu tempat wisata lalu marah-marah hanya karena mobil mogok atau
jalanan macet.
Ayah belajar lebih banyak secara otodidak. Ayah suka pengajian-pengajian yang mengajarkan pemahaman dasar, logika. Karena mungkin terlalu berat kalau ia harus belajar di pengajian yang terlalu banyak istilah arab yang ia belum mengerti. Ayah paling suka mendengar kajian Ust. Yusuf Mansur..dan kemarin kuajak kajian di DS ..ayah juga suka dengan penuturan Ust. Syatori Abdurrouf.. ayah juga suka Ust. Salim A. Fillah.
Ayah selalu mengingatkan, anak anak ayah jangan ada yang seperti ayah. Belajar semuanya baru sekarang. Tapi ayah bilang, ayah yakin tidak ada kata terlambat. Memang resikonya adalah sulit, daya hafal sudah lemah, daya menangkap bacaan quran sudah tidak secepat kami yang masih muda. Tapi belajar adalah sampai liang lahat, dan ayah siap melakukannya. Menjadi sosok ayah yang semakin baik setiap harinya. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu dan menerima taubatmu, menghapus semua dosa mu di masa lampau.
Hari ini kurasakan
indah ketika berangkat kuliah pukul 6.45 bersama Olie. Hembusan angin pagi yang
menerpa wajah, itulah bahagia.
Melintasi jalanan
depan rektorat yang lenggang sebagai jalan alternatif agar cepat sampai kampus,
menyadari tidak ada deru motor di kanan kiri dan asap motor dari arah depan.. itu
lah bahagia.
Dan sampai ke ruang
kuliah lantai tiga lebih awal dari dosen, tak lupa disambut dengan tiupan AC ketika membuka pintu kelas.. itu juga bahagia.
Mengayuh Olie lagi
seusai kuliah, mengantar teman ke halte sepeda kampus, juga hal yang bahagia.
Bahagia itu mudah.
Bahkan saat akan
menyeberang jalan, lalu tiba-tiba Olie macet tak mau ‘menoleh’ saat saya ingin
membelokkannya itu juga bisa jadi hal indah.
Di pinggir jalan,
saya mencermati apa yang terjadi padanya. Heiii
lehermu kenapa, Olie? Salah posisi tidur kah semalam? Kok nggak mau noleh??
^____^
Tengok kanan,
tengok kiri...bingung harus apa.
Mau paksa
menyeberang, tidak bisa. Olie sedang nggak bisa noleh. Walaupun dituntun,tetap
saja jalannya akan terseok seok.
Mau diam di pinggir
jalan juga tidak menyelesailkan masalah. Tengok pergelangan tangan, ga ada jam
tangan..jadi cukup mengingat pukul berapa tadi ketika saya meninggalkan ruangan
kelas di fakultas filsafat. Pukul 8.45.
Pukul 9.00 saya ada
kelas Sistematika Mikrobia di Biologi. Hanya tinggal menyeberang sudah sampai,
harusnya. Tapi Olie nanti gimana.
Hmmm... baiklah.
Olie adalah sahabatku. Jadi saya tidak akan memaksanya untuk tetap pergi jika
dia sedang tidak mampu. Tidak jauh dari situ, ada abang becak. Saya minta dia
untuk membawa kami ke tempat servis sepeda yang tidak jauh dari situ. Mengantar Olie ‘berobat’, walau harus
memanggil jasa abang becak, itu suatu hal yang indah. Hanya bisa melirik Olie
sambil tertawa,”Olie...kamu ada ada saja dehhh” ^___^
Harga becak 20ribu.
Tak apalah.. ini ulahnya Olie. Sekali-kali untuk Olie, tidak apa apa. Mungkin
Olie lagi pingin ngambek. Yaaa gak papa deh.yang punya juga sering ngambek kok
soalnya. XD
Sampai di tempat
servis sepeda, saya disambut Pak Tukang Servis
“ Kenapa
mbak..sepedanya?”
“Gabisa noleh, Pak
..dia. Tiba-tiba gabisa diajak mbelok”
“Ohhh emangnya
berapa lama gak dipakai mbak?”
Saya Cuma nyengir.
Saya lalu melihat
jam di handphone. Pukul 9.15. Otak saya berpikir cepat. Kalau tidak salah, ada
toleransi waktu keterlambatan deh. Sepertinya kalau belum setengah jam
terlambat, masih boleh masuk. Masih ada sekitar 10 menit lagi sebelum genap 30
menit terlambat. Entah kenapa tiba-tiba saya tertantang untuk bisa sampai kelas
sebelum 15 menit kemudian. Hummmmpp! Okai! Saya lalu tersenyum senyum sendiri, hmm nampaknya hari ini bakalan seru ^___^
Saya memfokuskan
penglihatan ke seberang jalan di ujung sana. Melihat apakah ada angkutan umum
yang terlihat. Dan..yak! I think this a perfect time to me to prove my self that i can do it.
Saya bisa duduk di bangku kelas dengan selamat! :D Kau tau? Saya bahagia
lhooooo. . .
“Pak! Saya tinggal
dulu ya sepeda saya. Nitip. Pokoknya servis apapun yang perlu diganti,diganti
aja”
“Wokeh,, mbak..”,jawabnya.
Saya pun langsung menyeberang jalan, sebelum bis yang tadi saya lihat dari
kejauhan tadi belum berlalu.
“Stoppppp Pak,
stoppp”, kata saya, lalu segera naik ketika angkot tepat berhenti di depan
saya.
Dan yu now wat...i’m
happy to sit here. Bersama orang-orang lain. Tidak terlalu penuh sih, jadi saya
nyaman-nyaman saja. Sudah lama juga nggak duduk bersama-sama begini di dalam angkutan umum.
Sampai di
perempatan, judulnya adalah: lampu merah. Angkutan yang sya naiki berhenti. Fuhh..ini akan
semakin mempersingkat waktu yang kumiliki. Saya estimasi, lebih baik saya turun
di sini saja. Dari pada bengong menggantungkan nasib pada lampu merah, lebh baik saya memperjuangkan nasib saya untuk sampai ke kelas dengan hal yang lebih pasti : pake kaki. Yak! saya memutuskan,dari sini saya akan berlari menuju kampus. Dekat lagi kok.
Lagipula, sudah lama saya tidak berlarian menuju kampus. Kayaknya bakal seru. Turun di perempatan, trus lari-lari ke kampus..di tengah lalu lalang kendaraan., menurut saya itu keren. Apalagi kalo ada yang nge shoot trus dijadiin segmen film kayaknya bagus lhooo. hahaha
^____^
“Pak, saya turun
sini aja”,kata saya sambil menyodorkan tiga keping uang lima ratusan ke arah
pak sopir.
Lalu saya segera
turun dan menyeberang jalan , berjalan cepat menuju kampus. Yeahhh...^___^
Dan ketika saya
sampai di lorong kelas, saya berpapasan dengan teman sekelas yang kebetulan
sedang keluar izin dari kelas.
“Eh, bapaknya duduk
di depan ato di belakang?”,tanya saya padanya. Hari ini jadual presentasi
mahasiswa. Kalau sedang presentasi begitu, biasanya pak dosennya duduk di
bangku mahasiswa. Kadang di bangku depan, kadang di bangku belakang. Nah,
berhubung saya akan masuk dari pintu belakang, tentunya..akan sangat beruntung
bila bapaknya duduk di bangku depan dan bukannya di belakang.
“di depan kok..”,jawabnya
Yoshhhh! i’m glad
to hear that ^__^
Dan alhamdulillah,
saya bisa masuk ruang kelas dan langsung duduk di bangku terdekat.
Yang pertama saya
lakukan adalah, saya mengatur nafas dan fokus ke depan..memperhatikan yang
sedang presentasi. Setelah itu, saya melihat ke arah jam dinding. Pukul 9.25.
Kemudian, saya menoleh, say hello pada teman yang duduk di samping saya sambil
nyengir (sebenernya ga ada siapa-siapa sih, karena saya duduk sendiri di
deretan kursi paling belakang.hahaha). Kan saya sedang ingin mengekspresikan
rasa bahagia saya, gitu lohhhhh ^___^
Well...saya sempat
tidur di kelas, beberapa menit. Karena kelompok pertama yang presentasi lumayan
bikin ngantuk. Di tidur singkat saya itu, saya tiba-tiba teringat sms Mbak Dyah
tadi pagi, “Aku mau tke tempatmu, ni..kamarmu gak dikunci kan?”, lalu saya
balas,”Iya mbak, gak dikunci. Welcome to my mess room, mbaaaak ^___^”. Nah, di
mimpi saat itu, tiba-tiba saya melihat kamar saya sudah rapih. Sebenarnya saya
berusaha untuk tidak tidur. Namun tidak ada sesuatu yang bisa membuat segar.
Lalu beberapa menit kemudian, saya akhirnya bisa seger lagi, terbangun dan jadi segar karena suara gemuruh tepuk
tangan tanda berakhirnya presentasi kelompok pertama. Hahahaha, padahal tepuk
tangan itu jelas bukan untuk saya, tapi kenapa saya yang jadi segar yaaa XD
Lanjut ke
presentasi kelompok berikutnya dan saya tidak ngantuk lagi lhoo..Cuma pingin ke
mushola lalu tidur. -__- Tapi saya paksakan untuk tidak beranjak, membuka mata
baik-baik dan pasang telinga mendengarkan kuliah yang masih harus terus berlangsung.
Yu now...seringkali yang perlu kita lawan adalah diri sendiri. ^___^
Dan saya
berhasil!!! Kuliah 3 jam ini saya berhasil melalui dengan baik. Rasanya pingin
manggil Mr. Pop mie buat ngasih award. Hhehe
Lalu saya segera
capcus keluar, menghadang angkutan untuk menjenguk Olie.
Dan suatu
kebahagiaan tersendiri ketika melihat Olie sehat lagi ^___^
Sesampainya di
rumah,..tentunya kali ini sudah bersama Olie lagi..dengan Olie yang sudah
diganti ini itu dan habis 70 ribu +____+ Tapi tetap senang kok. Senang akhirnya
saya bisa merawatnya kembali. Hilang sudah rasa bersalah saya karena
menelantarkannya sekian bulan . hehe ^_____^ Ketika membuka pintu kamar, saya
excited sekaliiiiiiiiiii kamar saya rapih bangettttttt. Dan di sana ada mbak
dyah sedang menonton tv di hape nya.
“Waaaaa mbak
dyaaaaahhhhh terimakasiiiiihhh. Tadi aku di kelas sempet tidur trus mimpi kamar
ku rapihhh. Dan ternyata beneran kejadian!”
Simply happiness,
kan? Apapun yang terjadi. Bahagia itu, pilihan. Bahkan ,Ketika Olie Ngambek. ^__^
Keramahan
itu ibarat oase di tengah padang pasir. Bertemu orang yang ramah, bagai menemukan
kehidupan di dalam kehidupan.
Bukankah
begitu? ^^
Di
bumi ini, berjubel orang-orang yang berebut 02 di atasnya. Di atas jalan
yang setiap hari kita lalui saat pergi kuliah,tentunya saya bukan satu-satunya
orang yang menggunakan jalan di saat itu bukan? Di samping saya, ada mahasiswa
sebaya yang juga sedang menaiki motor nya sambil sesekali melirik ke arah jam
tangan di pergelangan tangannya. Di perempatan, mungkin juga bertemu Pak Polisi
atau Pak satpam UGM yang membantu menyeberanngkan pejalan kaki. Nah, itu dia!
Pejalan kaki. Mereka berjalan bergerombol, sama-sama ingin menyeberang.
Menyandang tas yang sama berat, mengemban amanah yang sama pada hari itu untuk
belajar. Kadangkala saya juga berpapasan dengan seorang bapak yang sedang dalam
perjalanan mengantar dua anaknya yang masih SD dengan motor,mereka saya temui
biasanya ketika saya berangkat kuliah sebelum jam 7 pagi. Tak jarang, bertemu
dengan ibu-ibu kantoran yang dengan riang mengklakson setiap kendaraan yang ada
di depannya. Mungkin itu hobi rutinnya di pagi hari. Hmmm...
Ya,
memang banyak orang yang saya jumpai dalam sehari. Saat berangkat kuliah, saat
di kampus (ada bapak tukang sapu, ada bapak tukang parkir, ada bapak laboran,
ada mahasiswa, ibu dan bapak dosen, etc). Saat hari minggu, bertemu ibu penjual
jamur, penjual tahu petis, bapak penjual sarapan, mbak erna penjual sarapan
keliling, pak satpam kantong parkir fakultas filsafat, bapak penjualir dompet, agan-agan
pengamen, nenek peminta-minta, mas penjual batagor,, bapak-bapak prtugas sunmor
keliling,..(Ini mau cerita apa sih??? XD)
Hari
minggu ini, saya seperti biasa pergi ke sunmor, tapi agak berbeda dari
biasanya. Biasanya sayya pergi ke tempat Rosi pakai motor, lalu tinggal tancap
gas bersamanya sambil membawa tenda. Nah, hari ini saya ke tempat rosi naik
sepeda. Pukul 6 pagi, menggoes sepeda. Rasanya? Wahhhhh jangan tanya! It was so.......hmmmm.....^____^
Olie.
Itu nama untuk Si Manis Ungu Putih yang saya miliki. Makhluk manis dengan
keranjang yang dulu selalu menemani saya kemana saja. Hanya dia satu-satunya
yang bisa memberikanku angin sejuk ketika bepergian. Kalau naik motor, saya selalu
pakai helm..dan tidak merasakan hembusan angin sesegar saya naik sepeda.
Dulu,
waktu bersama Olie...saya sering menginginkan punya motor dan selalu naik
motor. Tapi ternyata setelah hal itu terjadi, saya kembali merindukan Olie, dan
saya benar-benar merasakan bahwa hari-hari saya lebih indah bila bersamanya.
Hari
ini, pertama kalinya saya pergi dengan Olie lagi...tapi dia sudah tidak seperti
dulu. Sudah banyak mur yang lepas dan kendor. Sedih sekali melihatnya.. Saya
sebenarnya agak kasihan dengannya, bukan tidak mau menaikinya karena malu..tapi
lebih karena saya kasihan padanya. Ibarat manusia, kondisi nya sedang tidak
baik, bagaimana mungkin saya mengendarainya...
Tapi
karena hari itu saya butuh sekali untuk pergi ke sunmor, saya tetap menaikinya
dengan harapan setelah pulang dari sunmor saya akan mampir ke bengkel sepeda
langgangan saya dulu. Ya, dulu. Waktu Olie masih rajin saya rawat dan jadi
makhluk paling menawan di garasi rumah.
Pulang
dari sunmor,..ternyata bengkel sepeda nya tutup. Mungkin libur di hari minggu.
Akhirnya saya menuju pulang ke rumah, dan saat di tikungan...saya melihat ada
bengkel motor. Beberapa hari lalu saya sempat mampir di sana memperbaiki lampu
motor, dan bapaknya cukup perhatian dan baik. Dan saya harap, Si Bapak mau
memperbaiki Olie walaupun sedikit saja >_< semoga bapak itu juga sayang
Olie.
“Bapak....
“ , sapa saya pada Si Bapak yang sedang sibuk di dalam mengutak ngutik sesuatu.
Bapak itu melihat saya yang nyengir di ambang pintu. Sekilas, bapak itu melihat
saya lalu meneruskan kembali pekerjaannnya sebentar.
“Ah,
ya mbak..ada apa mbak?”, katanya.
“Ini
Pak..sepeda saya....mau di pasang mur, bisa gak Pak..”, emmm spertinya saya
sedikit mengiba pada saat itu. Hehe
“Oh..mur
saja. Bisa mbak...bisaaa. Saya lihat dulu yaaa”
Bpak
itu langsung berjongkok dekat sepeda saya, memeriksa Dan dengan riang saya
duduk di bangku kecil tak jauh di dekatnya. Mengamati tiap detail kerusakan
Olie.Si Bapak banyak berkomentar betapa banyak mur yang kendor dan gampang
dilepas. Huhuuu iya Pak...dia sudah tidak pernah kurawat lagi sih. T__T sedih
rasanya mendengar ‘diagnosa’dari Si Bapak. Lalu saya jadi bercerita pada Bapak
itu tentang Olie yang usianya sudah hampir 4 tahun. Olie kubeli dari waktu saya
semester satu. Lalu Si Bapak juga bercertita tentang di mana rumahnya, berapa
anaknya,, kuliah di mana anaknya, kesukaaan anaknya yang laki-laki adalah di
bidang otomotif.. Si Bapak sendiri lebih ke spesialis shockbeaker, bukan mesin.
Si Bapak tertawa ketika saya ditanya apa saya tau beda shockbeaker dan mesin2
motor. Dan dengan polos saya bilang tidak tahu. Lalu beliau menjelaskan sedikit
tentang hal itu. Beliau juga bertanya asal saya darimana, mengomentari logat
saya yang jauh dari logat jawa. Malah saya jadi curhat tentang bagaimana saya
berusaha kembali berbahasa jawa namun selalu ditertawai karena dibilang tidak
pantas -__- . Si bapak lalu tertawa dan ikut berkomentar tentang itu.
“Sendirian
aja pak, ga ada pegawai?”,tanya saya
“Kenapa?
Mbaknya mau bantu-bantu di sini?”, guraunya.
“Boleh,
Pak, boleh,.tapi yang ada nanti motor pelanggan jadinya saya rusakin karena
saya gak tau caranya”, jawab saya sambil tertawa.
Bapak
itu juga bercerita tentang anaknya yang seumuran saya, perempuan. Hebat sekali,
dia kuliah di kedokteran hewan UGM.
Hm..saya
banyak bertukar cerita dengan beliau. Dan si bapak memberi Olie sidkit olie di
bagian standarnya,”Nih. Bonus buat mbaknya. Dirawat ya mbak sepedanya, Bagus
ini , .”, pesan Si Bapak.
“Siap
Pak! :D”
“Sebenarnya
saya gak terima perbaiki speda, tapi karena simpel dan pelanggan..gak papa deh “
“hehe,
iya. Makasih ya pakk.. ^___^. Pelanggan? Saya kan baru satu kali pak kesini. Cuma
perbaiki lampu motor honda”
“hayoo
honda ato yamaha?”
“eh.
Iya ding Pak, yamaha. Heheh”
“kok
sekarang pakai speda? Motornya ke mana mbak? “
“iitu
bukan punya saya Pak...^___^, sudah dikembalikan ke yang punya”
“oh....kembali
lagi naik sepeda deh mbak.....?”
“iya
pak. Tapi lebih enak pakai sepeda kok. Kalo pake motor, ga menikmati karena was
wes wos aja,.lewat lewat aja”
Setelah
mengobrol banyak hal, Saya cukup tau beliau adalah orang yang ramah. Hmmm..bagai
oase di tengah padang pasir. Bertemu dengannya, bagai menemukan kehidupan di
dalam kehidupan. Kali ini, kehidupan tentang seorang ayah yang mampu
menguliahkan anaknya di UGM. Rumahnya di Brebah. Beberapa orang memanggilnya ‘Babeh’
karena Bapak itu ternyata lama hidup di jakarta.
“Baiklah
Pak...sudah selesai, kan? Nama bapak siapa?”, kata saya sebelum pergi.
“Pak
Adi, mbak..”, jawabnya sambil tertawa.
“Oke
Pak. Salam kenal Pak...saya Aini. Dadah bapak...terimakasih banyak ya Pak...asalamulaikumm!
^____^”
“Ya.
Hati2 mbak Aini”,.ujar beliau sambil tersenyum lebar.
Hmmmm..sayang
Olie!
Pak
Adi adalah salah satu orang yang ramah yang saya temui di kehidupan saya. Masih
ada banyak orang ramah yang darinya saya menemukan kehidupan di dalam kehidupan
yang saya miliki. Seperti Pak Anto, penjual
makanan di angkringan dekat rumah saya, Bapak petugas parkir suunmor, dan almarhum
Pak Herman (lagi-lagi saya teringat padanya) =). Pertemuan singkat dengan orang
yang ramah dan memiliki kesan baik, akan selalu memiliki ikatan batin untuk
selalu mendoakannya. Di manapun dia berada.