Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

Your Little Princess

Aku waktu balita. Umur berapa ya ini ? lupaaa ^____^





No coment deh... XD



I love you, ayah..sekarang Aini Kecil udah gede =D


Sekarang udah bisa berdiri sendiri, tapi kau tetap saja menganggapku gadis kecilmu yang dulu =)



 
-Your Lovely Daughter-
     




Daddy's Daughter


Waktu kecil dulu, aku sering sebal sama ayah.Soalnya jadi makhluk paling ga asik di rumah. Ayah tidak selalu mengerti yang aku mau. Ayah juga tidak pandai memeluk sehangat ibu. Kupikir,ayah tidak suka bercanda dengan anak-anak sepertiku. Sehari juga jarang bertemu ayah. Pagi hari, kami sama sama pergi. Ayah ke kantor dan aku ke sekolah. Tapi kami naik di satu motor. Kami? ya, kami berdua. aku dan adik perempuanku hanya beda 2 tahun dan kami sekolah di satu sekolah yang sama. Kalau berangkat, selalu di antar ayah. Setelah mengantar kami ke sekolah, baru kemudian ayah pergi ke kantor. Ayah selalu bisa diandalkan kalau sedang menyetir motor. mau seperapapun kami ribut di motor, tidak akan jatuh. Karena ayah kan kuat. hehe. Beda dengan ibu. Sepulang sekolah, ibu yang akan menjemput. Dan naik motor bersama ibu, rasanya mengerikan. Ya, karena ibu tidak sekuat ayah. Jadi, kalau kemana-mana, lebih merasa aman bersama ayah. ^^

Pukul 4 sore, ayah pulang dari kantor. Mandi, lalu membaca koran. Malamnya, Aini kecil sering diminta untuk menginjak injak kaki dan badannya. Menyenangkan lho. hihi. Ya, hanya itu interaksi ku dengan ayah semasa kecil.
Tapi aku juga ingat ayah paling bisa menjadi hero ku. Apalagi kalau aku menangis. Pernah aku ingat, suatu malam Aini kecil sedang menangis karena dimarahi ibu. Lalu ayah tanpa berkata apapun menggendongku keluar rumah, sambil menepuk-nepuk punggungku..ayahku menawariku ini itu. Dan karena Aini kecil terus menggeleng, akhirnya ayah membelikanku seotol Coca Cola! Wah, ibu tak akan pernah melakukannya! Namun benar, karena ada hal baru yang ada di tanganku (Coca Cola), aku jadi lupa dengan tangisku, meraskan panas di perut dan kerongongan karena gas XD 
Satu satunya hal mengasyikan yang kulakukan bersama ayah adalah kalau tentang masalah memelihara binatang. Wah, ayah paling asyik kalau diajak memelihara anak burung yang jatuh dari sarangnya, tentang memelihara kucing kecil yang berteduh di kolong kursi teras rumah kami karena kehujanan, tentang memelihara anak ayam, dan membuat kolam ikan kecil tidak lupa dengan 'terowongan' untuk ikan bermain. Kalau sama ibu pasti gak boleh. Ayah memang penyayang binatang. Ayahku keren lhoo ^__^
Memang sangat sedikit hal2 indah tentang ayah yang kuingat. Tapi sungguh hal yang amat menyenangkan bila diingat kembali.
 
Sekarang aku sudah dewasa. Cerita tentang aku dan ayah semakin banyak kudengar darinya dan juga dari ibu. Ketika aku kecil dulu (Short Term Memory), masa di mana aku tidak jelas mengingatnya..ternyata aku lebih dekat sama ayah dan lebih banyak hal yang kulakukan bersama ayah. Ternyata ayah yang meninabobokanku ketika aku harus tidur, dengan menggendongku di luar rumah, merebahkan kepalaku di pundaknya sambil menatap langit malam . Ayah juga yang membelikanku pisang saat tengah malam aku kelaparan dan aku ingin pisang, Berjalan kaki dari satu toko ke toko lain hingga tak terasa jauh sekali jaraknya hanya demi aku. Dan hal itu terulang kembali ketika aku ujian UM ITB,di kota bandung malam hari pukul sepuluh malam ayah mencarikanku pensil dan penghapus karena aku lupa menyiapkannya. Ayah berjalan mencari toko yang masih buka, sementara aku disuruhnya tidur karena harus bangun pagi. Tidur dalam keadaan merasa bersalah, T__T.
Seiring aku dewasa, aku semakin tersadar bahwa hubunganku dengan ayah tak hanya 'sekedar itu'. Tenyata hubunganku dengan ayah, lebih dari itu. 
Dan ketika aku beranjak dewasa, dia lah yang paling memahamiku. Di saat ibu sudah menganggapku dewasa, ayah tetap menganggapku sebagai anak yang justru harus semakin diperhatikan. 
Ayahku sekarang sudah berubah. Berubah menjadi ayah yang lebih baik.
Sekarang aku sudah 21 tahun. Walaupun begitu, aku masih saja merasa seperti gadis kecil ayah. Di saat usia ku kini, aku banyak belajar kehidupan darinya. Motivasi tentang kedewasaan dan menjadi gadis baik-baik, ayah yang memberikannnya.
Waktu ayah datang kemarin, aku melihatnya setiap hari. Kulihat sosoknya semakin bersahaja di mataku. Selalu bangun lebih pagi dariku padahal aku tau lelahnya hari itu tidak seberapa dari lelahku. Tapi ia selalu membangunkanku shalat subuh. Lalu setelah itu mengingatkanku untuk menonton acara mengaji bersama Ust. Yusuf Mansur di televisi tiap pukul 5 pagi. 
 
Kulihat pengorbanannya untuk senantiasa menjaga shalat wajib nya di masjid. Kadang ia harus ‘menyewa’ seorang tukang becak yang mengantarnya shalat dhuhur di masjid untuk jangan lupa kembali lagi sebelum ashar agar ayah bisa shalat ashar di masjid. Kadang ia juga harus jalan kaki. 
Ah, ya..dulu ketika aku masih kecil, aku ingat. Sampai sekarang masih ingat bagaimana cemas diriku dan hebat debar jantungku saat menunggu kepulangan ayah dari masjid komplek. Saat itu hujan deras sekali, petir menggelegar dan kilat sungguh mengerikan. Ayah hanya memakai payung dan dengan berjalan kaki ia menuju masjid. Aini kecil sangat cemas menunggu kepulangan ayahnya, terbesit pikiran bagaimana kalau ayah tidak selamat sampai rumah, lalu jadi mengeluh kenapa mesti shalat di masjid padahal cuaca sedang buruk begini. Lalu ketika bunyi gerbang didorong, aini kecil langsung berlari menuju jendela ruang tamu, mengintip dari balik teralis besi dan bahagia bukan main ketika sosok itu adalah ayahnya. Dan ketika ayah membuka pintu rumah, ayah hanya terkekeh sambil berseru betapa derasnya hujan kali itu. Aku termangu,ayah sama sekali tidak mengeluh? Sepertinya kecemasanku tidak terbukti, hujan itu tidak menyusahkan ayah, ternyata.  Atau barangkali baru sekarang aku terpikir,..mungkin saja hujan itu menyusahkan ayah, namun kalah dengan betapa ia menikmati setiap langkah untuk pergi ke masjid. 
Dan ketika aku beranjak dewasa, aku selalu berpikir..ketangguhan seorang lelaki bukan dari seberapa kuat ia berjalan mendaki bukit dan jago olahraga tetapi seberapa kuat ia bertahan menjaga dirinya agar selalu shalat di masjid.
Aku punya seorang adik laki-laki. Satu-satunya laki-laki selain ayah di keluarga. Dia kelas 2 SMA dan sangat diharapkan ayah untuk menjadi anak lelaki kebanggannya. Sejak kecil, adikku itu dibiasakan ayah untuk berani adzan di masjid. Hingga ia dewasa, ayah menginginkan ia agar bisa tumbuh jadi anak yang sholeh. Aku tau apa yang ayah inginkan sesungguhnya. Ia hanya ingin ada ‘teman’.
Ketika aku lupa tentang rumus-rumus fisika, ayah memaklumi. Namun ketika ayah bertanya tentang terjemahan dari penggalan kata di dalam al-quran, ia mengomeliku panjang pendek,‘masa lupa? Pelajaran dulu di pesantren udah lupa ya?’.
Pun ketika aku tidak bisa memberikannya persembahan IP terbaik, ia tidak pernah marah, dan selalu bilang,”yang ayah mau bukan IP, tapi jadilah gadis ayah yang baik di sana. Jaga diri, semoga makin sholehah”.
Ayahku, ayah yang hebat. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan menjadikan kami anak-anak yang bisa menjadi ‘aset’ nya memasuki pintu syurga dengan mudah. 
Ayah selalu bercerita bahwa dulu ia tidak begini. Tidak ada yang mengenalkannya pada shalat, tidak ada yang mengenalkannya pada muhrim non muhrim, tidak ada yang menyampaikan pentingnya pergi ke masjid, pun tidak ada yang menyuruhnya mengaji, memperkenalkan dengan al-quran. Saat kuliah, bayangpun..shalat ayah masih bolong-bolong dan tidak bisa membaca qur’an. 
Kata ayah, itu yang selalu ayah sesalkan dan itu yang menjadi penyemangat tersendiri untu ayah berubah di masa tua. Ayah belajar mengaji ketika sudah ada anak-anaknya. Ayah mulai masuk kelompok halaqoh,mendapatkan teman-teman yang seperti teman ‘rohis’, teman-teman yang selalu ia temui untuk mengaji rutin. Ayah mulai belajar membaca qur’an dari nol dan akupun menyaksikan fase di mana ia membaca huruf demi huruf al-quran dengan terbata.
Lalu ayah mulai menghafal surat pendek, ketika itu aku sudah masuk ke pesantren. Jadi, aku belajar bersama ayah. Saat itu aku menghafal dan begitu juga ayah. Waktu itu, bacaan quran ayah belum begitu baik....namun ayah sudah mulai mengajari ibuku membaca quran juga. 

Kalau ingat ayahku waktu itu, sungguh semangatnya tak terpatahkan. Setiap sehabis shalat mahrib, sempat dulu ayah membuat aktivitas baru untuk kami. Yaitu shalat mahrib berjamaah di rumah, lalu setelah shalat mahrib..setelah cium tangan ayah ibu, kami duduk melingkar masih dengan sajadah dan mukena, ayah dengan sarungnya. Masing masing memegang quran dan bergiliran membaca quran. Ayah memintaku untuk mengoreksi bacaanya jika ada yang salah. Dan ketika ibu yang bergiliran membaca, ayahku yyang akan mencoba membenarkan. Kadang-kadang kami tertawa saat ibu membaca, ibu teramat kesusahan dan kita harus ekstra bersabar menunggunya menuntaskan bacaan satu ayat. Kami tertawa karena ibu tertawa duluan, mungkin gemas dengan dirinya sendiri. Aku lebih suka melihatnya saat menjadi figur ayah yang seperti ini dibandingkan ketika ia mengajak kami rekreasi ke suatu tempat wisata lalu marah-marah hanya karena mobil mogok atau jalanan macet. 
Ayah belajar lebih banyak secara otodidak. Ayah suka pengajian-pengajian yang mengajarkan pemahaman dasar, logika. Karena mungkin terlalu berat kalau ia harus belajar di pengajian yang terlalu banyak istilah arab yang ia belum mengerti. Ayah paling suka mendengar kajian Ust. Yusuf Mansur..dan kemarin kuajak kajian di DS ..ayah juga suka dengan penuturan Ust. Syatori Abdurrouf.. ayah juga suka Ust. Salim A. Fillah. 
Ayah selalu mengingatkan, anak anak ayah jangan ada yang seperti ayah. Belajar semuanya baru sekarang. Tapi ayah bilang, ayah yakin tidak ada kata terlambat. Memang resikonya adalah sulit, daya hafal sudah lemah, daya menangkap bacaan quran sudah tidak secepat kami yang masih muda. Tapi belajar adalah sampai liang lahat, dan ayah siap melakukannya. Menjadi sosok ayah yang semakin baik setiap harinya. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu dan menerima taubatmu, menghapus semua dosa mu di masa lampau. 
Best Regards,                            






DAD'S PICT ^___^

Senin, 03 Desember 2012

Ketika Olie Ngambek

Hidup itu indah.
Indah karena selalu bahagia.
Mmm, bisa diperjelas? Bisaaa.
Contohnya, hari ini.
Hari ini kurasakan indah ketika berangkat kuliah pukul 6.45 bersama Olie. Hembusan angin pagi yang menerpa wajah, itulah bahagia.

Melintasi jalanan depan rektorat yang lenggang sebagai jalan alternatif agar cepat sampai kampus, menyadari tidak ada deru motor di kanan kiri dan asap motor dari arah depan.. itu lah bahagia.


Dan sampai ke ruang kuliah lantai tiga lebih awal dari dosen, tak lupa disambut dengan tiupan AC  ketika membuka pintu kelas.. itu juga bahagia.
Mengayuh Olie lagi seusai kuliah, mengantar teman ke halte sepeda kampus, juga hal yang bahagia.
Bahagia itu mudah.
Bahkan saat akan menyeberang jalan, lalu tiba-tiba Olie macet tak mau ‘menoleh’ saat saya ingin membelokkannya itu juga bisa jadi hal indah.
Di pinggir jalan, saya mencermati apa yang terjadi padanya. Heiii lehermu kenapa, Olie? Salah posisi tidur kah semalam? Kok nggak mau noleh?? ^____^
Tengok kanan, tengok kiri...bingung harus apa.
Mau paksa menyeberang, tidak bisa. Olie sedang nggak bisa noleh. Walaupun dituntun,tetap saja jalannya akan terseok seok.
Mau diam di pinggir jalan juga tidak menyelesailkan masalah. Tengok pergelangan tangan, ga ada jam tangan..jadi cukup mengingat pukul berapa tadi ketika saya meninggalkan ruangan kelas di fakultas filsafat. Pukul 8.45.
Pukul 9.00 saya ada kelas Sistematika Mikrobia di Biologi. Hanya tinggal menyeberang sudah sampai, harusnya. Tapi Olie nanti gimana.
Hmmm... baiklah. Olie adalah sahabatku. Jadi saya tidak akan memaksanya untuk tetap pergi jika dia sedang tidak mampu. Tidak jauh dari situ, ada abang becak. Saya minta dia untuk membawa kami ke tempat servis sepeda yang tidak jauh dari situ.  Mengantar Olie ‘berobat’, walau harus memanggil jasa abang becak, itu suatu hal yang indah. Hanya bisa melirik Olie sambil tertawa,”Olie...kamu ada ada saja dehhh” ^___^
Harga becak 20ribu. Tak apalah.. ini ulahnya Olie. Sekali-kali untuk Olie, tidak apa apa. Mungkin Olie lagi pingin ngambek. Yaaa gak papa deh.yang punya juga sering ngambek kok soalnya. XD
Sampai di tempat servis sepeda, saya disambut Pak Tukang Servis
“ Kenapa mbak..sepedanya?”
“Gabisa noleh, Pak ..dia. Tiba-tiba gabisa diajak mbelok”
“Ohhh emangnya berapa lama gak dipakai mbak?”
Saya Cuma nyengir.
Saya lalu melihat jam di handphone. Pukul 9.15. Otak saya berpikir cepat. Kalau tidak salah, ada toleransi waktu keterlambatan deh. Sepertinya kalau belum setengah jam terlambat, masih boleh masuk. Masih ada sekitar 10 menit lagi sebelum genap 30 menit terlambat. Entah kenapa tiba-tiba saya tertantang untuk bisa sampai kelas sebelum 15 menit kemudian. Hummmmpp! Okai! Saya lalu tersenyum senyum sendiri, hmm nampaknya hari ini bakalan seru ^___^
Saya memfokuskan penglihatan ke seberang jalan di ujung sana. Melihat apakah ada angkutan umum yang terlihat. Dan..yak! I think this a perfect  time to me to prove my self that i can do it. Saya bisa duduk di bangku kelas dengan selamat! :D Kau tau? Saya bahagia lhooooo. .  .
“Pak! Saya tinggal dulu ya sepeda saya. Nitip. Pokoknya servis apapun yang perlu diganti,diganti aja”
“Wokeh,, mbak..”,jawabnya. Saya pun langsung menyeberang jalan, sebelum bis yang tadi saya lihat dari kejauhan tadi belum berlalu.
“Stoppppp Pak, stoppp”, kata saya, lalu segera naik ketika angkot tepat berhenti di depan saya.
Dan yu now wat...i’m happy to sit here. Bersama orang-orang lain. Tidak terlalu penuh sih, jadi saya nyaman-nyaman saja. Sudah lama juga nggak duduk bersama-sama begini di dalam angkutan umum.
Sampai di perempatan, judulnya adalah: lampu merah. Angkutan yang sya naiki berhenti. Fuhh..ini akan semakin mempersingkat waktu yang kumiliki. Saya estimasi, lebih baik saya turun di sini saja. Dari pada bengong menggantungkan nasib pada lampu merah, lebh baik saya memperjuangkan nasib saya untuk sampai ke kelas dengan hal yang lebih pasti : pake kaki. Yak! saya memutuskan,dari sini saya akan berlari menuju kampus. Dekat lagi kok. Lagipula, sudah lama saya tidak berlarian menuju kampus. Kayaknya bakal seru. Turun di perempatan, trus lari-lari ke kampus..di tengah lalu lalang kendaraan., menurut saya itu keren. Apalagi kalo ada yang nge shoot trus dijadiin segmen film kayaknya bagus lhooo.  hahaha  ^____^
“Pak, saya turun sini aja”,kata saya sambil menyodorkan tiga keping uang lima ratusan ke arah pak sopir.
Lalu saya segera turun dan menyeberang jalan , berjalan cepat menuju kampus. Yeahhh...^___^
Dan ketika saya sampai di lorong kelas, saya berpapasan dengan teman sekelas yang kebetulan sedang keluar izin dari kelas.
“Eh, bapaknya duduk di depan ato di belakang?”,tanya saya padanya. Hari ini jadual presentasi mahasiswa. Kalau sedang presentasi begitu, biasanya pak dosennya duduk di bangku mahasiswa. Kadang di bangku depan, kadang di bangku belakang. Nah, berhubung saya akan masuk dari pintu belakang, tentunya..akan sangat beruntung bila bapaknya duduk di bangku depan dan bukannya di belakang.
“di depan kok..”,jawabnya
Yoshhhh! i’m glad to hear that ^__^
Dan alhamdulillah, saya bisa masuk ruang kelas dan langsung duduk di bangku terdekat.
Yang pertama saya lakukan adalah, saya mengatur nafas dan fokus ke depan..memperhatikan yang sedang presentasi. Setelah itu, saya melihat ke arah jam dinding. Pukul 9.25. Kemudian, saya menoleh, say hello pada teman yang duduk di samping saya sambil nyengir (sebenernya ga ada siapa-siapa sih, karena saya duduk sendiri di deretan kursi paling belakang.hahaha). Kan saya sedang ingin mengekspresikan rasa bahagia saya, gitu lohhhhh ^___^
Well...saya sempat tidur di kelas, beberapa menit. Karena kelompok pertama yang presentasi lumayan bikin ngantuk. Di tidur singkat saya itu, saya tiba-tiba teringat sms Mbak Dyah tadi pagi, “Aku mau tke tempatmu, ni..kamarmu gak dikunci kan?”, lalu saya balas,”Iya mbak, gak dikunci. Welcome to my mess room, mbaaaak ^___^”. Nah, di mimpi saat itu, tiba-tiba saya melihat kamar saya sudah rapih. Sebenarnya saya berusaha untuk tidak tidur. Namun tidak ada sesuatu yang bisa membuat segar. Lalu beberapa menit kemudian, saya akhirnya bisa seger lagi, terbangun  dan jadi segar karena suara gemuruh tepuk tangan tanda berakhirnya presentasi kelompok pertama. Hahahaha, padahal tepuk tangan itu jelas bukan untuk saya, tapi kenapa saya yang jadi segar yaaa XD
Lanjut ke presentasi kelompok berikutnya dan saya tidak ngantuk lagi lhoo..Cuma pingin ke mushola lalu tidur. -__- Tapi saya paksakan untuk tidak beranjak, membuka mata baik-baik dan pasang telinga mendengarkan kuliah yang masih harus terus berlangsung. Yu now...seringkali yang perlu kita lawan adalah diri sendiri. ^___^
Dan saya berhasil!!! Kuliah 3 jam ini saya berhasil melalui dengan baik. Rasanya pingin manggil Mr. Pop mie buat ngasih award. Hhehe
Lalu saya segera capcus keluar, menghadang angkutan untuk menjenguk Olie.
Dan suatu kebahagiaan tersendiri ketika melihat Olie sehat lagi ^___^
Sesampainya di rumah,..tentunya kali ini sudah bersama Olie lagi..dengan Olie yang sudah diganti ini itu dan habis 70 ribu +____+ Tapi tetap senang kok. Senang akhirnya saya bisa merawatnya kembali. Hilang sudah rasa bersalah saya karena menelantarkannya sekian bulan . hehe ^_____^ Ketika membuka pintu kamar, saya excited sekaliiiiiiiiiii kamar saya rapih bangettttttt. Dan di sana ada mbak dyah sedang menonton tv di hape nya.
“Waaaaa mbak dyaaaaahhhhh terimakasiiiiihhh. Tadi aku di kelas sempet tidur trus mimpi kamar ku rapihhh. Dan ternyata beneran kejadian!”
Simply happiness, kan? Apapun yang terjadi. Bahagia itu, pilihan. Bahkan ,Ketika Olie Ngambek. ^__^

Minggu, 02 Desember 2012

Olie

Keramahan itu ibarat oase di tengah padang pasir. Bertemu orang yang ramah, bagai menemukan kehidupan di dalam kehidupan.


Bukankah begitu? ^^
Di bumi ini, berjubel orang-orang yang berebut 02 di atasnya. Di atas jalan yang setiap hari kita lalui saat pergi kuliah,tentunya saya bukan satu-satunya orang yang menggunakan jalan di saat itu bukan? Di samping saya, ada mahasiswa sebaya yang juga sedang menaiki motor nya sambil sesekali melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangannya. Di perempatan, mungkin juga bertemu Pak Polisi atau Pak satpam UGM yang membantu menyeberanngkan pejalan kaki. Nah, itu dia! Pejalan kaki. Mereka berjalan bergerombol, sama-sama ingin menyeberang. Menyandang tas yang sama berat, mengemban amanah yang sama pada hari itu untuk belajar. Kadangkala saya juga berpapasan dengan seorang bapak yang sedang dalam perjalanan mengantar dua anaknya yang masih SD dengan motor,mereka saya temui biasanya ketika saya berangkat kuliah sebelum jam 7 pagi. Tak jarang, bertemu dengan ibu-ibu kantoran yang dengan riang mengklakson setiap kendaraan yang ada di depannya. Mungkin itu hobi rutinnya di pagi hari. Hmmm...
Ya, memang banyak orang yang saya jumpai dalam sehari. Saat berangkat kuliah, saat di kampus (ada bapak tukang sapu, ada bapak tukang parkir, ada bapak laboran, ada mahasiswa, ibu dan bapak dosen, etc). Saat hari minggu, bertemu ibu penjual jamur, penjual tahu petis, bapak penjual sarapan, mbak erna penjual sarapan keliling, pak satpam kantong parkir fakultas filsafat, bapak penjualir dompet, agan-agan pengamen, nenek peminta-minta, mas penjual batagor,, bapak-bapak prtugas sunmor keliling,..(Ini mau cerita apa sih??? XD)
Hari minggu ini, saya seperti biasa pergi ke sunmor, tapi agak berbeda dari biasanya. Biasanya sayya pergi ke tempat Rosi pakai motor, lalu tinggal tancap gas bersamanya sambil membawa tenda. Nah, hari ini saya ke tempat rosi naik sepeda. Pukul 6 pagi, menggoes sepeda. Rasanya? Wahhhhh jangan tanya!  It was so.......hmmmm.....^____^
Olie. Itu nama untuk Si Manis Ungu Putih yang saya miliki. Makhluk manis dengan keranjang yang dulu selalu menemani saya kemana saja. Hanya dia satu-satunya yang bisa memberikanku angin sejuk ketika bepergian. Kalau naik motor, saya selalu pakai helm..dan tidak merasakan hembusan angin sesegar saya naik sepeda.
Dulu, waktu bersama Olie...saya sering menginginkan punya motor dan selalu naik motor. Tapi ternyata setelah hal itu terjadi, saya kembali merindukan Olie, dan saya benar-benar merasakan bahwa hari-hari saya lebih indah bila bersamanya.
Hari ini, pertama kalinya saya pergi dengan Olie lagi...tapi dia sudah tidak seperti dulu. Sudah banyak mur yang lepas dan kendor. Sedih sekali melihatnya.. Saya sebenarnya agak kasihan dengannya, bukan tidak mau menaikinya karena malu..tapi lebih karena saya kasihan padanya. Ibarat manusia, kondisi nya sedang tidak baik, bagaimana mungkin saya mengendarainya...
Tapi karena hari itu saya butuh sekali untuk pergi ke sunmor, saya tetap menaikinya dengan harapan setelah pulang dari sunmor saya akan mampir ke bengkel sepeda langgangan saya dulu. Ya, dulu. Waktu Olie masih rajin saya rawat dan jadi makhluk paling menawan di garasi rumah.
Pulang dari sunmor,..ternyata bengkel sepeda nya tutup. Mungkin libur di hari minggu. Akhirnya saya menuju pulang ke rumah, dan saat di tikungan...saya melihat ada bengkel motor. Beberapa hari lalu saya sempat mampir di sana memperbaiki lampu motor, dan bapaknya cukup perhatian dan baik. Dan saya harap, Si Bapak mau memperbaiki Olie walaupun sedikit saja >_< semoga bapak itu juga sayang Olie.
“Bapak.... “ , sapa saya pada Si Bapak yang sedang sibuk di dalam mengutak ngutik sesuatu. Bapak itu melihat saya yang nyengir di ambang pintu. Sekilas, bapak itu melihat saya lalu meneruskan kembali pekerjaannnya sebentar.
“Ah, ya mbak..ada apa mbak?”, katanya.
“Ini Pak..sepeda saya....mau di pasang mur, bisa gak Pak..”, emmm spertinya saya sedikit mengiba pada saat itu. Hehe
“Oh..mur saja. Bisa mbak...bisaaa. Saya lihat dulu yaaa”
Gyaaaaaaa! saya berbinar seketika. Alhamdulilaaaaah......:D
Bpak itu langsung berjongkok dekat sepeda saya, memeriksa Dan dengan riang saya duduk di bangku kecil tak jauh di dekatnya. Mengamati tiap detail kerusakan Olie.Si Bapak banyak berkomentar betapa banyak mur yang kendor dan gampang dilepas. Huhuuu iya Pak...dia sudah tidak pernah kurawat lagi sih. T__T sedih rasanya mendengar ‘diagnosa’dari Si Bapak. Lalu saya jadi bercerita pada Bapak itu tentang Olie yang usianya sudah hampir 4 tahun. Olie kubeli dari waktu saya semester satu. Lalu Si Bapak juga bercertita tentang di mana rumahnya, berapa anaknya,, kuliah di mana anaknya, kesukaaan anaknya yang laki-laki adalah di bidang otomotif.. Si Bapak sendiri lebih ke spesialis shockbeaker, bukan mesin. Si Bapak tertawa ketika saya ditanya apa saya tau beda shockbeaker dan mesin2 motor. Dan dengan polos saya bilang tidak tahu. Lalu beliau menjelaskan sedikit tentang hal itu. Beliau juga bertanya asal saya darimana, mengomentari logat saya yang jauh dari logat jawa. Malah saya jadi curhat tentang bagaimana saya berusaha kembali berbahasa jawa namun selalu ditertawai karena dibilang tidak pantas -__- . Si bapak lalu tertawa dan ikut berkomentar tentang itu.
“Sendirian aja pak, ga ada pegawai?”,tanya saya
“Kenapa? Mbaknya mau bantu-bantu di sini?”, guraunya.
“Boleh, Pak, boleh,.tapi yang ada nanti motor pelanggan jadinya saya rusakin karena saya gak tau caranya”, jawab saya sambil tertawa.
Bapak itu juga bercerita tentang anaknya yang seumuran saya, perempuan. Hebat sekali, dia kuliah di kedokteran hewan UGM.
Hm..saya banyak bertukar cerita dengan beliau. Dan si bapak memberi Olie sidkit olie di bagian standarnya,”Nih. Bonus buat mbaknya. Dirawat ya mbak sepedanya, Bagus ini , .”, pesan Si Bapak.
“Siap Pak! :D”
“Sebenarnya saya gak terima perbaiki speda, tapi karena simpel dan pelanggan..gak papa deh “
“hehe, iya. Makasih ya pakk.. ^___^. Pelanggan? Saya kan baru satu kali pak kesini. Cuma perbaiki lampu motor honda”
“hayoo honda ato yamaha?”
“eh. Iya ding Pak, yamaha. Heheh”
“kok sekarang pakai speda? Motornya ke mana mbak? “
“iitu bukan punya saya Pak...^___^, sudah dikembalikan ke yang punya”
“oh....kembali lagi naik sepeda deh mbak.....?”
“iya pak. Tapi lebih enak pakai sepeda kok. Kalo pake motor, ga menikmati karena was wes wos aja,.lewat lewat aja”
“hahaha, iya mbak, betul, kalo pake sepeda itu sempet tengok kanan kiri, sambil lihat-lihat”, timpalnya.
“trus ini mbak habis darimana?”
“dari sunmor Pak..jualan”
“Ooooo...”
Setelah mengobrol banyak hal, Saya cukup tau beliau adalah orang yang ramah. Hmmm..bagai oase di tengah padang pasir. Bertemu dengannya, bagai menemukan kehidupan di dalam kehidupan. Kali ini, kehidupan tentang seorang ayah yang mampu menguliahkan anaknya di UGM. Rumahnya di Brebah. Beberapa orang memanggilnya ‘Babeh’ karena Bapak itu ternyata lama hidup di jakarta.
“Baiklah Pak...sudah selesai, kan? Nama bapak siapa?”, kata saya sebelum pergi.
“Pak Adi, mbak..”, jawabnya sambil tertawa.
“Oke Pak. Salam kenal Pak...saya Aini. Dadah bapak...terimakasih banyak ya Pak...asalamulaikumm! ^____^”
“Ya. Hati2 mbak Aini”,.ujar beliau sambil tersenyum lebar.
Hmmmm..sayang Olie!
Pak Adi adalah salah satu orang yang ramah yang saya temui di kehidupan saya. Masih ada banyak orang ramah yang darinya saya menemukan kehidupan di dalam kehidupan yang saya miliki.  Seperti Pak Anto, penjual makanan di angkringan dekat rumah saya, Bapak petugas parkir suunmor, dan almarhum Pak Herman (lagi-lagi saya teringat padanya) =). Pertemuan singkat dengan orang yang ramah dan memiliki kesan baik, akan selalu memiliki ikatan batin untuk selalu mendoakannya. Di manapun dia berada.