Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Sabtu, 01 Desember 2012

My December Wish #1

Tepat 30 hari menjelang pergantian tahun baru Masehi,.izinkan saya mengingatkan kembali akan harapan yang saya ukir ketika awal tahun baru hijriyah kemarin. 

Suatu harapan yang paling penting dalam hidup ini menurut saya adalah saya mengetahui apa hakikat hidup di dunia. Bukankah saya akan benar-benar merugi bila sampai pada ujung usia kelak saya masih juga tidak tau untuk apa saya hidup di dunia, dan saya merasa tidak siap untuk ‘kembali’. 

Saat ‘kembali ‘kelak, yang saya inginkan adalah Allah mengizinkan saya untuk dihadapkan wajah saya pada syurga ketika sakaratul maut. Yang saya inginkan adalah Allah menghadirkan rasa rindu di hati saya pada tempat kembali saya, karena saya yakin yang akan menjemput saya kelak adalah hal yang indah. 

Bukankah lebih baik begitu? Bukankah lebih baik saya merasa siap terlebih dahulu terhadap hari di mana saya harus kembali? Bukankah lebih baik saya tidak merasa kaget ketika tiba-tiba harus berhadapan pada hari di mana saya harus ‘pulang’? 

Hal itu akan terjadi HANYA SATU KALI seumur hidup dan saya ingin menghadapinya dengan sukacita, bukan dukacita karena menyesal meninggalkan dunia.
Entahlah, akhir-akhir ini, yang menghantui saya adalah tentang kematian. Alhamdulilah, alhamdulillah, wal hamdulillah....


Kematian adalah suatu alat introspeksi diri yang paling dahsyat yang pernah saya rasakan. Introspeksi yang dahsyat itu datang ketika saya kehilangan orang-orang yang saya cintai dan  orang-orang terdekat saya ; teman saya, guru saya, Pak Herman, Kakek saya, Nenek saya, dll.


 Mereka pulang dengan cara yang berbeda. Teman saya harus ‘pulang’ ketika kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Ia izin sakit, di rawat di rumah sakit, lalu  tiba-tiba saya dan beberapa perwakilan dari teman-teman dan guru harus berkunjung  ke rumahnya untuk melayat. Almarhumah Rinda Dwi Agustin, saya diberi kesempatan umur lebih panjang darimu..mungkin agar bisa menuliskanmu di sini. Memberi tahu pada teman-teman yang membaca tulisanku ini, bahwa mungkin kau lebih baik berada di sana sekarang.

 Kau lihat kami, tidak? Nasib kami berbeda-beda. Setelah keluar dari Pesantren kita tercinta itu, kami tak sebaik dulu. 
Kami tak lebih baik dari ketika kami belajar bersamamu di balik dinding dan pagar tinggi (kita tentu ingat,kita  dulu menyebutnya ‘pure jail’,penjara suci). 

Engkau dipanggil ketika engkau masih berada di sana, masih menuntut ilmu di sana, aku membayangkanmu di jemput dengan malaikat berwajah berseri...karena dirimu ketika itu adalah sosok yang kami kenal lugu dan diam. 
Hanya selalu tersenyum ketika mungkin engkau merasa kami sakiti. 
Bahkan Bu Endeh, guru bahasa Indonesia kita bilang, yang ia ingat darimu adalah senyuman yang terukir di wajahmu. 
Ya,kau memang sosok yang murah senyum. 

Kau tau? Jika aku ceritakan padamu bagaimana kondisi dan perjuangan kami melawan hal-hal duniawi setelah keluar dari ‘pure jail’, kupikir kau tidak akan menyesal untuk pergi secepat itu meniggalkan kami ketika itu. 
Nilai-nilai langit yang kita dapatkan di pesantren dulu, entah kemana. 

Mungkin luntur seiring dengan bertemunya kami pada hal-hal dunia dan tidak ada lagi teteh-teteh asrama yang cerewet menasehati ketika kita sulit untuk bangun shalat subuh dan pergi ke masjid untuk baca al-matsurat karena keasikan makan. 

Tidak ada lagi staf divisi keamanan yang menegur kita ketika kita keluar tidak memakai kaos kaki dan ketika kita pakai jilbab pendek. 

Kurasa juga karena tidak ada lagi ustadzah yang menasehati kita betapa pentingnya halaqoh, berkumpul bersama orang-orang yang bisa mengingatkan kita ketika kita salah. 

Kurasa juga karena tidak ada juga satpam yang menjaga kita agar kita tidak keluar dan pulang larut malam. Tidak ada juga yang menegur kita,”ayo teh...hafalannya ditambah” atau “ayo teh, hafalannya di murojaah”. 

Kebanyakan dari kita, sudah jauh dari kita yang dulu,. Dan andaikan kau masih ada di sini, bersama-sama kami yang seperti itu sekarang ini...kau akan merasa beruntung karena kau ‘pulang’ dalam masa mudamu yang penuh manfaat, dalam usiamu yang masih belia kau mampu pulang dalam kondisi sebagai gadis shalihah. 
Lain lagi dengan almarhum Pak Herman. Beliau mengingatkan saya akan betapa sangat mungkin saya ‘kembali’ dengan tiba-tiba. Hanya kecapekan. 

Minggu kemarin masih berjualan di gasibu, siapakah yang menduga bahwa minggu besoknya kau sudah tiada. Lapak mu kosong. 

Siapa yang menduga ketika saya berencana untuk mengunjungimu, membawakanmu oleh-oleh ini itu, tiba-tiba semua itu hanya tinggal rencana. 

Siapa yang menduga ketika saya masih bisa mengirimimu sms sapaan, dan saya mendapat balasan langsung darimu...lalu pada suatu saat saya mengirimimu sms dan yang membalasnya adalah anak perempuanmu berkata,”papa sudah meninggal minggu lalu”. 


Lalu almarhumah Bu Ayu. 
Darinya, saya belajar betapa ilmu adalah hal yang sangat penting untuk dibagikan. Bahwa menjadi sangat penting untuk menjadi sosok yang menginspirasi orang lain. 
Jadii ketika saya harus pergi, akan banyak sekali orang-orang yang mendoakan dan tanpa didoakanpun, ilmu yang saya beri untuk orang lain akan mengalir pahalanya dengan sendirinya. Barakallah Bu Ayuuu..sungguh saya ingin menjadi guru yang sepertimu.

Untuk introspeksi diri, kadang saya tidak perlu harus mengenalnya,tidak perlu harus pernah bertemu dengannya. 
Ada dua sosok yang mengsinspirasi saya, Almarhumah mbak Nurul F. Huda dan almarhumah mahasiswi kedokteran UNDIP yang meninggal  dalam kecelakaan ketika perjalanan menghadiri seminar. 
Keduanya meninggalkan dunia ini dengan meninggalkan ‘jejak’ yang sungguh berharga. Yang satu, sebuah novel (yang saya baca, cuman baru satu. Tapi sesungguhnya buku almarhumah mbak nurul ada banyak). 
Yang satu lagi sebuah tulisan terakhir sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya itu terjadi. Bukan main, tulisan mereka sungguh berarti bagi yang membacanya. 

Mbak Nurul adalah penderita penyakit klep jantung, namun produktif dan berjiwa besar dalam semua kejadian yang beliau alami. Semua pengalaman sakitnya dan bagaimana dia menghadapinya tertulis jelas dalam buku ‘Hingga Jantungku Berhenti Berdetak’. 

Mereka kukenal, justru karena mereka telah tiada. Mereka kukagumi, justru karena hal-hal baik dari mereka yang mereka habiskan semasa hidup. 

Saya mendoakannya, bukan karena saya mengenalnya. . Malah ketika mungkin saya mendoakan mereka, dan mereka menerima doa saya..mereka mungkin akan mengerutkan dahi,”doa dari siapa ini? Dan ternyata mungkin saja bukan hanya karena saya mereka mengerutkan dahi, tapi juga karena banyak sekali kiriman doa dari orang-orang yang mereka tidak mengenalnya. Siapakah mereka? Ya, para pembaca..yang kemudian menjadi tersadar ketika membaca tulisan – tulisan mereka. 
Para pembaca, yang turut meneteskan air mata karena tersadar dan bertaubat setelah membaca tulisan-tulisan mereka. Lalu mereka berterima kasih pada sang penulis, mendoakan almarhumah .... pasti dengan doa yang setulus-tulusnya. 

Dan bolehkah di penghujung tahun ini saya mengharapkan hal demikian terjadi pada kehidupan saya? Semoga ...semoga. Ya, semoga. Paling tidak, semoga tulisan ini bisa diperbanyak jika menurutmu ini bagus dan akan memberikan manfaat bagi yang membacanya.
Hmmmm....
Ya Allah, buatlah hamba Mu ini selalu tersadar bahwa dunia adalah ‘kini’ dan ‘di sini’. Bahwa akan ada ‘kelak’ dan ‘di sana’, tempat sebenar-benar  kukembali.

Minggu, 11 November 2012

AB for ABle

Di saat saya sedang merasa sendiri
Yang saya ingin adalah bertemu denganNya
Dan berharap Dia pun mencintaiku

Di saat saya sedang membutuhkan pelega hati,
Yang saya butuhkan ternyata bukanlah seorang manusia
Yang kubutuhkan adalah Dia.
Yang Maha mendengar dan menemani dalam ketiadaan wujudNya

Dan di saat air mataku berderai seperti sekarang ini,
Yang kuharap adalah diriNya mengusap lembut hatiku,
membuat ia (hati) menjadi tenang
dan menggantinya dengan perasaan yang indah

-Sahabat yang biasa mendengarkanku bercerita sekarang sudah disibukkan dengan hal yang lain. Ayah punya hal lain yang lebih penting untuk didengarkan (adik bungsu saya), ibu sudah percaya bahwa saya sudah dewasa bahkan dari beliau sekalipun. Teman-teman? tidak, bukan mereka. Mereka adalah tempat saya menggelakkan tawa dan mereka tau saya sebagai gadis yang periang, lucu, polos dan seringkali mereka pun berkeluh kesah pada saya.  Lalu ada orang yang berbaik hati menyayangiku, padahal dia bukan siapa-siapa saya (terimakasih banyak untuk ini =) ). Namun seringkali karena kebodohan saya, saya menangkap hal yang salah dari maksud perkataannya.-

Dari smua ini, saya belajar satu hal, bahwa saya tidak bisa menyalahakan siapapun atas apa yang terjadi pada diri saya. Mereka bukan tercipta untuk memahami saya. Banyak hal yang harus mereka pahami termasuk kehidupan mereka sendiri.

Saya..akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang gadis kecil yang dewasa. Halo kemandirian, yang dulu sempat terbesit untuk saya tinggalkan. Namun saya sadar, bahwa mungkin kaulah sahabat terbaikku yang mampu membersamaiku melewati hari-hari.
Welcome back to my life. .
AB for ABle, semangat! ! ! 
=)

Sabtu, 10 November 2012

happiness

-->
--> Letakkan telapak tangan kananmu di tempat jantungmu terasa berdetak. Disitulah tempat paling ajaib yang kusuka dalam diriku. Tempat di mana segala sesuatu yang terdefinisikan sering muncul. Terdefinisikan? Iya. Sesuatu itu adalah sesuatu yang ajaib, sesuatu itu adalah perasaan. Ajaib. Dan yang paling ajaib bagiku adalah perasaan bahagia. Bahagia, bisa dibilang merupakan modal penting untuk hidup. 

Bagiku, bahagia itu penting.
Karena fase kehidupan tidaklah selalu mulus dan berjalan lancar seperti yang kita inginkan. Tapi menjadi tetap bahagia dengan apapun yang terjadi pda setiap fase kehidupan kita adalah suatu prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi itu sendiri. Ya, orang yang menang adalah orang yang selalu bisa bahagia. Mereka mampu meyakini bahwa setiap hal yang terjadi adalah hal terindah yang pernah terjadi. Aku ingin menjadi orang yang seperti itu,.
Luangkan waktu sejenak untuk menanyakan pada dirimu ttg arti kehidupan lalu tuliskanlah dan jgn
lupa tanyakan juga,sudahkah anda bahagia. Bersama segelas coklat hangat di saat di luar sedang gerimis kecil mungkin lebih baik. Enjoy your time with yourself =)

#Yogyakarta,2-11-2012 DitemaniSebatangCokelatYangAkhirnyaBisaHabisJuga

Ekspedisi Kabur Ke Rajadanu

Minggu pertama kembali ke asrama,..rasanya masih merindukan bocah2 itu. Mereka lagi apa yaaa. . .Biasanya sih kalo jam segini mereka lagi asik baca buku di ruang baca milik kami di rumah. Mengganggu kami yang rasanya sudah ingin sekali tidur siang. hehe.
Ketika sore, teringat Alek, sudah pulang dari kebun atau belum. Kasian anak itu, sekolah iya, bekerja iya. Dan apakah hari ini dia dipukul mama nya lagi. Ade gimana yaaa apa dia masih bandel seperti dulu. Atau jangan-jangan setelah kepergian kami dia sudah tobat Xb

Aaaaaaah pokoknya kami ingin sekali pergi mengunjungi mereka lagi
Tapi kapan yaaa di asrama kan susah keluar,, tapi kami kangen berat  T_T

Akhirnya di antara kami ada yang nekat merencanakan untuk kabur ke Rajadanu. Kami adalah Saya, Salsabila dan Haura. Menyusun rencana menyusup keluar dari asrama pada saat hari libur sekolah yaitu hari jumat. Yeah! Bulatkan Tekad! Persatuan anak-anak bandel, gogogogo! ! ! XD
Hari Jumat memang hari libur sekolah kami, bukan hari minggu seperti sekolah pada umumnya. Akhirnya pagi-pagi kami menyusup keluar asrama dan singkatnya, kami pergi ke Rajadanu. Sesampainya kami di sana, karena hari itu adalah hari aktif sekolah anak-anak SD jadi tujuan kita adalah ke sekolah mereka. Senang rasanya mau melihat mereka dalam balutan seragam sekolah. Waktu dua minggu kemarin mereka libur sekolah sih, jadi nggak pernah lihat mereka pakai seragam.

Dan ketika sampai di sekolah mereka, pas jam istirahat mereka berhambur keluar kelas (anak-anak ashabul ukhdud ada 10 anak). Mungkin mereka sudah melihat kami pada saat jam pelajaran berlangsung tadi dari jendela kelas. 10 Anak itu membuat heboh satu sekolah, dikiranya kedatangan siapa. 'Oh ternyata kedatangan teteh teteh yang kemarin' ^^





Setelah istirahat sekolah usai, mereka kembali masuk ke kelas sambil berpesan bahwa nanti kita jangan pulang dulu. Mereka bikin janji dengan kami, untuk tetap harus ada di rajadanu sepulang sekolah. Hmmm baiklah anak-anak..... ^^

Akhirnya kami main ke rumah Bu Icih sampai siang.
Sekitar pukul 11 anak-anak berdatangan ke rumah Bu Icih dengan berlarian. Mencari kami, tentu saja ^^
Mereka mengajak kami main ke kebun jagung.
Hmm..baiklah, ...
#this day, just for u all ^^

Dan beneran diajak ke kebun jagung ternyata. Baru kali ini saya menyaksikan mereka membawa-bawa celurit. Heiiii mereka SMP aja belum, udah lihai menggunakan celurit, menghalau setiap semak yang menghalangi perjalanan.


Yang lagi makan jagung, namanya Egi. Jagung yang baru dipetik bisa langsung dimakan. Yang dekat denganku itu si Ade (bajukuning).


Dan perjalanan semakin tak mudah ternyata. Semakin becek,semakin licin..dan kami yang tak terbiasa jadi heboh sendiri. Yang kotor lah, apalah..
Tiba-tiba Egi nyemplungin diri ke got yang ada di samping pematang.
"Egi kok lewat situ? Kenapa? Gatel lho nanti", katakami.
"Iya teh, lewat air biar jalannya jadi mudah, kalo di tanah situ licin nanti kepeleset. heheh", katanya sambil mikul  daun jagung. Buat pakan ternak, katanya.
Kami melongo. Iya juga sih, lewat air kan jadi nggak licin.
"Egi nggak berat bawa itu? "
"Enggak teh, udah biasa"
dan dia bener2 bawa itu sampai kita pulang ke rumah, tanpa gantian sama temennya. Wah..mereka emang bener sehari-hari ke ladang.

"Teh, sendalnya dicopot heula. Sini kita bawain", kata Budi dan Ian. Kami berpandangan. Emmm iya juga sih, pake sendal malah bikin tambah licin. Akhirnya kami copot sendal dan sama Egi dan Budi sendal kami dibawain. Mereka sibuk ngiket2 sendal kita di batang tongkat yang mereka bawa. Wah, amazing child... '__'

Well, hari itu senang sekali rasanya.
Libur hari jumat diisi bermain dengan mereka ke kebun, becek2 an, mengambil jagung, lalu sesampainya di rumah Bu Icih jagungnya direbus dan kita makan bersama.
hmmmm ^___^
Setelah hampir petang, kami pamit pulang karena besok harus kembali bersekolah.
Welcome to dormitory. . .

Galeri Bocah Ashabul Ukhdud

Buka-buka file lama....
Dan pas lihat folder 'anak-anak desa Rajadanu tersayang'..

=)
So sweet ketika dikenang dan dilihat lagi.

Ini beberapa fotonya,

di bawah ini foto waktu kami jalan-jalan setelah shalat shubuh. Anak-anak datang ke rumah dan langsung mengajak kami untuk keluar berjalan-jalan.




Yang ini foto saya bersama mereka saat kegiatan bersihiin masjid. Kami foto di atas masjid. =D
dari kiri ke kanan : Alim, Asep, Ian, Heni, Saya, 'kecap', trus yang dua lagi, lupa, Keukeu, dan Emma, eh sebelah Emma ada Ade tuh tapi dia nya balik badan -__-a



Inget waktu selesai nonton lomba voli? Sore itu hujan derassss tapi kita malah seneng ^___^

a wonderfull rain, i think =)



Foto dari kanan ke kiri : Alek, Salsabila, Ade, Juju, Saya


Ade, Egi dan temennya makan nasi goreng bikinan kami..nice dinner di rumah makannya di satu wadah. hahaha...indahnya kebersamaan ^^


Dua gambar terakhir ini waktu kami harus pulang ke asrama. Dua minggu telah berlalu begitu cepat seperti yang saya harapkan diawal. Bahagia memang, karena akhirnya kembali ke asrama. Tapi sedih ternyata lebih mendominasi. Kami pulang dalam lebatnya hujan dan mereka, anak-anak ashabul ukhdud menangis melepas kami. Tidak cukup berpamitan di depan rumah Bu Icih, Bu icih menyewakan mobil kap terbuka untuk mereka ikut mengantar kami kembali ke asrama. Walaupun hujan-hujanan dan duduk di bak belakang mobil, mereka mau. Setibanya di asrama, kami berpelukan lagi.

Ade, Ian dan Egi juga teman saya Lia namanya. Itu mereka yang ada di dalam foto. Berfoto di teras masjid Al-Husna 2, basah kehujanan tuh mereka. Mereka mengantar kami sampai ke dalam. Paling sedih ketika melihat seorang Ade menangis. Hahhhh bukannya dia yang paling bandel dan suka mengganggu kami, menjahili kami, dan paling sulit diatur. Saya merindukan kalian semua. . . Sungguh. =(

Drama Ashabul Ukhdud

Teringat waktu saya melatih mereka drama, pemeran2 pilihan dalam drama Ashabul Ukhdud. Kisah tentang pemuda mempertahankan keimanannya di hadapan seorang Raja yang congkak dan mengingkari ajaran Allah. Pencetus gagasa tema drama ini adalah teman saya yang namanya uswatun. Lalu saya yang membuat naskah ceritanya (dialog dan naskah untuk narator) serta menjadi PJ melatih anak-anak. Layaknya program-program yang diadakan waktu KKN, ibaratnya seperti itulah. Ada program TPA dengan PJ teman saya yang lain, ada program Lomba Voli Remaja dengan PJ teman saya yang lain,, Ada juga program Tabligh Akbar, PJ ta'lim ibu2 (yang jelas ini bukan keahlian saya. hahaha), PJ Lomba mewarnai, PJ  lomba outbond anak-anak, dan PJ yang lain-lainnya lagi. Pokoknya programnya banyak dan seru - seru.


Oia, kembali lagi ke tema sebenarnya ya,. saya mau cerita tentang pengalaman mengajar anak-anak memerankan peran dalam drama. Ternyata hal itu bukan hal yang mudah. Karena anak-anak punya kecenderungan bermain dan bercanda, alhasil saya harus sering teriak-teriak kalau mereka sudah mulai bercanda sendiri dan mengabaikan saya. Jadi kadang-kadang saya suka pura-pura ngambek (ngambek beneran juga pernah sih. ketika itu suara saya sudah benar - benar akan hilang. haha).Kalau saya sudah ngambek, biasanya Ian, Budi atau Alek yang paling peka, lalu dengan sendirinya mereka membantu saya mengatur anak-anak yang lain. Kalau Budi dan Ian masih bisa menegur dengan sabar, tapi kalau Alek...jleger! suaranya bisa langsung meninggi, ngatur2 anak-anak yang susah diatur, membela tetehnya, ga tega karena suara sudah hilang (Cieee). Selesai mengatur, Alek langsung mempersilakan saya untuk melanjutkan kembali latihan,"ayo teh lanjut teh latiannya",katanya.  Ketika mereka bertiga turun tangan, seringkali saya terharu, wah mereka sayang saya ^^


Disisi lain, saya suka melihat keceriaan mereka, mimik serius membaca naskah dan kdang bingung intonasi membacanya. Awal-awal membagikan dan menentukan peran untuk mereka, ada sedikit kendala. Ade tidak mau memerankan peran penyihir jahat. Saya tau, Ade keras kepala, dan akan sulit untuk membujuknya agar mau menerima peran tersebut. Apalagi dia memang berwatak 'sabodo amat'. Tidak tterlalu peduli dengan kami. Menyerah membujuknya, saya hanya menyerahkan naskah penyihir kepada Ade, entah dibaca atau tidak..yang penting saya ingin dia membacanya terlebih dahulu. Dia memang mengambil naskah penyihir yang saya sodorkan tapi kemudian langsung pergi meninggalkan kami yang sedang berkumpul di masjid. Kami berlatih tanpa peran penyihir, berharap Ade akan kembali.

Setelah itu, Ade ketauan suka mengintip saat kami latihan, tapi segera kabur saat ketahuan. Tapi itu nggak berapa lama sih. Suatu hari dia datang dan minta diajari membaca naskah peran penyihir. Tapi terlihat sekali kalau dia sebenarnya gengsi karena sudah merubah keputusannnya. Waktu itu saya cuma tersenyum geli sambil berkata dalam hati,"hihihi akhirnyaaaa mau juga^^". Pas ngajari dia, misal ketika saya menyuruhnya untuk tertawa keras ala penyihir, dia mengeluh sambil tertawa. "Ah teteh mah yang bener aja masa saya disuruh ketawa kayak gitu! Mbung ah! ". Tappi sekali lagi dia akhirnya mau walau penuh perjuangan menahan malu  (atau gengsi yaaa). ^^ Dan susahnya lagi ketika kostum penyihir sudah jadi. Ada jubah punggung, tpi dan tongkat penyihir. Kali itu,, Ade gamau pakai topi penyihir, mungkin dirinya merasa konyol. haduh Ade...gengsinya tinggi banget. Susye ddehhhh ^^

Pemeran utama ada di Alek, yaitu sebagai Raja. Lucu ketika dia  belajar intonasi, karena dia tidak trbiasa memakai bahasa indonesia sedangkan teks nya adalah bahasa indonesia.\


 Lalu ada pemeran sebagai algojo, pengawal, binatang buas (lucunya, karena gatau mesti bkin gimana kostum untuk binatang buas, kami membuat binatang buas itu diperankan oleh dua anak. dua anak itu lalu kita suruh masuk ke dalam sarung bersama-sama. jadi ceritanya binatang buas itu adalah binatang berkepala dua dan mereka mengaum-ngaum. hahaha). Daaaan tiap kali binatang buas diperankan, kita sering tertawa bersama, dan binatang buasnya pun juga ikut tertawa. Biarin lah apapun kostumnya yang penting hepi XD


itu gambar yg di atas, kanan adalah monsternya. tuh kan apa saya bilang, yang ada pemeran lainnya malah ketawa, bukannya serem. XD


Hmm...
nice memory. mereka apa kabarnya?
Masih ingatkah dengan kisah Ashabul Ukhdud yang pernah mereka perankan? Sekarang mereka pasti sudah remaja. Dan menjadi remaja di tengah jaman boyband-girlband seperti sekarang ini pasti sulit sekali.
Akhlaq dan keimanan dipertaruhkan, saya harap mereka bisa seperti pemuda Ashabul Ukhdud, semoga mereka tumbuh menjadi remaja yang baik.  Aamiin.
u__u