Kesimpulan saya, di belahan dunia manapun, anak-anak tetaplah sama.
Semangat yang sama,
Kepolosan yang sama.
Makanya di manapun ada anak-anak, statement orang dewasa selalu sama,"Ah namanya juga anak-anak"
:)
Indias Nurul Aini
- Ai Yotsuba
- “Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya
Rabu, 02 Oktober 2013
Minggu, 29 September 2013
Cerita Aneh (Bingung Judul. hihi )
Lama,
gadis itu mendiamkan kekasihnya. Hanya karena mulai bosan, dengan kata cinta.
Baginya, cinta semakin terasa tidak istimewa saja. Cinta memang menjanjikan
banyak hal indah. Debar jantung yang merambat hingga ke seluruh kulit, rindu yg
menjalar hingga ke lengan bahkan ujung jari bila sehari tak bersua, hanyut dalam perasaan rekah merona setiap
kali bertemu, hingga mimpi janji selamanya yang terwujud dalam cincin yang
diselipkan sang kekasih di jari manis. Tak sampai di situ, cinta juga menawarkan
buah hati yang sempurna bagi pasangan kekasih,keluarga kecil. Yang bahagia
tentunya. Dan, sekali lagi ; selamanya.
Gadis
itu masih mendiamkan kekasihnya. Pemuda yang sedang rantau,yang katanya demi
membawa pulang sebuah cincin pernikahan untuk Si Gadis sekaligus menjanjikan
kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi: janji. Berbulan-bulan lamanya, Si Gadis
harus mengurung perasaan cintanya, buncah rindunya, perasaan perih menjaga
cinta yang tak pasti. Kapan kekasihnya pulang, kapan kekasihnya tak lagi menawar
janji untuk menunjukkan kesungguhannya, hanya pikiran yang mencekat tenggorokan
Sang Gadis.
Purnama
keempat telah berlalu. Sang gadis masih mendiamkan kekasihnya. Sapaan
rutin,”Sudahkah bangun?” di pagi hari selalu juga dibalasnya rutin,” sudah”
tanpa perasaan apa – apa lagi.
Si
Gadis sudah hafal betul sapaan seperti apa yang akan muncul ketika siang,dan ia
hanya perlu menjawab,”ya. Aku sudah makan siang”. Tak jauh beda pula ketika
malam. Hanya selalu perlu menjawab,”iya. Malam ini saya mengajar” dan tak lagi
menjawab ketika kemudian kekasihnya berpesan,”jangan lupa makan malam. Selamat
berkarya..”.
Selesai.
Sehari berlalu dengan sapaan yang tak jauh beda. Sehari, lalu sehari lagi, lalu
sehari lagi, hingga berubah minggu, hingga yang manis terasa tawar. Hingga
suatu yang dulu istimewa menjadi suatu hal yang membosankan. Dulu,gadis itu
percaya ini adalah cinta. Tapi kenapa cinta bisa jadi hal yang membosankan
seperti ini? Masihkah ini disebut cinta?
Si
gadis mulai berpikir,apakah cinta itu. Dan mulai bertanya, benarkah pemuda itu
sungguh mencintainya. Teringat pada pemuda di desa tak jauh tempatnya tinggal,
rajin bertanya apakah Si Gadis sudah siap untuk menikah. Walau Si Gadis
menjawab belum, pemuda yang tak pernah dilihatnya itu selalu menitipkan
pertanyaan yang sama untuknya melalui Emila ,sahabat Si Gadis setiap pergantian
musim. Sepatah pertanyaan yang sudah cukup diketahui si gadis apa maksudnya.
Setiap hari,seiring dengan terbitnya matahari, diselingi dengan menjawab
pertanyaan rutin kekasihnya yang rantau, Si Gadis selalu menyempatkan diri
bertanya pada sang surya. Tentang darimanakah kesungguhan cinta dapat terbaca?
Apakah dari kekasih hati nya yang sedang rantau demi selingkar cincin ataukah
dari pemuda desa yang langsung bertanya tentang kesediaan menambatkan hati
untuk selamanya?
Sang
Gadis yang merasa perjalanan cintanya di situ-situ saja, akhirnya memutuskan
untuk melalui hari yang benar-benar nyata di hadapannya. Kenyataannya, Sang Kekasih
tak pernah ada di sisi. Kenyataannya, hatinya sudah tertambat pada yang jauh di
sana, seolah tak bisa dilepas lagi walau ada yang menjanjikan perjalanan cinta
yang sesungguhnya. Ah, di tengah rasa bosannya menjalani perjalanan cintanya
itu, berkhianat sungguh jauh dari perbendaharaan kosakata yang dimiliki si
gadis. Apalagi berkhianat soal cinta. Cukup sudah dulu hatinya patah karena
dikhianati seorang pemuda pengecut yang selalu bersembunyi atas nama persahabatan dengannya. Dan ia tau betul, luka
itu walau kering namun siap menganga kapan saja setiap kali memoar tentang
pemuda itu kembali. Dan tentu saja Si Gadis tak perlu menjadi seperti pemuda
itu, mengkhianati cinta.
Dengan
pikiran dan perasaan yang mulai meghilang, Sang Gadis menjalani hari. Tak perlu
lagi ucapan kata rindu bila ia merindui kekasihnya. Hanya cukup dengan
tertidur, lalu menitikkan sedikit air mata ketika bermimpi bertemu kekasihnya
yang rantau. Tak perlu lagi mengucapkan selamat tidur, sebab hari-hari yang
dijalaninya sekarang sudah seperti tidur panjang. Tak ada hari baru, tak ada
pagi yang baru, tak ada cuaca yang baru. Semuanya tetap sama, hari yang sama,
pagi yang sama, cuaca yang sama..sebab tambatan hatinya juga tetap tak ada di
sisi, tetap tak ada. Tetap tak ada.
Tak
ada. Dua kata yang semakin akrab untuk kehidupan Si Gadis. Dua kata yang
semakin dipahaminya. Bahwa ‘tak ada’ itu artinya sama dengan ‘tidak ada’.
Seperti tidak ada kekasihnya, tidak ada di dunia nyata, tidak hadir di
sampingnya, tidak ada cinta, tidak ada tawa, tidak ada kupu-kupu , tidak ada
pelangi , masih tetap mendung. Tidak ada yang datang dari rantau, tidak ada
janji yang tertunaikan, tidak ada lagi mimpi, semakin lama dipahami, arti dari
tidak ada adalah tidak ada lagi kehidupan. Tidak ada kehidupan...
Beberapa
tahun berlalu, Sang Gadis masih selalu setia pada kursi di terasnya. Selalu
duduk menerawang ke ujung halaman rumah, berharap kekasihnya berbaik hati untuk
membebaskannya dari tali kekang yang melilit hatinya, yang belum juga lepas
karena tertambat pad hati sang kekasih. Sang gadis mulai berpikir, bahwa
mungkin lebih baik kekasihnya menyuruhnya untuk melepaskan tali itu. Tali
tambatan yang selama ini dipertahankannya untuk tetap ada hanya karena ingin
setia. Orang-orang yang berlalu lalang di depan rumahnya selalu memandangi
gadis kita iba. Tatapan iba karena mengibai kesetiaan Sang Gadis, ataukah
mengibai kebodohan Sang Gadis karena terlalu setia.
Tak
tau sejak kapan, rasa rindu berubah menjadi setangkai dandelion yang kering,
hanya mampu terhempas ke sana kemari setiap kali di tiup angin. Jatuh di
mana-mana, teserak. Namun tak menjanjikan kehidupan yang baru. Terbang ke mana,
mati di sana. Tebang kemari, mati di sini. Tak tau pula sejak kapan, rasa cinta
berubah menjadi tanah yang tandus. Tak lagi dapat menumbuhkan segala hal yang
buruk menjadi indah. Yang ada, hal indah yang datangpun, jadi terasa ikut
kering, layu sebelum tumbuh dan akhirnya mati.
“Delia,
aku datang. Aku datang, Delia. Untukmu! Untuk kita! “, seseorang bersimpuh di
hadapan Delia. Berlutut, meraih pelan kedua telapak tangan kekasihnya syahdu.
Gadis itu menatap dua bola mata di hadapannya. Bola mata yang tiga tahun lalu
dirinduinya. Bola mata milik kekasih hati yang selama ini setia tinggal di
hatinya tanpa seorang pun tau bahwa setitik kesetiaan itu membutakan segalanya.
Membutakan siapa yang datang dan pergi. Membutakan rasa cinta itu sendiri. Delia masih tergugu menatap sepasang mata
elang itu.
“Sayang,
tidakkah ini yang kita harapkan? Aku akan menikahimu, Wahai wanita pujaanku.
Aku kembali!”, pemuda itu makin menggenggam erat kedua tangan Delia. Tatapannya
seolah menggali.kedua mata kekasihnya, mencari sesuatu yang dulu ada di sana.
“Maaf.
Maaf. Maaf. . . . “, Sang Gadis tiba-tiba saja tersedu hingga terguncang dua
bahu nya. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibu nya.
“Ada
apa sayang ??”, pemuda itu mengangkat dagu Delia, memandang gadis pilihannya
yang sedang terisak. Delia memalingkan wajah sambil masih tersedu sedan.
“Ini
aku, Stavino. Tatap aku Delia! Aku kekasihmu!”, Stavino mengguncang kedua bahu
bidadarinya. Seolah berusaha membangunkannya dari tidur panjang. Delia menepis
lengan Stavino dengan sisa tenaga di
sela isaknya.
“Maaf,
maafkan aku. Jangan begini. Aku sedang menunggu kekasihku. Aku sedang menunggu
kekasihku! !”
**The End**
Setumpuk Surat Yang Tak Pernah Sampai
Aku tahu, cinta
adalah sebagian kecil dari apa yang harus kita jalani dalam hidup yang hanya
sekali ini. Semua orang pernah jatuh cinta, bahkan orang cacat mental
sekalipun. Dan saya yakin di hati setiap orang pernah terbesit tentang pertanyan siapakah yang
benar-benar ia cintai di kehidupan ini hingga akhir hayatnya, siapakah yang
benar-benar ia cintai setulus hati, siapakah .. siapakah dan siapakah.
Banyak orang menikah namun yang menjadi cinta sejatinya adalah seseorang yang mungkin tidak mengenalnya di masa lalu. Banyak orang malah memilih tidak menikah karena tidak bisa melupakan cintanya di masa lalu. Orang menikah, tapi lalu bercerai. Orang menikah, kemudian selingkuh. Pernikahan itu mungkin sebuah ikatan cinta. Tapi tidak selalu merupakan ikatan cinta sejati. Kira-kira begitukah? Cinta sejati. Apa itu cinta sejati? Semua orang selalu menyebutnya. Seorang istri yang baik akan mengatakan bahwa cinta sejatinya adalah suaminya. Tidak mungkin ia akan berkata dan mengaku bahwa seseorang di masa lalu adalah cinta sejatinya. Namun, ia mampu mencintai suaminya dengan sepenuh hati karena cinta yang karena Allah, cinta yang telah Allah pilihkan untuknya dan itu lah yang nyata. Maka dengan segera cinta sejati yang dimaksud itu mampu tergantikan dengan cinta yang sesungguhnya. Aku sedang ingin bercerita tentang cinta. Tapi makna cinta yang kupahami hingga saat ini sangatlah luas. Belum lagi dapat memahami arti cinta, aku harus kembali membedakan mana cinta sejati dan mana yang bukan. Lalu, aku memahami satu hal yang sederhana dalam kehidupan ini tentang cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta antara dua anak manusia yang terikat dalam ikatan suci pernikahan, mampu melangsungkan kehidupan bersama-sama, saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan, bersama menaiki tangga menuju syurga. Adapun cinta selain itu, kau boleh menamainya apapun itu. Aku belum tau banyak mengenai definisi cinta, aku hanya mengalaminya tanpa tahu apa yang kurasa dan aku hanya tau aku tak perlu mendefinisikannya.
Banyak orang menikah namun yang menjadi cinta sejatinya adalah seseorang yang mungkin tidak mengenalnya di masa lalu. Banyak orang malah memilih tidak menikah karena tidak bisa melupakan cintanya di masa lalu. Orang menikah, tapi lalu bercerai. Orang menikah, kemudian selingkuh. Pernikahan itu mungkin sebuah ikatan cinta. Tapi tidak selalu merupakan ikatan cinta sejati. Kira-kira begitukah? Cinta sejati. Apa itu cinta sejati? Semua orang selalu menyebutnya. Seorang istri yang baik akan mengatakan bahwa cinta sejatinya adalah suaminya. Tidak mungkin ia akan berkata dan mengaku bahwa seseorang di masa lalu adalah cinta sejatinya. Namun, ia mampu mencintai suaminya dengan sepenuh hati karena cinta yang karena Allah, cinta yang telah Allah pilihkan untuknya dan itu lah yang nyata. Maka dengan segera cinta sejati yang dimaksud itu mampu tergantikan dengan cinta yang sesungguhnya. Aku sedang ingin bercerita tentang cinta. Tapi makna cinta yang kupahami hingga saat ini sangatlah luas. Belum lagi dapat memahami arti cinta, aku harus kembali membedakan mana cinta sejati dan mana yang bukan. Lalu, aku memahami satu hal yang sederhana dalam kehidupan ini tentang cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta antara dua anak manusia yang terikat dalam ikatan suci pernikahan, mampu melangsungkan kehidupan bersama-sama, saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan, bersama menaiki tangga menuju syurga. Adapun cinta selain itu, kau boleh menamainya apapun itu. Aku belum tau banyak mengenai definisi cinta, aku hanya mengalaminya tanpa tahu apa yang kurasa dan aku hanya tau aku tak perlu mendefinisikannya.
Di sini aku akan
bercerita tentang seorang lelaki yang kukenal baik. Seperti yang kubilang
sebelumnya, aku tidak pandai mendefinisikan apa yang sedang kurasa dan kurasa
itu tidak lah perlu. Hanya cukup tau bahwa ia datang padaku menawarkan sebuah
pertemanan.
Saat itu aku tengah duduk di bangku 3 SMP. Saat kami berkenalan,
kita tidak sungguh-sungguh saling kenal. Kami hanya mengetahui bahwa kami
bersekolah di boarding school yang sama, di tingkat yang sama, dan asal daerah
kami yang sama. Berawal dari kesamaan asal daerah itulah kami menjadi saling
kenal, dan teman-temanlah yang mendekatkan kami. Karena kami tinggal di asrama
yang terpisah, kami tidak pernah bertemu. Hanya sekedar saling sapa lewat
handphone ketika orangtuaku datag menjenguk atau ketika teman-temanku sedang
usil membawa hp dari rumah. Ya, memang lucu kedengarannya. Tapi seperti itulah
peraturan di sekolah kami, segala alat komunikasi tidak ada yang dimiliki oleh
individu karena sekolah kami berusaha menyamakan status sosial antar
murid,terlebih lagi di asrama. Sebagai gantinya, sekolah kami menyediakan
sarana warnet dan wartel sebagai alat komunikasi. Terkadang, lelaki itu
meneleponku dari iphone asrama, sekedar menanyakan kabarku. Kadang aku juga
menyempatkan diri online di warnet, berharap-harap cemas dia juga sedang online
sehingga kami bisa mengobrol apapun lagi. Entahlah, kurasa dia teman yang
menyenangkan. Dan aku sering bertukar informasi dengannya mengenai kehidupan di
asramaku dan asramanya. Dua asrama dan sekaligus sekolah yang terpisah tempat
namun satu naungan (yayasan). Ya, ada sekolah putra dan sekolah putri.
Spesifikasi dan diferensiasi gender dirasa perlu agar fokus belajar kami tidak
terganggu oleh hal-hal sepele terkait dunia remaja yang jarang bisa
dikendalikan. Kupikir kepala yayasan tidak ingin mengambil resiko menangani
anak didiknya mengenai kasus-kasus di luar akademik. Apabila ketahuan pacaran
dengan sesama siswa, akibatnya langsung drop out. Ketahuan ‘tekdung’,
lebih-lebih lagi. Sekolah yang aneh di tengah zaman yang modern seperti ini.
Namun sekolah kami mampu menjadi sekolah unggulan karena prestasi-prestasi yang
diraih mampu 3 kali lipat daripada sekolah – sekolah yang ada kota ini. Itulah
yang membuatku ingin berada di sini, aku suka hal-hal yang berbeda. Lagipula
ketika aku memutuskan untuk meneruskan lalu mendaftar sekolah di sini, aku belum
memikirkan bagaimana kehidupanku di sisni nantinya, yang kutau aku akan
menjalani kehidupan yang 100% berbeda daripada anak-anak lainnya. Dan aku suka
itu.
Kembali pada
sosok teman lelaki pertama yang kupunya semenjak aku berada di sekolah ini.
Mendapatkan teman baru dari asrama sebelah merupakan hal yang baru buatku.
Rasanya cocok saja ketika berbicara dengannya. Menyenangkan. That’s all what i
feel. Walau tak tau bagaimana wajahnya, bagiku itu bukan hal penting selama aku
masih kontak dengannya dan semakin mengetahui kepribadiannya. Ia tidak merokok.
Ia suka sepak bola namun tidak memainkannya. Ia suka komputer. Ia suka design
grafis. Ia sempat diperebutkan di divisi intelektual osis dan divisi kesenian
osis. Ia anak ke dua dari empat bersaudara. Ia sederhana. ia pandai
bernegoisasi. Ia seorang yang lembut. Ia suka sekali memberiku sebutan
sekaligus bercanda. Ia tak pernah menyalahkanku. Ia selalu menyemangatiku. Ia
perhatian padaku. Dan pada akhirnya, ia selalu ada di pikiranku.
Ya,ia ada di
pikiranku dan kurasa aku juga mulai ada di pikirannya. Sebagai teman, setahun
kemudian kami bertambah dekat dan menjadi seperti sahabat. Kami semakin dekat, terlebih lagi setelah
kami tak sengaja bertemu dalam suatu acara sekolah. Ketika aku pulang ke rumah,
kami tetap berkomunikasi bahkan semakin lancar saja. Hampir setiap hari kami
bertukar cerita. Tak jarang aku menjadi sering tertawa ketika ia bercerita
tentang sebuah lelucon. Berteriak untuk jagan ada yang mengangkat telepon
ketika teleponrumah berdering sambil lari terbirirt-birit menjadi kebiasaan
baruku. Tertawa sendiri ketika menelepon mejadi hobi baruku. Akhirnya seisi
rumah pun tau bahwa aku sedang dekat dengan seseorang. Hm... saat itu aku tidak
tau apa yang seddang terjadi padaku. Aku hanya tau bahwa aku senang ada dia di
hari-hariku. Itu saja.
Hari-hari
berlalu bahkan bulan, tak terasa berganti tahun pula. Kami duduk di bangku SMA,
akhirnya. Semakin dewasa, tanpa sdikitpun kedekatan kami berkurang. Entahlah,
kurasa aku tau apa yang sedang terjadi pada kami namun aku tak berani
mendefinisikannya. Aku takut bahwa semua ini akan berubah. Dan bila ia juga
menyadari apa yang terjadi pada kami, biarlah menjadi urusannya. Bila yang
kurasa adalah cinta, lalu memangnya kenapa? Apakah harus diungkapkan? Bukankah
cinta adalah rasa, bukan kata. Terlebih lagi, aku wanita. Tidak mungkin aku
mengatakan dan menyadarkannya bahwa ini adalah cinta. Jadi aku memilih
menjalani saja, lagipula aku nyaman-nyaman saja, tidak perlu mendefinisikan apa
yang kurasa tidak pula perlu menamai apa jenis kedekatanku dengannya. Aku hanya
cukup tau bahwa ia tidak punya teman wanita sedekat persahabatanku dengannya,
dan begitu pula aku tidak punya teman lelaki sedekat persahabatanku dengannya.
Apa? Persahabatan? Bukankah itu sudah nama dari suatu hubungan? Hm..entahlah,
suatu cinta yang belum punya nama, kadang definisi persahabatan lah yang paling
sering menjadi kambing hitam.
Kelulusan. Satu
kata yang berarti gerbang kebebasan bagi kami yang tinggaldi sekolah asrama.
Kuliah. Enam huruf ajaib yang mampu memberikan kami banyak impian dan hari-hari
baru untuk dijalani. Dua moment itu tidak terasa lengkap bagiiku tanpa satu
kata yang ketiga; Bandung. Ya, aku gagal mendapatkan kabar lulus dari seluruh
universitas yang ada di Bandung yang kudaftar. Aku tidak lolos seleksi. Aku
lolos seleksi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Seketika mimpiku terasa
terhenti. Mimpiku ada di Bandung. Dua, tuga atau sepuluh tahun lagi bagiku
tetap sama. Mimpiku ada di bandung. Aku lebih terpuruk lagi ketika mengetahui
dia lolos seleksi Institut TELKOM bandung. See? Kami mengusahakan untuk
melanjutkan hidup di kota yang sama, namun aku tidak berhasil. Aku yang tidak
berhasil. Masih teringat betul, di setapak jalan taman monumen nasional, ia
menyemangatiku agar terus melanjutkan kehidupanku di jogja. Sesekali aku masih
bisa ke bandung, dan yang terpenting persahabatan kami akan tetap terus
berlanjut. Ketika itu aku masih takut dan ragu apakah benar kami akan berjarak
seperti ini dan aku sudah bulat untuk hidup di Yogyakarta, sebuah kota yang
terasa asing bagiku sebelumnya. Ketika itu pula aku menatap matanya dalam, dan
mencari kesungguhan apakah ia yakin padaku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku
bahkan berkata padanya bahwa jika ia memintaku untuk di bandung, maka aku akan
mendaftar kuliah lagi di bandung melepas UGM. Namun ia menggeleng, berkata
bahwa apa haknya menentukan arah hidupku, sementara aku masih memiliki kedua
orangtuaku yang berharap aku meneruskan di UGM dan masih memiliki diriku yang
lebih bisa memilih.
.............................................................................................................................................................................................................
Hari-hari
berlalu. Rasa kehilangan yang aku takut akan muncul, kini benar-benar nyata.
Kesepian yang dulu hanya ada di sudut perkiraaanku, kini benar-benar
melingkupiku. Setahun ini aku seperti bukan aku saja. Aku hampa dan aku kosong.
Aktivitasku menurun, aku banyak melamun dan menghabiskan waktu di kos dengan
menangis, menatap benda-benda yang bisa membangkitkan memoriku padanya.
Ketakutanku menjadi kenyataan. Ia menghilang dari hidupku. Ketakutanku ini
membuatku menjadi seorang pengecut. Yang hanya mencari kabarnya lalu
menangisinya, menuliskan kata-kata di sms yang selalu kuhapus lagi, mengisi
lebih banyak lembar buku harianku dan menuliskannya dalam bait-bait tulisan di
sepucuk surat yang kubuat hampir setiap hari. Surat-surat yang selalu berakhir
di dalm sebuah kotak marun, surat-surat yang tak pernah sampai.
:)
Langganan:
Postingan (Atom)
