Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Jumat, 27 September 2013

Bia Bres

Suatu hari, saya lagi benar –benar bete makan  ikan terus. Bukannya nggak besyukur, tapi  saya penasaran, masa sih tinggal di kelilingi pantai begini tapi makan seafood nya ikan lagi ikan lagi. Emangnya nggak ada yang lain, apa?? Saya pun menggalau dengan judul ‘mau makan apa’, jalan-jalan di tepi pantai dekat koramil.

“Kakak, sedang apa kah?”,  Junita, bocah kelas 5 SD itu entah dari mana datangnya, berlari-lari kecil menghampiri saya. Telapak kakinya masih belum sembuh juga, kena pecahan kaca miggu lalu.
“Lagi jalan-jalan aja, Jun. Eh, kakimu itu belum sembuh kan? Awas kena air lho nanti nggak sembuh-sembuh”, kata saya.
“Ah, tidak. Sa hanya jalan – jalan di pinggir pantai saja. Kakak jalan-jalan cari apa kah?”
“Di sini selain ikan, apa lagi sih Jun yang bisa di makan? Kerang ada nggak? Atau cumi-cumi, sotong, atau apa kah gitu. Tidak ada kah di sini?”, tanyaku.
“Ah! Sotong? Sotong ada! “, jawabnya ddengan mata berbinar-binar.
“Ada?? Di mana kah? Itu dipancing, kan? Ayo kita mancing sotong!”, jawabku bersemangat.
“Tapi kita harus cari ikan kecil dulu kak untuk umpannya”, jawab Junita. Yah,males gue. Dua kali pekerjaan dong! Mancing ikan dulu, trus baru mancing sotong! Mending kalo dapet,kalo enggak? Bisa-bisa umpannya yang ujung-ujungnya kita makan! Hadehh...
“Ng....yaudah deh. Kalo gitu jangan sotong. Yang lain aja. apa yaaa?”, saya kembali berpikir, sambil lihat-lihat sekitar pantai.
“Kakak, bia boleh!” , tiba-tiba Junita berseru.
“Hah? Apa?”
“Bia, kak! Bia! Bia bres!”
“Hah? Bebres?? Apa itu? ”
“Itu dimakan, boleh!”
“Dimakan? Bebres bisa dimakan? Oke, oke! Mancing juga kah itu?”, tanyaku antusias.
“Tarada! Cari di dalam pasir saja. Gali-gali!”, kata Junita sambil sibuk mencari sesuatu di pasir. Dia mengambil satu keping cangkang bivalvia yang cukup besar. Bivalvia adalah kerang pipih yang punya dua tangkup cangkang. Yang diambil Junita adalah cangkang bivalvia yang sudah mati, jadi sudah terbelah menjadi dua. Junita mulai menggaruk pasir putih dengan cangkang bivalvia itu. Saya ikut jongkok bersamanya, mengamati.
“Nah, ini Kakak, bia bres nya”, kata Jun sambil menyerahkan sesuatu yang mungil di telapak tangannya yang berpasir.
“Oh.. kerang?”
“Ya! Ini Bia! Bia bres! Bisa dimakan, kakak!”
Saya memandangi ‘benda mungil’ di tangannya. Benda mungilitu biasa kita sebut kerang kalo di Jawa. Kalo di papua, Jun bilang namanya Bia. Tapi saya nggak langsung ngeh kalo ternyata ejaannya adalah Bia Bres. Saya mengira, itu bebres, beibres, atau pelafalan yang semacam itu. Setelah saya melakukan observasi nama-nama lokal untuk kerang-kerang yang ada di situ, baru lah saya tau bahwa mereka menyebut kerang dengan sebutan Bia. Ada Bia Bres, Bia Kakawai, Bia Ronda, dan lain-lain. Tapi buat makan? Ukurannya kecil banget! Paling Cuma 1 – 1,5 cm. Ini mah emangnya cukup buat makan?
“Jun, yang agak besar dikit ada nggak? Kakak mana kenyang makan ini. Ini nanti gimana cara masaknya?”
“Ini dimasaknya direbus, Kakak. Lalu dikasih serai dengan bawang putih, dengan garam. Lalu dimakan deh! Enak kak!”, katanya. Okelah, saya agak nggak percaya kalo barusan saya habis tanya resep untuk urusan perut ke bocah kelas 5 sd. Saya berdoa aja semoga kerang ini emang bisa dimakan dan saya nggak keracunan. Daripada saya makan ikan lagi, bosan!
“Ooooo.. yang lebih besar ada kah tidak?”
“Ng..ada sih. Tapi di sana kak”, Jun menunjuk ke arah hutan bakau di selatan sana.
“Engg,, di sana ya? Yaudah deh kapan-kapan aja kita ke sana. Sekarang kita cari yang ini aja deh, gak apa apa. Tapi cari yang banyak ya Jun. Jun mau bantu kakak?”, kataku. Ngeri juga kalo cuma demi makan, mesti ke bakau-bakau sana. Hiyyyyy!
“Ya! Saya bantu, kak! Mari!”, sahut Junita. Saya mulai menggaruk pakai tangan. Awalnya, saya bingung karena bocah itu cepat sekali menemukan bia. Sementara dia sudah dapat sepuluh bia, saya belum dapat apa-apa. Saya cuma bisa bengong. Berkali-kali saya pindah tempat, mencari peruntungan kali aja faktor saya nggak lucky dapat bia adalah saya mencari di tempat yang emang nggak ada bia nya. Jadi, selama hampir lima belas menit, yang saya hasilkan cuma gundukan-gundukan pasir yang berantakan di sana-sini tanpa menemukan bia satu pun. Garukan saya semakin ngggak yahut lagi. Udah males! Gaaaak dapet-dapet, bete juga akhirnya!
“Jun! Bia nya Cuma dikit ya?  Nyari yang banyak bia nya aja yuk!”, saya terduduk di atas pasir, mulai frustasi. Hoiiii bapak dosen! Saya mau makan susah banget nihhhh. Pokoknya harus dapat A ya!
“Ka Aini cari nya jangan di dekat-dekat air. Di situ tara banyak! Lalu, gali pasirnya jangan pakai tangan. Pake ini! Supaya tipis-tipis saja!” , teriak Junita sambil menahan tawa. Saya bilang dia teriak karena memang begitu kedengarannya.padahal sih bukan teriak, hanya suara anak-anak Papua memang keras dan lantang. Apalagi anak pesisir. Area yang luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit, mungkin itulah yang membuat mereka bicara nya lantang. Junita memberikan sebuah cangkang kerang yang pipih dan cukup lebar.
“ini kak. Garuknya pakai ini saja, supaya cepat”, bocah itu memberikan arahan pada saya.
Saya baru mengerti, ternyata menggaruk pakai cangkang kerang pipih memang lebih mudah. Tangan jadi tidak sakit karena menggaruk dan hasil garukannya pun lebih tipis. Begitu ada bia, akan berbunyi ‘tak!’. Ahahahaha ternyata ini dia rahasianya! Saya langsung bersemangat kembali begitu berhasil menemukan satu bia.
Satu demi satu, kami kumpulkan bia bres yang kami dapat ke dalam sebuah ember kecil berwarna hijau. Bia yang saya dapat, emang nggak begitu banyak. Masih lebih banyak yang didapat Junita.
Bia bres hasil temuan kami itu lalu kami bawa dengan riang menuju koramil.
“Kita makan kerang! Makan kerang! Makan kerang!” teriak saya sambil berlari-berlari norak menuju koramil. Hahaha.

Rabu, 25 September 2013

Sesuatu Tak Berwujud itu Bernama. .


Bab ini sebenarnya sangat tabu untuk dibicarakan di buku penting kayak gini. Tapi, saya nggak punya pilihan lain. Masalahnya, pelaku-pelaku yang suka sembarangan membuang 'sesuatu yang tak berwujud' itu emang harus diangkat ke media! Jadi, di bab ini saya blak-blakan aja deh ya. Ini salah satu kelakuan Trio Kwek-Kwek KKN kami. Buat yang mau meneruskan membaca (disarankan yang 17 taun ke atas), silakan. Bagi yang nggak kuat, silakan lambaikan tangan ke kamera. Check it out, mau cerita tentang apa sih saya sebenarnya?
Ini dia. .
Apa saya bilang! Prediksi saya tentang kentut, bener kan. Kalo masalah yang satu ini, cowok pasti bakal pasang muka tebel. Bagi mereka, kentut adalah hal yang wajar. Nggak kentut maka nggak sehat. Iya juga sih, tapi kan sebagai manusia perguruan tinggi (biar agak intelek), mbok ya jangan  kentut sembarangan. Di negara ini, cukup sampah yang dibuang sembarangan. Nggak usah kentut pake dibawa-bawa segala! Tapi emang dasar cowok, kalo ditegur tentang ini bukannya malah ngerti, malah menjadi-jadi. Kalo nggak pada percaya, saya mau ngutip perkataan kormasit (Kormasit adalah semacam makhluk yang bertugas sebagai koordinator para mahasiswa KKN di tingkat sub unit. Dan di sub unit saonek, makhluk itu adalah Taufiq),” Di koramil, kalo udah malem dikiiiit aja, bakalan terdengar suara-suara aneh dari dalam koramil (karena tata bahasa nya yang baik, jadi biar saya aja yang memperjelas apa yang ia maksud dengan suara-suara aneh itu;: ngorok, KENTUT, ngigo dan temen-temennya). Itu hampir selalu terdengar kalo saya lagi pulang malem sehabis dari silaturahmi ke Pak Sek Des ato karena tuntutan pekerjaan sebagai kormasit”.
Pelakunya tentu aja Trio Kwek-kwek. Kalo nggak Imron, Mamer, ya Hardi. Kalo ditegur, malah makin menjadi. Malah mereka jadi punya gaya baru kalo mau kentut. Yaitu, kalo mau kentut, siul dulu. Pernah nih, saya lagi asik-asik baca buku di halaman belakang rumah. Trus ada Mamer keluar dari kamar mandi. Sebelum masuk rumah, di ambang pintu sempet-sempetnya manggil saya.
“Aiy!”
“Apa?”, refleks, saya noleh.
Dia tersenyum ke saya (ini termasuk gelagat mencurigakan).
“Aku mau siul. Fyuwwww...”
BROTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!
“Aaaaakkk! Mameeeeerrrrr jorooooookkkk!!!!!!!!!!!”, saya langsung pergi tanpa perlu mengidentifikasi tingkat kebauannya. Jorok banget sih tu anak!
 Suatu hari, kita lagi bikin lomba membuat poster. Pesertanya, anak-anak SD kelas 4, 5 dan 6. Lomba ini diadakan di ruang KKG (semacam ruang kesenian dan olah raga). Di dalamnya ada enam meja-meja panjang yang bisa digunakan untuk kerja kelompok. Jadi,sistem lombanya adalah membagi satu kelas menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok bekerja di satu meja. Setelah kertas manila ukuran A3 dan spidol serta alap-alat warna dibagikan, masing-masing kelompok diberi waktu 60 menit untuk membuat sebuah poster yang bertema lingkungan. Ada yang tentang melestarikan terumbu karang, ajakan menanam mangrove, menjaga kebersihan sekolah, dan sebagainya. Sementara anak-anak sibuk membuat poster, kami juga jadi ingin ikutan. Maklum, waktu SD nggak pernah kedatangan kakak-kakak KKN yang kreatif kayak gini dan ngajakin nggambar poster sih. Hehe.
“Ndah, kertasnya masih sisa nggak?”, tanya Saya ke Indah yang lagi duduk di atas meja guru (mentang-mentang nggak ada guru nya).
“Masih kok,masih sisa satu nih”,jawabnya.
“Kita bikin poster juga yuk! Aku punya ide!”,ajakku sambil tersenyum lebar penuh arti.
“Ayok! Ayok!”, Indah antusias banget sama ajakan saya. Agaknya dia juga setuju tentang masa SD yang kurang bahagia karena nggak pernah kedatangan kakak-kakak KKN yang ngadain acara bikin poster.
“Kita nggambar apa ya....”, indah berpikir keras.
“Kita harus bakal bikin sebuah poster yang keren! Ini tentang lingkungan juga, Ndah! “, kataku serius, sambil mulai membuat garis tepi dengan spidol.
“Emang kita mau bikin poster apa e?”, tanya Indah.
“Oke! Jadi, kita akan membuat poster DILARANG KENTUT SEMBARANGAN. Dan poster ini akan kita pajang di RUANG TAMU di koramil!”, sementara ini Indah melongo, saya lanjut menjabarkan konsep desain gambar yang akan direalisasikan.
“Jadi, aku mau bikin plankton di sini, trus dia lagi kentut. Harus ada tulisannya ‘BROTTTTTTT’, lalu di belakangnya ada spongebob sama patrick. Spongbob lagi lari tunggang langgang, patrick kesembur, kedorong kentutnya plankton. Trus kita tulisin untuk kalimat posternya ‘DILARANG KENTUT SEMBARANGAN!’ ”, jelasku.
Indah tertawa terpingkal-pingkal sambil manggut-manggut, “Setuju mbak! Setuju! Trus gambar stik PES juga mbak. Mereka kan suka mai PES!”, kata Indah. Giliran saya yang melongo, tapi beberapa detik kemudian saya ikut tertawa devil.
“Baiklah! Let’s do it!!”, saya dan indah langsung mengambil spidol. Indah menggambar plankton sedangkan saya menggambar spongebob dan patrick. Anak-anak asik sendiri, kita juga dong! Haha. Saya dan Indah semakin menggebu berkreasi. Mendadak jadi muncul sungut invisible di atas kepala kami, nggambarnya jadi kayak orang kesetanan. Sesekali berhenti menggambar karena tidak sanggup menahan tawa.
Beberapa anak mendekat, mungkin tertarik dengan aktivitas ‘kesetanan’ kami. “Wah! Gambar Kak Aini bagusss!!”, teriak Fitri, salah satu murid kelas enam.
“Taradaa! Gambar kak indah lebih bagus! “, sanggah Usman.
“Kakak! Kakak! Yang gambar spongebob siapa kah? Bagus ne?”
“hahahahaha gambar kentut! Dambar dilarang kentut! Hahaha”
Mendadak kelas jadi riuh. Ini yang ngadain lomba siapa, yang bikin kacau juga siapa. Hahaha. Sementara Saya meneruskan gambar, Indah kembali mengkondisikan perlombaan. Anak-anak yang tadinya menghampiri kami, satu persatu mulai tertib kembali ke kelompok masing-masing.
“Wah...nggak bilang-bilang nih pada nggambar! Ikutan dong!”, tiba-tiba sebuah suara testosteron memecah suasana. Imron!
“Apaan nih? D-i-l-a-r-a-n-g k-e-n-t-u-t. Hah? Dilarang kentut? Hahahahahahah!”
“Iya! Buat dipasang di koramil nih! Biar semua yang pada dateng ke koramil pada tau kalo kalian suka kentut sembarangan!”, kata saya berapi-api.
“Wah! Pelanggaran nih, pelanggaran! Ahahaha. Sini gue bantuin! “, dia langsung ambil krayon, malah mbantuin kita ngewarnain dengan sigap. Saya malah bingung. Indah udah ada di samping saya dan dia juga ikutan bengong.
“Eh Ndah, bukannya kita lagi nggambar tentang dia yak? Kenapa dia malah semangat banget mbantuin kita nggambar?”,bisik saya ke Indah.
“Ho oh Mbak, nggak tau tuh. Hahahahaha yowes Mbak, lanjut aja!! hahahahaha!”, jawab Indah. Akhirnya kita bertiga menyelesaikan poster itu, kali ini dengan pelaku yang malah juga ikut mbantuin. Malah dia nambahin ‘semburan’ kentut nya dengan jilatan api-api yang membara. Hyaksss! Setelah lomba berakhir mungkin wajar kalo  kita foto bareng dengan anak-anak beserta poster karya mereka. Yang konyol kalo kita malah juga foto bareng dengan poster DILARANG KENTUT SEMBARANGAN yang kami bikin. Dan itulah yang terjadi! Hahaha!
Esoknya, beneran itu poster ditempel di ruangan koramil. Sama Mas Taufiq malah dibingkai pakai kayu trus dipajang di atas ruang makan, di atas meja makan! Ugh.. +____+

Koramil

Sesampainya di Saonek, kami diarahkan menuju sebuah bangunan di mana kami akan tinggal di sana selama dua bulan. Saya sebut ‘bangunan’ karena saya dan teman-teman bener-bener nggak tau seperti apa rupa calon tempat tinggal kami. Berbentuk rumah kah, atau masjid kayak anak-anak sub unit bonkawir, atau kah bangunan tua? Bekas kantor, mungkin? Atau bareng sama rumah penduduk. Dalam ketidaktahuan itu Saya, Zaim, Lulu, Indah, Gaiety, Lelia dan Mas Taufiq melangkahkan kaki sambil nyeret-nyeret koper yang tersisa. Kopernya kan banyak banget. ‘Porter’ yang ikut di kloter long boat belum rampung pindahin koper setibanya kita di sana. Dari kejauhan, saya bisa melihat sebuah rumah (alhamdulilah), berwarna hijau (alhamdulilah lagi. Setidaknya cat itu menandakan rumah yang pernah dirawat, hijau juga adalah warna surga), ada pager nya juga, ada terasnya, ada halamannya, dan........ada tiang bendera nya lengkap dengan bendera yang berkibar. Yang belakangan kita tau bahwa kita wajib naikin bendera di pagi hari dan menurunkannya di menjelang petang. Ya! Rumah yang sangat nasionalis, bukan? KORAMIL. Di bawah atap rumah hijau ini lah kami akan hidup bersama selama dua bulan.
 Selama dua bulan tinggal di sana, saya hampir nggak tertarik untuk mengetahui apa itu koramil, rumah apa, ditempati siapa sebelumnya, dipakai untuk apa, gimana sejarahnya saya nggak peduli. Yang saya tau adalah ada kamar yang bisa dijadiin kamar khusus cewek atao enggak, ada kamar mandinya atau enggak, kalo ada apakah tertutup ato terbuka. Dapur nya ada ato enggak, air nya nimba ato enggak, tempat jemurannya ada ato enggak, luas ato enggak. Yang pertama, keberadaan kamar cewek itu penting banget. Soalnya saya nggak kebayang aja tidur satu ruangan sama cowok-cowok yang udah saya kenal sedikit bahwa habits mereka pasi out of prediction dan berdasarkan pengalaman, cowok itu urat malu nya rata-rata uda putus. Mau ngupil di depan publik, mau kentut,mau jungkir balik juga mereka biasa aja. jadi sekali lagi saya tekankan bahwa tinggal bersama banyak cowok dalam satu atap, persyaratan adanya kamar khusus cewek adalah harga mati! Dan alhamdulilah di KORAMIL ada 3 kamar. 1 kamar besar dan dua kamar kecil di (bukan kamar mandi lho. maksudnya, kamar yang berukuran kecil). Yang cowok-cowok langsung pake hak veto nya untuk mengklaim bahwa kamar besar akan jadi ‘sarang’ mereka. Kita para cewek nggak keberatan, karena ada 7 cowok yang akan menghuni koramil ini, sedangkan ceweknya Cuma berlima. Jadi kita pakai kamar yang berukuran kecil yang letaknya di seberang kamar mereka, dipisahkan oleh sebuah ruangan yang dihiasi hanya 2 perabot yaitu 1 meja yang pada akhirnya kita sebut meja makan dan 1 kursi yang kita sebut tempat duduk (yaiyalah!). Ruangan itu kita perlakukan sebagai ruang makan. Yang kedua, kamar mandi. Ini juga nggak kalah penting. Jujur, pertama kali mau KKN yang teringat adalah apakah di pos KKN saya nanti akan ada kamar mandi yang layak?  Sebab, denger dari cerita-cerita ‘horor’ para pendahulu yang pernah KKN, kalo lagi nggak mujur bisa aja dapet pos KKN yang nggak ada kamar mandinya. Jadi bisa aja kalian tuh mandi nya di empang. Paling banter, ditutupin sama bilik setinggi leher. Jadi kalo mandi bisa sambil nyapa orang-orang yang lewat. Hiiyyyy!! Dan berdasarkan pengalaman di sub unit bonkawir, mereka kan tinggal di masjid yang nggak ada kamar mandinya. Jadi agenda pertama mereka setiba di masjid yang bakalan jadi tempat tinggal mereka selama 2 bulan itu adalah gotong royong bikin kamar mandi. Bikin WC, bikin saluran WC, gali-gali untuk tempat pembuangan yang ada di dalem WC (you know what lah), dan lain-lain. Pokoknya yang tadinya nggak ada kamar mandinya, jadi ada. Yang tadinya nggak ada dapur, jadi ada. Mereka kerja rodi kayak gitu dibantuin sama warga bonkawir. Saluttt!! Makanya begitu saya sampai di KORAMIL ,yang saya cari pertama kali adalah ada kamar mandi atau enggak. Dan alhamduilahnya, ada. Dan kamar mandinya itu berbentuk bangunan, bukan hanya sekedar sekat. Dan WC nya benar-benar WC (emang ada WC boongan?). Eittss! Jangan salah! Ada lho, WC boongan. Saya pernah ngalamin, waktu kemping pas jaman SMA dulu di daerah Balong Dalem,Kuningan Jawa Barat. Ceritanya, menjelang petang, mahrib-mahrib gitu temen kami  ceritanya kepingin pup (bahasa unyunya BAB). Trus saya ditunjukin,”itu lho Teh, kalo mau buang air, di balong situ”, kata salah seorang penduduk sambil menunjuk ke arah sebuah bilik yang terbuat dari anyaman yang terletak di tepi sebuah empang. Kami pun bergegas ke sana. Hari udah hampir gelap, saya hampir ngak bisa lihat apa-apa kecuali sedikit. Yang pertama, dia duluan. Saya jagain dia. Dan agak kaget sih pas tau-tau dia bilang udah selese. wotttttt! cepet amat! Amat aja belom selese! Setelah itu dia cerita, katanya, pas masuk bilik, temen saya udah kebelet banget. Dan begitu bunyi ‘plung!’ (You know what. Sesuatu yang kuning yang tidak boleh disebut. Eh saya nggak tau ding warnanya apa, kan gelap jadi dia nggak lihat. hihi) dia langsung kaget karena dia mendengar gemuruh kecipak di bawah tempat dia jongkok. Omaigat!!!!! Dia langung mendadak nggak kebelet lagi melihat ikan – ikan lele berebut apa yang barusan saya keluarkan setengah detik yang lalu. Dia lalu buru-buru bersih-bersih lalu pergi ke tenda sama saya, nggak mau ngasih mereka ‘makan’ lagi.. katanya. Hahahahaha!
Kembali lagi ke bahasan KORAMIL, hal terpenting selanjutnya dalam mengobservasi calon tempat tinggal adalah dapur. Yak! Inilah pusat pemberantasan kelaparan. Bayangin kalo nggak ada dapur, beserta kelengkapannya. Minimal ada kompor minyak. Soalnya saya nggak kebayang kalo pake tungku. Kalo liat di film-film dan di serial ‘Jika Aku Menjadi’, masak pake tungku itu mesti tiup-tiup apinya pakai bambu dan bakalan coreng moreng hitam kena asap. Saya emang suka survival tapi nggak sampe seekstrim itu. Hehehe  Di luar dugaan, selain ada  dapur (letaknya di belakang, terpisah dari bangunan rumah utama), perabotnya juga ada. Ada kompor minyak, dingklik (semacam kursi pendek dari kayu), wajan, panci, lemari makan, rak piring dan meja dapur juga ulekan.
Hal penting selanjutnya adalah air dan jemuran. Seperti kita ketahui, air adalah sumber kehidupan. Untuk konsumsi, bisa beli lah. Tapi yang penting adalah untuk nyuci baju, nyuci piring dan mandi! Berbekal dari cerita ‘horor’ tentang KKN yang kalo mau mandi harus jalan dulu ber kilo kilo meter untuk ngedapetin air bersih, lalu pulang dari mandi sama aja kayak belom mandi karena perjalanan pulang yang jauh dan medannya mendaki. Keringetan lagi deh. Dan kalo nyuci juga susah. Mungkin kalo KKN nya di daerah kota, nyuci bisa pake jasa laundry. Tapi kan di Saonek mana ada laundry! Jadi keberadaan air itu penting! Jangan sampai saya menambah cerita ‘horor’ tentang KKN yang sudah melegenda itu. Dan alhamduliah, ada sumur di situ! Yeye lala lala (sorak ala orang alay yang suka ada di tivi-tivi)! ! adanya sumur, menjawab segala kekhawatiran saya.
Sesudah memastikan komponen-komponen sakral itu, saya sungguh tak peduli dengan hal lain lagi tentang koramil. Tapi berhubung saya nulis buku ini dan menjadikan koramil jadi sub bahasan yang cukup oke di sini, saya jadi penasaran apa sih koramil itu. Saya pun langsung buka wikipedia, tempatnya mahasiswa yang ketauan banget males nyari informasi. Hehehe. Kata Neng Wiki, Komando Rayon Militer atau yang biasa disebut Koramil adalah satuan tingkat kecamatan dari TNI yang langsung berhubungan dengan pejabat dan masyarakat sipil. Nggak heran di dalem koramil ini banyak foto-foto anggota TNI yang pernah tinggal di sini. Posenya kayak foto keluarga gitu. Trus ada peta Distrik Waigeo Selatan dan daftar petinggi-petinggi TNI setempat beserta jabatan atau pangkatnya. Ah saya nggak ngerti mereka balik ke sini agi kapan, yang jelas sambil lihat foto-foto mereka, saya cuma bisa bilang, “Pak, kami numpang dulu ya Pak. Kami janji bakal turunin bendera tiap sore dan naikin lagi di pagi harinya”. Nggak kebayang, satu unit ini di bagi jadi dua sub unit yang punya pondokan dengan tipikal yang jauh banget. Temen-temen kami yang ada di sub unit bonkawir tinggal di tempat yang agamis banget. Nggak tanggung-tanggung! MASJID! Dan kami sub unit saonek tinggal di tempat yang nasionalis banget. KORAMIL!

Selasa, 24 September 2013

Wajah-wajah Keluarga Baru


Seiring berjalannya waktu, semakin mantap Raja Ampat di depan mata (padahal nggak punya duit). Open recruitment calon anggota mulai kami buka. Sebagai anggota tim pengusul, tentunya kami udah membicarakan sistem seleksinya kayak gimana. Mulai dari wawancara hingga penilaian langsung pada agenda pertemuan perdana (sok iye banget. Haha).

“Jadi, mau gimana nih kriteria calon anggota nya?”, tanya ghofar. Berhubung waktu itu kita belom punya basecamp atau pun tempat yang cucok buat dijadiin langganan tempat rapat, jadilah waktu itu ghofar, saya, lulu dan ayu ‘rapat’ nya on the trotoar parkiran belakang masjid kampus. Backsound nya abang-abang tukang parkir yang teriak,”Yak! Mobil parkir sana mas! Yak! Masuk terus, terus! Terus!”.

“Kriteria? Serius ini kita mau ngomongin kriteria? Mending kalo banyak yang daftar”, jawab Lulu sekenanya sambil nyatet-nyatet (nyatet apaan sih Lu? Hasil rapat aja kayaknya belom ada dehh).
“Ya setidaknya kita optimis aja gitu lho”
“Yaudah. Alokasikan dulu aja kita butuhnya fakultas apa aja”
“Pertanian, geografi, psikologi, kedokteran kita belum punya. Kayaknya itu deh yang urgent”
“Errrr.. oke. Ditampung deh.”,
“Oke. Lu catet ya. Ntar ada yang woro-woro di grup KKN tentang kriteria nya”

Selain bahas skala prioritas kebutuhan akan fakultas juga ngomongin bahan pertanyaan wawancara. Kayak misalnya,”motivasi nya apa kok pengen jauh-jauh KKN nya?”, lalu, “uda tau di sana tantangannya akan lebih banyak? Ada malaria, adat yang kita nggak tau, de el el” dan pertanyaan tentang kontribusi apa yang akan diberikan ke tim KKN ini. Setelah kira-kira satu jam ngomongin itu, kami bubar dan sepakat ketemu lagi di forum perdana kumpul KKN dengan wajah-wajah baru.

Di luar dugaan, ternyata peminat yang mau gabung ke tim KKN kami lumayan membludak juga. Dan yang paling banyak adalah ‘rombongan saya’, dari Fakultas Biologi. Saya emang ngajakin temen-temen saya di kampus sebanyak mungkin. Overload lebih baik daripadad nggak ada sama sekali, pikir saya waktu itu. Dan heran juga, banyak yang mau terima ajakan saya. Jadi mikir, jangan-jangan habis ini saya lolos jadi anggota MLM! Hehe. Tapi tetep aja jadi nggak imbang dari segi jumlah. Mau ngapain anak biologi sebanyak itu. Ah biarin deh itu masalah nanti. Lagipula dengan sendirinya pasti akan ada seleksi alam. Sebeb nggak menutup kemungkinan mereka yang pada daftar sekarang nyalinya berubah jadi ciut ketika udah mendengar tetek bengek tentang rencana KKN kita ke depan. Terutama kalo mereka denger masalah DUIT.

Kumpul perdana waktu itu lokasinya di selasar gedung rektorat. Formasi duduknya lingkaran, ngak berjejer kayak orang lagi nonton layar tancep kayak pas ‘rapat’ oprec minggu lalu. Awalnya saya pribadi, melongo liat siapa-siapa aja yang dateng. Bukan karena udah kenal, tapi malah karena nggek kenal sama sekali dan tampang-tampang nya itu lho..wuaoooww. Sangar-sangar. Beberapa tampak seperti anak MAPALA. Kebayang saya yang menye-menye ini bakal idup dua bulan sama para lelaki yang dari tampang aja kayaknya udah bisa berantem sama harimau. Semakin banyak yang datang, semakin kita memperbesar diameter formasi lingkaran kita. Acaranya sih gitu-gitu aja. Perkenalan, nama saya anu dari fakultas una. Tapi lumayan ,makan waktu karena jumlahnya hampir 30 calon anggota. Lalu cerita singkat tentang rencana KKN dan gambaran program utama serta cerita dikit tentang calon lokasi KKN. Dan pas ditanya kenapa gabung KKN ini, rata-rata jawabnya klise; ingin cari pengalaman baru.

Besoknya, saya dapet sms rapat tim open recruitment lagi. Dapet laporan kalo ternyata sebgaian besar mengundurkan diri. Dan mulai ternyata nggak diijinin sama ortu KKN jauh-jauh, sampai pada alasan baru tau kalo SKS nya belum mencukupi untuk ambil KKN.  Jadi, kami memutuskan kalo kita masih memungkinkan untuk terima pendaftaran lagi.

Hingga pada akhirnya, sampailah kita pada pertemuan kedua anggota baru. Shock abis deh waktu tau wajah-wajah nya beda 100%, bukannya pada beda penampilan atau habis pada permak wajah. Tapi emang orangnya beda sama yang kemaren dateng rapat perdana! Ini pada kemana yang kemaren daftar? Kenapa wajah-wajah baru semua nih?
Hesa dan Dirhan. Kesan pertama buat keduanya, sungguh sangar. Hesa, Putra Balikpapan yang kuliah di Fakultas Hukum  ini berperawakan tinggi, jangkung (udah tinggi, jangkung pula), rambut keriting, kulit kecoklatan dan suara nge bas. Suka pake topi bulet ala mas mas pengamen gitu sama jeans bolong-bolong. Tinggal pegang gitar trus ditaruh di perempatan, jadilah! (Jadi apa? Tanya Pak Tarno aja. Jadi apa Prok..prok..prok..). Ditambah gelang-gelang karet dan kayu yang dipakai di tangannya, kayaknya ini anak sejenis preman jalanan. Tapi baru kali ini  saya sulit membedakan preman jalanan yang beda tipis sama pengamen. Hihihi.
Sedangkan Dirhan asalnya dari Ambon. Dari tampang sih nggak meragukan kalo dia petualang sejati. Orangnya friendly dan baik hati. Moment yang paling saya inget adalah  dia minjemin saya power bank pas di kapal menuju Waisai. Terombang-ambing di tengah laut nyari cas an, ternyata diapahlawannya, haha thanks Dir.

Tommy. Cowok putih yang belakangan ini yang dari awal ketemu emang narsis dan orangnya rame kayak kaleng rombeng ini kuliah di Fakultas Peternakan dan tercatat sebagai atlet pencak silat papan atas (Eh Eniwei, pencak silat termasuk atlet nggak sih? Yang jelas, bukan binaragawan kan?). Hobinya adalah suka koar-koar kalo dia itu ganteng. Tommy orangnya baik, solidaritasnya tinggi, lucu, dan suka bantuin program temen-temennya walaupun jadi melalaikan programnya sendiri (Iya kan Tom? Hehe)

Zaim. Mahasiswa Fakultas MIPA ini nggak banyak omong. Dia ngomong untuk hal-hal yang dirasa penting aja. Saya sering banget ketemu orang—orang aneh tapi orang ini yang paling aneh. Mengenal Zaim, jadi menyadari sesuatu bahwa unik, aneh dan antimainstream itu beda tipis ya?  Trus sekarang kalo saya tanya, orang normal kan kalo pake sendal jepit itu njepitnya di antara jempol kaki dan jari kedua kaki. Nah, kalo orang yang njepitnya di anta jari kedua dan jari ketiga kaki itu termasuk aneh, unik atau antimainstream??? Soalnya Zaim kalo pake sendal jepit, kayak gitu. Tapi dibalik keunikannya itu, saya salut dengan kesabaran dan ketabahannya dalam mengurusi tim KKN ini. Orangnya enjoy, dan kayaknya dia jadi kormanit yang paling enjoy (kayaknya lhoo..). Soalnya seumur-umur KKN yang dua bulan itu saya belum pernah lihat dia depresi atau marah-marah ke kita terkait dengan KKN. Dan bila ada masalah, dia akan menyampaikan pada kami dan mendiskusikannya bersama-sama.

Taufiq. Sama kayak Hesa, dia juga di Fakultas Hukum. Dia paling dituakan di sini. Kalau bicara sungguh tertata. Sempet saya pikir, di tim ini cuma dia yang berpendidikan. Yang lainnya lebih kelihatan aneh, gila bin ajaibnya daripada terlihat seperti orang terdidik. Hehe. Tapi kadang dia suka nyebelin juga, sih apalagi kalo lagi ngantuk atau lagi fokus pegang stik PES. Apalagi kalo dia mengomentari saya,"Aini kamu polos banget sih disuruh apa-apa aja mau" di saat saya mengiyakan permintaan tolongnya. Rasanya tuh pengen lempar plastik batagor lagi ke mukanya, tapi sayang di sana kan nggak ada batagor. Kan saya mengerjakan apa yang dia suruh karena saya ngehormatin dia sebagai kormasit. Ck..ck..ck.. Seharusnya saya dapet apreciate, sebab jadi anggota KKN Saonek yang paling nurut,

Mamer. Saya agak nyesel nyebut Tommy kaleng rombeng, karena saya baru mikir. Kalo Tommy aja rame nya kayak kaleng rombeng, Mamer apa dong?? Masalahanya, dia tiga tingkat lebih tinggi level rombengnya daripada Tommy. Cuma ada tiga kemungkinan kalo dia ngomong: nggak bener, nggak penting, atau jorok. Eniwei, dia yang paling kacau di antara kita semua. Tapi jujur, mungkin tanpa Mamer, KKN kita nggak akan bahagia karena nggak ada yang bersedia jadi bahan lawakan. Saya rajin berdoa semoga dengan adanya Mamer dan Tommy di tim KKN ini, nama baik Fakultas Peternakan masih terjaga. Aamiin

Dindy. Mahasiswa Teknik yang alim. Sungguh tidak tercemar dan terkontaminasi kegilaan beberapa anggota KKN kami.

Ragil. Mahasiswa Teknik Fisika ini sama-sama ngapak kayak saya. Orangnya pendiem dan saingan alimnya sama Dindy deh kayaknya. Saya mau minta maaf karena saya sempet kira dia ini perempuan soalnya nama panjangnya Desy Ragil. Heheh. Peace Gil....^^v

Ghofar dan Sandi. Sama-sama mahasiswa Fakultas Ekonomi. Kalo ghofar orangnya friendly, kalo sandi orangnya aneh dan kontroversial. Itu sudah.

Imron. Cowok tinggi item ini dari Fakultas Psikologi. Kalo Tommy suka ngaku-ngaku ganteng, Imron suka tebar pesona, mengklaim 'gue adalah cowok yang merawat diri', pintar bicara (dalam artian punya intonasi bicara yang meyakinkan pendengarnya), dan suka nggombal nggak penting. Tapi di sisi lain dia adalah cowok yang perhatian. Kalo inget dia, jadi inget Hakazawa ketua kelas nya Maruko Chan termasuk style rambutnya yang melambai. Hihihi. Oia, dan catatan penting: Dia orangnya juga Kacau kayak Mamer. Berrrrrrrrrrrrrhati-hatilah!

Ega. Kalo saya bilang imron cowok tinggi item dan Hesa cowok tinggi jangkung, Ega lain banget dari mereka. Cowok MIPA berperawakan kecil imut-imut ini (saya nggak bilang pendek lho) terkenal dengan jenggotnya. Badan boleh unyu, tapi semangatnya mungkin melebihi kita-kita. Dia lah orang pertama yang menjadi salah satu semangat saya memutuskan bergabung di tim KKN hebat ini. And thanks masbro, kamu bener membuktikan pada saya bahwa ini mimpi mu dan tidak mengkhianati saya sebagai ‘awak’ hinga akhir perjalanan meraih mimpi.

Jovan dan Bas. Ngomongin Bas dulu deh. Mahasiswa teknik sipil ini duet sama Ega tentang konspirasi ide gila KKN ke Raja Ampat ini. Dia juga yang nyalain api semangat saya dan teman-teman untuk tetap mengikatkan diri pada tim KKN ini apapun yang terjadi. Jovan dan Bas adalah perpanjangan tangan dari Pak Adam selaku DPL. Terutama lebih kepada alasan karena mereka adalah anak sipil, penggerak utama program unggulan KKN ini.

Hardi. Mahasiswa Teknologi Pertanian ini kesan pertama yang ditimbulkan adalah kalem dan kayaknya ‘sekelas’ sama mas taufiq. Awal-awal, dia nggak ikut kumpul karena lagi Kerja Praktek di Danone. Sampe-sampe kita nggak tau Hardi tuh siapa. Pertama kali dia ada di forum rapat, kami kerjaannya minta maaf melulu ke dia karena inventaris orang-orang kacau di kelompok ini lumayan mendominasi. Tapi setelah itu saya nyesel minta maaf gitu ke dia sebab tak disangka dia cepat banget beradaptasi sama kegilaan yang ada. Dan jadilah dia Trio Kwek-kwek dengan Imron dan Mamer. Trio kacau dari Tim KKN PPB 06.
           
Umam, Bayu dan Adek. Mereka dari Fakultas Teknik.  Simpel nya, mereka semua kayaknya ‘sekelas’ dengan Mas Taufiq. Sistematic, Logic, de el el yang belakangnya ‘ic’

Sisanya, kita sebut The Best Ten. Pasukan cewek-cewek cantik yang ada di tim ini. Ada Ayu dan  Saya dari Fakultas Biologi. Lalu ada Mbak Dea dari Kehutanan, Fitri dari Ilmu sosial dan Politik, Nurma dari sastra jepang, Lu’lu dari sastra arab, Jems dari statistika, Gaiety dari sosiologi,  Indah dari pertanian dan Lelia dari Teknologi Pertanian. Kita semua kalem-kalem, kalo gila ya di dalem aja. Jaga image gitu loh. Hehe. Pertama  kali cewek-cewek ini terkumpul dan fix menjadi bagian yang sah dari anggota KKN ini, yang pertama kali di observasi adalah siapa yang pinter masak. Dan yang memenuhi kandidat itu adalah Ayu, Nurma, Indah dan Lulu. Yang lainnya sih sekedar bisa aja kali yaaa. Hhehehe.