Indias Nurul Aini

Foto saya
“Jangan Percaya Saya” Saya adalah seorang gadis kecil yang suka berbohong Kalau saya pinokio, maka hidung saya pastilah akan bertambah panjang tiap kali saya tersenyum dan tertawa sambil berkata,”hahaha saya baik-baik saja ^___^ “ dan kalau rahasia bisa diuangkan, pastilah saya sudah kaya raya

Selasa, 24 September 2013

Sebuah Lukisan Cantik

Hadiah terindah adalah ketika saya mendapatkan gambaran diri saya lewat lukisan orang lain. lukisan itu tidak melulu harus berupa coretan cat warna di atas kanvas, sebab lebih sering saya dapati gambaran yang disampaikan lewat tulisan bisa menjadi lebih jelas daripada gambar itu sendiri.
dan saya ingin berterimaksaih untuk sahabatku Lelia. Kado terindah, kalo saya bilang (walupun saya nggak lagi ulangtaun, tapi ini sungguh kayak dikasih kado). hehe

I.N.  Aini ( The Beauty of Simplicity)
Aini adalah kesederhanaan. Banyak yang bilang dia polos, entah dengan kecondongan ke kanan atau ke kiri. Banyak juga yang menyayangkan kepolosannya. Bahkan kata polos dan bodoh  pernah menjadi bahan pikirannya cukup lama.

Tapi menurutku aini adalah representasi dari kata sederhana. As I always said, simplicity isn’t  simple et all, bagiku. Dan itu ada pada aini. Jika saya ditanya, siapa yang paling ingin contoh karakter dasarnya, saya akan menjawab, aini.

Berpikir tentang aini adalah berpikir tentang kesederhanaan. Apa yang dia tampilkan, apa yang dia pikirkan, apa yang dia inginkan. Semuanya tentang kesederhanaan. Dia tidak memiliki banyak keinginan, dia membiarkan yang hendak terjadi, terjadilah. Yang seharusnya terjadi biarlah terjadi. Dan dia memiliki alur berpikir yang sederhana. Entahlah, barangkali dia berpikir tidak usah mengintervensi Tuhan dalam mengerjakan kehendakNya, barangkali dia berpikir mungkin manusia hanya menunggu dan tahu jadi saja, selebihnya urusan Tuhan. Termasuk saat hp-nya hilang, termasuk saat ia dianggap tidak bisa masak, tidak pernah masak, semua anggapan itu seolah bahkan tidak pernah mengusiknya.
Apa yang dia inginkan tentang masa depan, dia pernah bercerita, mengalirlah saja. As simple as that.
Melihat aini, timbul dalam benakku sebuah view di bawah pohon rindang yang didepannya mengalir sungai jernih yang mengalir pelan. Tenang. Maka tak heran, aini paling rusuh saat ada sesuatu ekstrem yang dia alami, misalnya mundurnya kormanit  yang terhitung tiba-tiba, aini menjadi yang pertama kali bereaksi. Dan ia menyimpan pengalaman itu lama di benaknya.

Aini itu, kawan yang special. Ia mudah sekali menerima apa yang diberikan padanya, termasuk tugas-tugas, ia akan dengan lapang tangan menerima dan mengerjakan. Seorang kawan menyebutnya “calon istri yang berbakti pada suami”. Karena kepolosannya banyak yang sering merasa gemes padanya, bukan lamban tapi polos. Ia tidak pernah mempertanyakan perlakuan yang tidak adil, karena diotaknya (barangkali) semua perlakuan adalah adil, hehe. Berpikiran positif barangkali menjadi alasannya selalu sederhana. Ia selalu mudah tertawa, tertawa dengan sederhana, tidak pernah terpingkal, wajah yang tanpa ekspresi, jika sedih dan takutpun biasa. Ibarat jus, aini adalah jus timun.

Pada masa sebelum keberangkatan KKN, aini menemaniku belanja untuk keperluan sub-unit, seperti beras, mie, kopi, susu, dan sebagainya. Termasuk melengkapi keperluan program untuk alat tulis. Pada waktu belanja itu, saya mendapat gambaran bahwa beruntungnya jadi aini yang berpikir sederhana. Dari sekian banyak kesederhanaan yang ia tampilkan pada performance, pikiran, harapan, dan sikap, yang paling membuatku iri adalah jalan pikirannya. Itu hal besar yang ingin aku miliki selama aku hidup seumur-umur.
Sebagaimana saya sering mendapat masalah karena terlalu banyak berpikir, maka jika saja pada awal perjanjian kehidupan saya bisa memilih, saya memilih jalanpikiran yang dimiliki aini. Eump, tapi duhai ALLAH, saya tidak pernah menyesal dan tidak pula sedang berandai-andai. Current condition of me is the best part, the best gift, coz You always gives us the best. I do do do believe it more and more.
And also current condition of aini is the best gift for her. There’s no crossed gift.
Coz Aini is the beauty of simplicity.

Selasa, 17 September 2013

Old notes


Hanya memindahkan catatan singkat di awal tahun ini.
13 januari 2013

Saya. Saya yg anda kenal sebenarnya hanyalah seonggok daging. Seonggok daging yang bisa berjalan dan tersenyum kepada anda karena ada ruh yang menghidupiku. Ruh ini, kuharap adalah seorang bidadari syurga. Maka sesungguhnya bila memang benar demikian (dan seperti itu pula lah harapanku), maka ketika saya sudah tidak bisa berjalan lagi di atas bumi, bukan berarti saya sudah tiada. Saya hanya kembali menjadi bidadari. 

Setelah saya sempat merasakan hidup di dunia ini,terpikirkan hal terindah yang sangat mungkin akan terwujud, jika Tuhanku menghendaki. Hal indah itu adalah sebelum saya kembali menjadi bidadari yang sesungguhnya adalah saya bisa membersamai anda, menjadi bidadari untuk anda.
Saya hanya ingin menjadi bidadari. Sebelum ataupun setelah anda miliki. Seperti yang dulu anda bilang, kebaikan lah yang anda inginkan dari apa yang akan dijalani. Jadi, yang sebenarnya anda inginkan adalah kebaikan, bukan saya. Jadi, ketika saya harus pergi suatu hari nanti, tetaplah mengejar kebaikan. Ketika saya tidak ada di hari-hari anda, tetaplah dalam kebaikan. Ketika jauh dari saya, tetaplah dekat dengan hal-hal yang baik. 

Surat ini kelak akan sampai pada anda di salah satu dari dua moment yang sangat mungkin akan terjadi terlebih dahulu. Yaitu ketika saya bisa mengalami momen bahagia bersama anda dalam suatu ikatan yang suci. Atau..ketika saya harus pergi meninggalkan mimpi indah saya untuk membersamai anda di dunia. Semoga hal terakhir yang saya sebutkan,tidak terjadi. :’)

#saya kehabisan kata.  Apa yang harus kukatakan untuk melepas kepergian anda setahun ke depan

Dia Tetap Bilang, Aku Bidadari


Mampukah aku menjelma menjadi bidadari seperti yang diimpikannya? Yang cukup dengan kehadiranku, tak perlu merasa ingin mendapatkan istana sebab ia telah bersama seorang ratu yaitu aku. Yang tidak merasa perlu ada fasilitas mewah dan segala hotel berbintang sebab aku selalu menyertakan cintaku di atas apapun yang kulakukan untuknya, walaupun seandainya yang bisa kuberikan hanyalah cinta di atas sebuah tempe goreng. Yang tanpa perlu menghadirkan kereta kencana, ia merasa cukup sebab aku adalah bidadarinya.
Aku tau ia mencintaiku.

Teramat. Bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padanya. Dan bila terluka hatiku, luka di hatinya bisa jauh lebih menganga. Tapi tetap saja. Walaupun aku tahu jelas hal itu, kenapa masih saja aku sering membiarkannya tahu setiap kali ia tidak sengaja membuatku terluka. Dan aku juga tau ia selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku seperti apapun keadaannya. Tapi kenapa masih saja aku selalu membuatnya merasa menjadi buruk di segala hal terhadapku.

Ya. Dia bilang, aku bidadari.

Tetap bilang bahwa aku bidadari, bahkan setelah semua yang kukatakan padanya tentang semua kekecewaanku. Kata-kata singkat hasil dari emosi sesaat dan keegoisan yang menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuannya di saat dia jauh dari pandanganku.

Tetap bilang bahwa aku bidadari, bahkan selagi aku ngambek karena sesuatu hal kecil yang seharusnya bisa jadi bukanlah persoalan yang rumit.

Entah masih pantaskah aku disebut bidadari. Kurasa,belum. Belum, sebab sikap yang kutunjukkan selama ini bukanlah tentang ngambek saja lalu menjadi diam. Bukan tentang setelah membuatnya merasa buruk lalu aku menjauh dan hanya bisa menyimpan rasa bersalah. Sungguh bukan tentang itu. Sebenarnya dalam benakku, setelah ngambek dan jadi diam, ada kalanya aku ingin meluapkan rasa bersalahku dengan memeluknya. Tanpa bicara, kuingin mampu tunjukkan bahwa sesungguhnya aku menyayanginya. Menyampaikan kegundahan dan kekecewaanku tanpa aksara, sebab dengan bicara ternyata aku hanya bisa memperburuk keadaan.

Sekarang ini aku hanya mampu menyakiti, tanpa bisa membenahi. Aku hanya selalu menerima maafnya, tetapi tidak pernah meminta maaf. Aku hanya mampu menulis di atas kertas betapa bahagianya aku ketika dia berkata bahwa ia mencintaiku tanpa bisa membalas pernyataannya itu. Seandainya bisa pun, setelah aku berkata bahwa aku juga mencintainya maka ada sisi hatiku yang teriris dan seolah berbisik,’kau telah menodai dirimu sendiri’. Beribu maaf ingin kulayangkan padanya, ketika aku membiarkannya terkurung dalam kesedihan karenaku. Tapi maaf, sekarang aku belumlah bidadarimu. Aku hanyalah gadis kecil, yang tukang ngambek, pembuat masalah sepele menjadi persoalan rumit, mudah kecewa, sensitif, egois, tanpa bisa membenahi hatinya setelah menumpahkan semua kepadanya.

Sekarang biarkan aku memberi pertanyaan.

Bisakah sejenak ia melupakanku? Bisakah sejenak ia meninggalkanku? Membiarkanku menjadi kupu-kupu di saat yang tepat. Sungguh tak bisa aku menjadi bidadari sebelum saatnya. Sama seperti ulat yang tak kan bisa menjadi kupu-kupu cantik walaupun kau robek paksa ia keluar dari kepompongnya.
Tapi, disisi lain, baliklah pertanyaannya. Menjadi retorika untuk diriku sendiri.
Bisakah sejenak aku melupakannya? Bisakah sejenak aku meninggalkannya? Membiarkan aku sendiri. Menafikan bahwa sesungguhnya dia memang sudah terlanjur ada di hatiku. Berpura-pura tidak merindukannya.

Mau tau jawabannya?
Yang jujur atau yang bohong?
Yang jujur?
Jangan deh. Itu hanya akan memperjelas semuanya
Yang bohong saja?
Oke. Sebab kurasa itu akan membuatku semua yang kurasa tidaklah nyata.
Jadi, jawaban bohongnya adalah, .
Aku bisa melupakannya. Aku bisa tanpanya. Aku bisa sendiri dan merasa baik-baik saja. Haha, dan yang benar saja! Dia memang sudah ada dalam hatiku tapi sepertinya aku bisa memendamnya dulu dan tidak menunggu juga mencarinya jika dia tidak ada. Aku bisa meredam rinduku padanya hingga tiba saatnya nanti aku menjadi seorang bidadari yang sesungguhnya.

Jadi bagaimana? Sudah lihat kah perasaan seorang gadis kecil yang merana karena mencintai sebelum waktunya? Seperti ulat yang sudah dianggap menjadi kupu-kupu. Ini salah,bukan? Memang sepertinya sudah salah dari awal.

Tapi selalu, dalam kisah cinta tidak ada yang salah. Hanya di saat yang belum tepatlah semua jadi serba salah. Pada saat itu, mencintainya menjadi sebuah kesalahan. Tidak mencintainya pun, suatu kesalahan sebab aku tidak bisa menafikan hatiku sendiri bahwa aku mencintainya. Kau tau? Akan terasa sakit bila mengingkarinya. Itu masalah hati.

Dongeng klasik memang selalu memberikan ‘happily ever after’. Dan memang benar, kebahagiaan itu adalah mencintai seseorang di waktu yang tepat.

Rabu, 04 September 2013

SDN 01 Saonek Raja Ampat

Anak-anak nan lucu dan imut-imut ini adalah putra-putri kebanggan Raja Ampat. Mereka selalu semangat bernyanyi dan berlari (namanya juga anak-anak. hihi).

Riantini (foto atas) dan Nia Salim (foto bawah). Saya kangen sekali dengan mereka berdua. Dua bocah itu cerewet banget. Kalo Tini, paling sering tertawa kalo lihat saya. tertawa sambil lari dan ngumpet-ngumpet. Sesekali kepala nya nyembul dari persembunyiannya untuk melihat saya. Tapi ketika kepergok saya, dia segera lari tunggang langgan sambil terpingkal--pingkal. Dan pas saya tanya kenapa tertawa terus, dia cuma bisa bilang,"Kak Aini imut, ne?!", tak lupa dengan binar mata takjub dan cengiran lebarnya. Aish aishhhh! kecil-kecil tukang gombal begitu. hahaha.
Nia nggak kalah cerewet. Saking cerewetnya, dia nggak nyadar kalo ngomong nya sering salah. Misalnya, ngomong pepsodent, salah. Malah ngomong PESPODENT! Dan ternyata dia emang nggak bisa ngomong pepsodent. Bisanya PESPODENT. Nia ini orang jawa. Pernah dia menangis karena teman-temannya mengejeknya orang jawa.

Nah kalo gambar di bawah ini, saya abis pulang mengajar sama indah. Status kami adalah Guru Bantu Sekolah Dasar.
Foto di atas ini saya ambil pas saya ngajar di kelas empat. Habis nya mereka lucu banget sih. Karena badan kurang tinggi, mereka bela-belain 'bahu membahu' dalam artian yang sebenarnya. Hahahahah! Sumpah lucu banget, dan salut luar biasa. Terutama yang rela dinaikin bahunya, saya lupa itu siapa. Wajahnya pun tak kelihatan, padahal mau saya tulis di blog. Sungguh pahlawan tanpa tanda jasa! hahaha. Kalo yang naik di bahu si hero sih itu kayaknya Robert deh. Dia semangat banget buat menuliskan jawaban. Ceritanya, papan tulis saya bagi dua kolom. Masing-masing kolom untuk satu kelompok, berlomba-lomba menuliskan jawaban dari pertanyaan yang saya berikan. Begitu lah semangat mereka. Penuh keceriaan. Belajar bersama mereka mesti pake teknik bermain sambil belajar. Dengan mereka, saya semakin bersemangat menjadi guru yang baik. :)

Foto dibawah ini adalah foto yang kami ambil selepas kegiatan lomba MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran). Nama Tini salah tulis tuh! Kak Mamer yang tulis, maklum dia belum bersihin kuping selama dua bulan jadi pas Tini sebut,"Riantini" ketika ditanya nama sama Kak Mamer, Kak Mamer degernya "Nantini". Hihihihi. Yang baju oren itu Rugaya Mayor, dan yang ungu itu Faradiba. Kalo yang jilbab putih itu namanya Rindi.

Salma dan Sukron lucu banget banget banget! Apalgi dengan kostum jas almamater UGM yang jelas kedodoran buat mereka. Hahaha
Anak-anak habis bikin bintang cita-cita dengan Kak Indah dan dengan bangga mengacungkannya,"Kakak!! Ini Bintang Cita-Cita kami!!!!"
^______^